Senin, 15 April 2013

Kisah Margonda dan Tole Iskandar

Ketika 1976 saya pindah dari Tanah Abang ke Depok, banyak kawan dan kerabat   mengolok-ngolok. “Ngapain tinggal di tempat jin buang anak,” demikian olok-olok mereka. Tahun tersebut saat Presiden Soeharto meresmikan Perumahan Nasional (Perumnas) I (Depok Tengah dan Depok Utara) dan Perumnas II  (Depok Timur) yang diperuntukkan untuk golongan kurang mampu. Saat peresmian Perumnas,  Pak Harto sempat naik KRL sekaligus meresmikannya.   

Olok-olok ini ada benarnya. Depok yang terus berkembang dengan penduduk melebihi satu juta jiwa, saat itu merupakan pedesaan. Saat saya baru pindah, penduduknya tidak melebihi sepuluh ribu jiwa. Kami kerap mengalami kesulitan saat hendak ke Jakarta dan pulang kembali ke Depok. Karena penumpang masih jarang, angkutan umum harus ngetem cukup lama. Jalan Margonda yang sekarang menjadi jalan utama di Depok masih berupa kebun singkong yang luas, selain juga kebun jambu. Pada 1980-an, terjadi wabah ulat yang mengakibatkan pohon-pohon jambu batu dari Pasar Minggu hingga Depok gagal panen. Peristiwa cukup menghebohkan karena para petani mengalami kerugian.

Baik di Depok I maupun Depok II Timur punya jalan utama, yakni Jalan Margonda dan Jalan Tole Iskandar. Kedua nama ini tidak dapat dipisahkan dari perjuangan rakyat Depok pada masa revolusi fisik melawan penjajah Belanda. Pada tanggal 16 Juni 1946, Depok diserang secara besar-besaran oleh tentara gabungan Inggris dan Belanda.

Pada waktu itu, telah berdiri TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang sebelumnya bernama BKR (Barisan Keamanan Rakyat). Pada 15 Oktober 1945, di Bogor dibentuk BKR resimen II membawahi empat batalion, yaitu Batalion I Depok, Batalion II Leuwiliang, Batalion III Cilengsi, dan Batalion IV Kota Bogor.

Laskar Rakyat Depok (kelompok 21) yang dipimpin oleh Tole Iskandar langsung meleburkan diri ke dalam Batalion I Depok. Setelah batalion masuk di Depok, berpuluh-puluh pemuda Islam setempat mendaftarkan diri menjadi TKR. Mereka berkali-kali menyerang pasukan Inggris di Pasar Minggu dan markas mereka di pabrik Sepatu Bata Jalan Kalibata Raya.

Saat terjadi pertempuran dengan tentara Belanda di perkebunan Cikasindu, Tole Iskandar gugur setelah sebelumnya melakukan penyerbuan di Bojonggede, melawan pasukan Gurkha di di Citayam dan Pabuaran. Begitu hebatnya perjuangan Tole Iskandar, hingga ketika ia gugur merupakan pukulan berat bagi rekan-rekannya yang bertahun-tahun berjuang bersama.

Margonda yang namanya diabadikan nama jalan utama Depok dari Pondok Cina hingga pusat grosir Internation Trade Center (ITC) melewati balaikota Depok juga merupakan nama seorang pejuang kemerdekaan yang tewas ketika pasukannya menyerang tentara Inggris di Kalibata. Ia syahid bersama rekannya Sutomo. Pada waktu revolusi fisik, Margonda masuk anggota BKR di Bogor. Setelah mengikuti pendidikan kemiliteran secara singkat, ia dimasukkan ke Batalion Kota Bogor dengan pangkat letnan muda. Dari Bogor, ia naik kereta api dan bergabung dengan pasukan Batalion I di Depok. Ketika gugur di Kalibata, Jakarta Selatan, bersama rekannya Sutomo mayatnya dibawa ke Bogor tempat  kelahirannya. Keduanya dimakamkan di depan stasiun Bogor. Makam keduanya kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Dreded, Bogor.

Margonda lahir dan besar di Bogor, ia dan keluarganya tinggal di Jalan Ardio Bogor. Waktu masih sekolah, Margonda terkenal sebagai atlet berprestasi. Nama aslinya adalah Margana. Dia menikah dengan keponakan MS Mintaredja yang pernah menjadi menteri Sosial dalam kabinet Pak Harto sekaligus ketua umum Partai Persatuan Pembangunan. Untuk mengenang jasa dan keberanian mereka, Margonda dan Tole Iskandar memang pantas diabadikan untuk jalan utama Kota Depok.

Jika mengenang jasa dan keberani an mereka, Margonda dan Tole Iskandar memang pantas diabadikan untuk jalan utama Kota Depok. Meski kini jalan itu semakin padat dan tak ramah bagi penyeberang jalan.

Sumber: www.republika.co.id