Selasa, 27 Maret 2012

Syekh Yusuf Al-Makassari, Ulama dan Sufi dari Makassar (3)

REPUBLIKA.CO.ID, Masih di Yaman, Syekh Yusuf kembali belajar ke pada Syekh Maulana Sayid Ali, dan diberikan ijazah Tarekat Al-Baawalawiyah.

Selanjutnya, dia menunaikan ibadah haji di Makkah. Selesai berhaji, ia pergi ke Madinah dan belajar pada Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin Al-Kurdi Al-Kaurani.

Dari Syekh ini diterimanya ijazah Tarekat Syattariyah. Belum juga puas dengan ilmu yang didapat, Syekh Yusuf pergi ke negeri Syam (Damaskus) menemui Syekh Abu Al-Barakat Ayyub Al-Khalwati Al-Qurasyi. Ia diberikan ijazah Tarekat Khalwatiyah.

Dari sekian banyak tarekat yang ia dapatkan, hal ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Syekh Yusuf. Tak heran, bila kemudian dia sangat ahli dalam bidang tasawuf.

Karena itu, dalam lontar versi Gowa disebutkan akan kedalaman ilmu yang dimilikinya. Penguasaan ilmu yang dimiliki Syekh Yusuf bagaikan "Tamparang tenaya sandakanna" (langit yang tak dapat diduga), "Langik tenaya birinna" (langit yang tak berpinggir), dan "kappalak tenaya gulinna" (kapal yang tak berkemudi).

Kedalaman ilmu pengetahuan yang dimilikinya, terutama dalam bidang tasawuf ini, membuat Syekh Yusuf senantiasa berhati-hati dalam berperilaku. Disebutkan, Syekh Yusuf senantiasa mempraktikkan ilmu tasawuf dalam hidupnya.

Dalam hidup, Syekh Yusuf menekankan pentingnya bagi setiap Muslim untuk menempuh jalan kesucian batin dari segala perbuatan maksiat dengan segala bentuknya. Dorongan berbuat maksiat, menurutnya, dipengaruhi oleh kecenderungan untuk mengikuti keinginan hawa nafsu, yaitu keinginan memperoleh kemewahan dan kenikmatan dunia.

Hawa nafsu itulah yang menjadi sebab utama dari segala perilaku yang buruk. Tahap pertama yang harus ditempuh oleh seorang murid (salik) adalah mengosongkan diri dari sikap dan perilaku yang menunjukkan kemewahan duniawi.

Syekh Yusuf juga dikenal sebagai ulama yang sangat moderat. Dalam mengajarkan proses penyucian batin kepada murid-muridnya, dia tidak menginginkan murid-muridnya meninggalkan seluruh urusan dunia dan hanya mengejar urusan akhirat.

Menurut Syekh Yusuf, kehidupan dunia ini bukanlah harus ditinggalkan dan hawa nafsu harus dimatikan sama sekali. Melainkan hidup ini harus dimanfaatkan guna menuju Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus dikuasai melalui tata tertib hidup, disiplin diri dan penguasaan diri atas dasar orientasi ketuhanan yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia.

Hidup, dalam pandangan Syekh Yusuf, bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi. Namun, kehidupan ini harus diilhami dengan cita-cita dan tujuan hidup untuk menuju ridha Allah SWT. Menurutnya, Allah SWT adalah inti dari orientasi dan tujuan hidup seorang Muslim. Sedangkan dunia ini menjadi jalannya.