Minggu, 07 Februari 2010

KONSEP ISLAM SEBAGAI AGAMA WAHYU

Oleh: H. Adian Husaini, MA

Keimanan kepada Nabi Muhammad saw

Bagi umat Islam, beriman kepada Nabi Muhammad saw merupakan bagian dari rukun iman (beriman kepada para nabi) dan sekaligus rukun Islam (membaca dua kalimah syahadat). Dengan tegas dikatakan, seseorang tidak dapat dikatakan sebagai mukmin atau muslim, jika dia tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw. Imam alNawawi dalam Kitab haditsnya yang terkenal, alArba’in alNawawiyah, menyebutkan definisi Islam pada hadits kedua:

Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika engkau berkemampuan melaksanakannya.” (HR Muslim).

Pada hadits ketiga juga disebutkan, bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda:

Islam ditegakkan di atas lima hal: persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, penegakan shalat, penunaian zakat, pelaksanaan haji ke Baitullah, dan shaum Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Karena itu, tidak ada Islam jika tidak ada keimanan terhadap kenabian Muhammad saw. Keimanan kepada Nabi Muhammad saw adalah kunci bagi seluruh keimanan yang lain. Sebab, Allah menurunkan wahyuNya, yakni Al Qur’an, melalui para utusanNya. Dan Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah yang terakhir, la nabiyya ba’dahu, tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad saw. Dalam Al Qur’an dikatakan, tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. (QS 51:56). Adalah Nabi Muhammad saw yang mengenalkan kepada kita, siapa Tuhan kita dan bagaimana cara beribadah kepadaNya. Melalui Nabi Muhammad saw kita memahami wahyu Allah tersebut. Nabi Muhammad lah yang menjelaskan kepada kita bagaimana kita shalat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya. Karena itulah, keimanan kepada Nabi Muhammad saw adalah kunci atau pintu masuk dari seluruh aspek keimanan dalam Islam. Kita tidak dapat mengenal nama Allah, sifatsifatNya, dan cara menyembahNya dengan benar, kecuali melalui utusanNya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Maka, syahadat Islam berbunyi: ”Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Tanpa beriman kepada Nabi Muhammad saw dan wahyu yang dibawanya, melalui manusia palingpaling hanya sampai menjadi deis, mengakui adanya Tuhan, mengakui bahwa Tuhan itu satu! Tetapi, manusia tidak akan pernah bisa mengenal siapa Tuhan itu, siapa Dia, siapa NamaNya, bagaimana sifatsifatNya, dan bagaimana cara manusia menyembahNya. Oleh sebab itu, dalam dakwahNya ke seluruh penjuru dunia, Nabi Muhammad saw senantiasa mengajak manusia untuk masuk Islam, memeluk agama Islam, dengan mengakuinya sebagai utusan Allah. ”Akuilah, bahwa aku ini adalah utusan Allah,” kata Nabi saw kepada umat manusia. Sebab, memang tidak mungkin manusia bisa mengenal dan menyembah Allah dengan benar, kecuali dengan mengakui dan mengimani Muhammad saw sebagai utusan Allah SWT.

Islam: satusatunya agama wahyu/samawi

Setelah wahyu Allah SWT sempurna diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, maka Allah menegaskan, bahwa ”Pada Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku cukupkan bagimu nikmatKu, dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS 5:3).

Ayat ini secara tegas menyebutkan, bahwa ”Islam” adalah agama yang diridhai oleh Allah. Dan kata ”Islam” dalam ayat ini adalah menunjuk kepada nama agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan, secara tegas, nama agama ini diberi nama ”Islam” setelah sempurna diturunkan oleh Allah kepada NabiNya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad saw. Para pengikut nabinabi sebelumnya diberi sebutan sebagai ”muslimun”, tetapi nama agama para nabi sebelumnya, tidak secara tegas diberi nama ”Islam”, sebagaimana agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Meskipun, semua agama yang dibawa oleh para nabi mengandung inti ajaran yang sama, yakni ajaran Tauhid. Namun, agama-agama para nabi sebelumnya, saat ini sudah sulit dipastikan keotentikannya, karena sudah mengalami tahrif (perubahanperubahan) dari pemeluknya. Karena itulah, harusnya pengikut para nabi sebelumnya, seperti kaum Yahudi dan Nasrani, juga mengimani Muhammad sebagai nabi Allah SWT, sehingga mereka dapat mengenal Allah dan memahami bagaimana cara beribadah kepada Allah SWT. Rasulullah saw bersabda:

Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim)

Nabi Muhammad saw juga mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non muslim antara lain Kaisar Heraklius, raja Romawi yang beragama Nasrani, al Najasyi raja Abesenia yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang beragama Majusi, di mana Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam. ( Riwayat Ibn Sa`d dalam al Thabaqat al Kubra dan Imam al Bukhari dalam Shahih Bukhari ).

Karena Islam memelihara kontinuitas wahyu mulai Nabi Adam a.s. sampai dengan Nabi Muhammad saw, maka Islam adalah satusatunya agama yang diturunkan Allah SWT kepada umat manusia. Karena itu, Islam bisa dikatakan sebagai satusatunya agama wahyu ( revealed religion). Ini bisa dilihat dari berbagai indikator:

Pertama, diantara agama-agama yang ada, hanya Islamlah yang namanya secara khusus disebutkan dalam Kitab Sucinya. Nama agama-agama selain Islam diberikan oleh para pengamat keagamaan atau oleh manusia, seperti agama Yahudi (Judaisme), agama Katolik (Katolikisme), agama Protestan (Protestantisme), agama Budha (Budhisme), agama Hindu (Hinduisme), agama Konghucu (Konfusianisme), dan sebagainya. Sedangkan Islam tidaklah demikian. Nama Islam, sebagai nama sebuah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhamamd saw, sudah disebutkan ada dalam aQuran:

" Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam." (QS 3:19).

"Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan akan diterima dan di akhirat nanti akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS 3:85).

Kepada orang-orang kafir, kaum Muslim juga diperintahkan untuk mengungkapkan:

" Lakum dinukum waliya din", bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Katakata "Islam" dalam ayat-ayat tersebut menunjuk kepada satu nama agama tertentu, dan bukannya sebuah sebutan untuk satu sikap pasrah kepada Tuhan ( submission to God). Selama ratusan tahun, kaum Muslim tidak pernah mempersoalkan, bahwa Islam adalah nama sebuah agama yang dibawa nabi Muhammas saw. Istilah 'Islam' meskipun secara bahasa berarti "pasrah " bukan berarti Islam hanya diartikan sebagai "sikap pasrah kepada Tuhan semata", tanpa melihat cara pasrah kepada Tuhan. Karena Islam adalah nama sebuah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, maka Islam juga mengajarkan "cara pasrah" yang benar kepada Allah SWT. Cara pasrah, atau cara ibadah, tidak boleh dikarang-karang oleh manusia. Tetapi, menurut Islam, cara ibadah haruslah sesuai dengan yang diajarkan oleh Allah SWT yang disampaikan melalui utusanNya, yaitu Nabi Muhammad saw.

Kedua, dalam soal nama dan konsep Tuhan. Sebagaimana konsep Islamic worldview yang ditandai dengan karakteristiknya yang otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, menurut Prof. Naquib al Attas[1] juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam Al Qur’an yang juga bersifat otentik dan final. Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain, tidak sama dengan konsep Tuhan dalam tradisi filsafat Yunani; tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat modern[2] atau pun dalam tradisi mistik Barat dan Timur.[3]Agama Hindu, disamping memiliki konsep ketuhanan yang khas. Tentang Hindu, Alain Danielou, menulis dalam bukunya, Gods of India: Hindu Polytheism, (Neww York: Inner Traditions International, 1985): "Hinduism, or rather the "eternal religion" (sanata dharma), as it calls irself, recognizes for each age and each country a new form of revelation and for each man, according to his stage of development, a different path of realization, a different of worship, a different morality, different rituals, different gods." (hal. x). Kaum Hindu Bali menyebut Bait pertama dalam Aqidah Thahawiyah yang ditulis oleh Abu Ja'far athThahawi (239321H), dan disandarkan pada Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Syaibani, menyatakan: " Naquulu fii tawqiidillaahi mu'taqidiina – bitawfiqillaahi: Innallaaha waahidun laa syariikalahu."

Dalam Kitab Aqidatul Awam – yang biasa di madrasah-madrasah Ibtidaiyah ditulis bait pertama kitab ini: "Abda'u bismillaahi waarrahmaani wa biarahiimi daa'imil ihsani." Ayat pertama dalam Al Qur’an juga berbunyi " Bismillahirrahmaanirrahiimi ", dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz 'Allah' dibaca dengan bacaan yang tertentu. Kata "Allah" tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana bacaan-bacaan ayat-ayat dalam Al Qur’an.[4] Dengan adanya ilmul qiraat yang berdasarkan pada sanad – yang sampai pada Rasulullah saw maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah. Dengan demikian, "nama Tuhan", yakni "Allah" juga bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan 'spekulasi filosofis' untuk menyebut nama Allah[5], Tuhan Yang Maha Esa sebagai "Ida Sang Hyang Widhi Wasa", sedangkan kaum Hindu India lebih suka menyebut "Brahman".

Spekulasi Yahudi tentang nama Tuhan ini kemudian berdampak pada konsepsi Kristen tentang nama Tuhan yang beragam, sesuai dengan tradisi dan budaya setempat. Di Timur Tengah, kaum Kristen menyebut "Alloh" sama dengan orang Islam; di Indonesia melafazkan nama Tuhannya menjadi "Allah"; dan di Barat kaum Kristen menyebut Tuhan mereka dengan "God" atau "Lord". Ini juga yang kemudian dibawa dalam berbagai terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Inggris. Karena tidak memiliki tradisi sanad dan adanya problem otentisitas Kitab Sucinya, maka kaum Yahudi tidak tahu dengan pasti bagaimana cara melafazkan nama Tuhannya yang semuanya tertulis dalam empat huruf mati 'YHWH'. Tentang problem otentisitas Kitab Suci Yahudi – yang juga dijadikan oleh kaum Kristen sebagai Perjanjian Lamanya Th. C. Vriezen menulis: “Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah kembali oleh penyadur). Proses penyaduran turun-temurun itu ada untung ruginya. Salah satu keuntungannya ialah bahwa sumber-sumber kuno itu dipertahankan dan tidak hilang atau terlupakan. Namun, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT – melalui Al Qur’an, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw. Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri ( proper name) dari Dzat Yang Maha Kuasa[6], yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifa-tsifat Allah dan nama-namaNya pun sudah dijelaskan dalam Al Qur’an, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada terjadinya spekulasi akal dalam masalah ini. Tuhan orang Islam adalah jelas, yakni Allah, yang SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. (QS 112). Dan syahadat Islam pun begitu jelas: " La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah" Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah". Syahadat Islam ini juga bersifat final dan tidak mengalami perubahan sejak zaman Rasulullah saw sampai Hari Kiamat.

Kaum Muslim di seluruh dunia – dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda – juga menyebut dan mengucapkan nama Allah dengan cara yang sama.[7] Karena itu, umat Islam praktis tidak mengalami perbedaan yang mendasar dalam masalah konsep 'Tuhan'. Karen Armstrong menulis dalam bukunya: "Al Qur’an sangat mewaspadai spekulasi teologis, mengesampingkannya sebagai zhanna, yaitu menduga-duga tentang sesuatu yang tak mungkin diketahui atau dibuktikan oleh siapa pun. Doktrin Kristen tentang Inkarnasi dan Trinitas tampaknya merupakan contoh pertama zhanna dan tidak mengherankan jika umat Muslim memandang ajaran-ajaran itu sebagai penghujatan."[8]

Konsep Tuhan dalam 'Pluralisme Agama'

Majelis Ulama Indonesia, pada tahun 2005 telah resmi mengeluarkan fatwa, bahwa paham Pluralisme Agama adalah bertentangan dengan Islam dan haram bagi umat Islam memeluknya. Pluralisme Agama didasarkan pada satu asumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Tuhan – siapa pun ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan.” (Th.C.Vriezen ,Agama Israel Kuno, (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 2001), hal. 7. Richard Elliot Friedman juga menulis: “It is a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization… Five Book of Moses… It is one of the oldest puzzles in the world ) Richard Elliot Friedman ,Who Wrote the Bible, (New York: Perennial Library, 1989) namaNya – tidak menjadi masalah. Tokoh Pluralis Agama, Prof. John Hick, lebih suka menyebutnya "The Eternal One". Tuhan inilah yang menjadi tujuan dari semua agama. Seorang tokoh Yahudi, Claude Goldsmid Montefiore, dalam The Jewish Quarterly Review, tahun 1895, menulis: "Many pathways may all lead Godward, and the world is richer for that the paths are not new."[9]

Bagi kaum Pluralis – seperti disebutkan dalam makalah Pengantar Kuliah Umum – siapa pun nama Tuhan tidak menjadi masalah, karena mereka memandang, agama adalah bagian dari ekspresi budaya manusia yang sifatnya relatif. Karena itu, tidak manjadi masalah, apakah Tuhan disebut Allah, God, Lord, Yahweh, dan sebagainya. Mereka juga mengatakan, bahwa semua ritual dalam agama adalah menuju Tuhan yang satu, siapa pun namaNya. Nurcholish Madjid, misalnya, menyatakan, bahwa: "... setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama."[10] Dr. Jalaluddin Rakhmat juga menulis: “Semua agama itu kembali kepada Allah. Islam, Hindu, Budha, Nasrani, Yahudi, kembalinya kepada Allah. Adalah tugas dan wewenang Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama. Kita tidak boleh mengambil alih Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara apa pun, termasuk dengan fatwa.”[11]

Pandangan yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah, adalah pandangan yang keliru. Hingga kini, sebagaimana dipaparkan sebelumnya, di kalangan Kristen saja, muncul perdebatan sengit tentang penggunaan lafal "Allah" sebagai nama Tuhan. Sebagaimana kaum Yahudi, kaum Kristen sekarang juga tidak memiliki 'nama Tuhan' secara khusus.[12] Kaum Hindu, Budha, dan pemeluk agama-agama lain juga tidak mau menggunakan lafaz "Allah" sebagai nama Tuhan mereka. Kaum musyrik dan Kristen Arab memang menyebut nama Tuhan mereka dengan "Allah" sama dengan orang Islam. Nama itu juga kemudian digunakan oleh Al Qur’an.[13] Tetapi, perlu dicatat, bahwa Al Qur’an menggunakan kata yang sama namun dengan konsep yang berbeda. Bagi kaum musyrik Arab, Allah adalah salah satu dari Tuhan mereka, disamping tuhan Lata, Uza, Hubal, dan sebagainya. Karena itu, mereka melakukan tindakan syirik. Sama dengan kaum Kristen, yang dalam pandangan Islam, telah melakukan tindakan syirik dengan mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan. Karena itulah, Nabi Muhammad saw – sesuai dengan ketentuan QS alKafirun – menolak ajakan kaum musyrik Quraisy untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan masingmasing secara bergantian. Jadi, tidak bisa dikatakan, bahwa orang Islam menyembah Tuhan yang sama dengan kaum kafir Quraisy. Jika menyembah Tuhan yang sama, tentulah Nabi Muhammad saw akan memenuhi ajakan kafir Quraisy. "Katakan, hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi peyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." (QS 109). QS alKafirun ini menjadi dalil bahwa karena konsep Tuhan yang berbeda – meskipun namanya sama, yaitu Allah dan cara beribadah yang tidak sama pula, maka tidak bisa dikatakan bahwa kaum Muslim dan kaum kafir Quraisy menyambah Tuhan yang sama. Itu juga menunjukkan, bahwa konsep Tuhan kaum Quraisy dipandang salah oleh Allah dan RasulNya.

Begitu juga cara (jalan) penyembahan kepada Allah. Karena itulah, nabi Muhammad dilarang mengikuti ajakan kaum kafir Quraisy untuk secara bergantian menyembah Tuhan masing-masing. Argumentasi kaum Pluralis Agama bahwa "semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama" – jelas-jelas juga pendapat yang bathil. Jika semua jalan adalah benar, maka tidak perlu Allah memerintahkan kaum Muslim untuk berdoa " Ihdinash shirathal mustaqim!" (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus!). Jelas, dalam surat alFatihah disebutkan, ada jalan yang lurus dan ada jalan yang tidak lurus, yaitu jalannya orang-orang yang dimurkai Allah dan jalannya orang-orang yang tersesat. Jadi, tidak semua jalan adalah lurus dan benar. Ada jalan yang bengkok dan jalan yang sesat.[14] Lagi pula, jumlah agama di dunia ini begitu banyak, ribuan jumlahnya. Agama yang manakah yang dimaksud oleh kaum Pluralis itu sebagai agama yang benar? Apakah kaum Muslim yang beriman kepada Allah dan RasulNya bisa membenarkan semua agama benar termasuk agama Gatholoco dan Darmogandhul yang jelas-jelas melakukan pelecahan terhadap Allah dan Nabi Muhammad saw? Perkataan "semua agama benar" atau "semuanya benar" juga tidak secara konsisten diikuti oleh penganjur paham Pluralisme Agama, karena pada saat yang sama, mereka juga merasa benar sendiri, dan menyalahkan para pemeluk agama yang meyakini kebenaran agamanya masingmasing.

Tantangan iman

Setiap orang yang mengaku beriman, pasti diuji oleh Allah. Ada yang lulus ujian iman, ada juga yang gagal. Yang gagal berarti batal imannya, alias murtad. (QS 29:23). Dalam Kitab Sullamut Tawfiq – yang biasa dikaji di madrasah Ibtidaiyah dan Pondok-pondok pesantren, disebutkan, bahwa adalah kewajiban setiap Muslim untuk menjaga Islamnya dari hal-hal yang membatalkannya, yakni murtad ( riddah). Dijelaskan juga dalam Kitab ini, bahwa ada tiga jenis riddah, yaitu murtad dengan I’tiqad, murtad dengan lisan, dan murtad dengan perbuatan. Contoh murtad dari segi I’tiqad, misalnya, ragu-ragu terhadap wujud Allah, atau ragu terhadap Nabi Muhammad saw, atau ragu terhadap Al Qur’an, atau ragu terhadap Hari Akhir, sorga, neraka, pahala, siksa, dan sejenisnya.[15] Seperti disebutkan sebelumnya, Ulama India Syekh Abul Hasan Ali an Nadwi menyebutkan, bahwa tantangan terbesar yang dihadapi oleh umat Islam saat ini, sepeninggal Rasulullah saw, adalah tantangan yang diakibatkan oleh peradaban Barat, yang materialis, sekular dan liberal.[16] Sebab, tantangan ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar dalam pandangan Islam, yaitu masalah iman dan kemurtadan. Dalam pandangan Islam, murtad (batalnya keimanan) seseorang, bukanlah hal yang kecil. Jika iman batal, maka hilanglah pondasi keislamannya. Banyak ayat Al Qur’an yang menyebutkan bahaya dan resiko pemurtadan bagi seorang Muslim.

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang siasia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (alBaqarah: 217).

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amalamal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya.” (anNur: 39).

Dalam kondisi seperti ini, dimana virus-virus perusak aqidah – seperti paham Pluralisme Agama yang jelas-jelas merupakan paham syirik bergentayangan secara bebas, maka tidak ada jalan lain bagi setiap Muslim untuk membentengi imannya dan keluarganya, kecuali dengan meningkatkan keilmuan Islam yang kokoh sehingga mampu menangkal serangan berbagai virus aqidah yang kini bergentayangan bebas di sekeliling kita. Wallahu a’lam.


[1] Syed Muhammad Naquib alAttas, Prolegomena to the Metaphysic of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), hal. 37

[2] Prof. Frans Magnis Suseno, guru besar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, merangkum tantangan modernitas terhadap keimanan dan 'konsep Tuhan ' agama-agama: "Modernitas sebagaimana menjadi kenyataan di Eropa sejak abad ke17 mulai meragukan ketuhanan. Reformasi Protestan abad ke16 sudah menolak banyak klaim Gereja. Dalam abad ke17 empirisisme menuntut agar segala pengetahuan mendasarkan diri pada pengalaman inderawi. Pada akhir abad ke18 muncul filosoffilosof

materialis pertama yang mengembalikan keanekaan bentuk kehidupan, termasuk manusia, pada materi dan menolak alam adiduniawi. Dalam abad ke19 dasar-dasar ateisme filosofis dirumuskan oleh Feurbach, Marx, Nietzsce, dan dari sudut psikologi, Freud. Pada saat yang sama ilmu-ilmu pengetahuan mencapai kemajuan demi kemajuan. Pengetahuan ilmiah dianggap harus menggantikan kepercayaan akan Tuhan. Akhirnya, di abad ke20, filsafat untuk sebagian besar menyangkal kemungkinan mengetahui sesuatu tentang hal ketuhanan, sedangkan dalam masyarakat sendiri ketuhanan semakin tersingkir oleh keasyikan budaya konsumistik. Sebagai akibat, manusia modern menjadi skeptis tentang ketuhanan kalau ia tidak menyangkalnya sama sekali. Maka apabila seseorang, atau sekelompok orang, tetap yakin

akan adanya Tuhan, mereka mau tak mau harus menghadapi tantangan skeptisisme modernitas itu." (Lihat, Frans Magnis Suseno, Menalar Tuhan, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hal. 4445.

[3] Dalam konsep agama Budha, misalnya, seorang Buddhis memiliki enam keyakinan yang disebut Sadsaddha, yang terdiri dari keyakinan tentang adanya: (1) Tuhan Yang Maha Esa (2) Tri Ratna (3) Bodhisattva, Arahat dan para Buddha, (4) Hukum Kasunyatan (5) Kitab Suci Tri Pitaka, dan (6) Nirvana. Buddha tidak menyebut nama Tuhannya dengan sebutan tertentu. Tentang "Tuhan Yang Maha Esa" tidak dijelaskan namaNya secara khusus. Dalam buku Be Buddhist Be Happy, misalnya, ditulis: "Seorang umat Buddha meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan sbeutan: "Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkatam", yang artinya: Sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, Yang Mutlak. Tuhan Yang Maha Esa di dalam agama Buddha adalah Anatman (Tanpa Aku), suatu yang tidak berpribadi, suatu yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Hal ini diungkapkan dalam Kitab Suci Udana VIII ayat 3. Seorang Buddhis meyakini Tuhan Yang Maha Esa sebagai yang mendasari kehidupan dan alam semesta, dan juga sebagai tujuan atau cita-citanya yang tertinggi atau tujuan hidup akhirnya, yakni yang akan dipahami sepenuhnya bila telah tercapai Nirvana." (Lihat, Jo Priastana, Be Buddhist Be Happy, (Jakarta: Yasodhara Puteri Jakarta, 2005), hal. 2829.

[4] Salah satu syarat qiraah yang sahih dalam Al Qur’an adalah bahwa bacaan itu harus ditetapkan berdasarkan sanad yang mutawatir atau shahih, bukan berdasarkan spekulasi akal. Qiraat ditetapkan berdasarkan sanad-sanadnya sampai kepada Rasulullah saw. Karena itu, ketika bertemu dengan huruf Alif Lam Lam ha (Allah), orang Islam pasti akan membaca dengan "Alloh", bukan "Allah". Ketika bertemu dengan huruf Alif Lam Mim, maka akan dibaca dengan "Alif Lam Mim" dengan panjang pendek tertentu. Tentang ilmul Qiraat bisa dilihat dalam berbagai Kitab Ulumul Qur'an. Ali AsShabuni, misalnya, menulis bahwa qiraat "tsabitatun bi asanidiha ila Rasulillahi shallallahu 'alaihi wa sallam". (Lihat, Muhammad Ali asShabuni, atTibyan fi Ulumil Quran, (Beirut: Darul Irsyad, 1970), hal. 249). Tradisi Islam dalam qiraat berdasarkan sanad ini sangat menarik jika dibandingkan dengan tradisi Yahudi-Kristen yang tidak mengenal 'sanad' sehingga mereka kehilangan jejak untuk menentukan bagaimana membaca satu manuskrip, termasuk dalam mengucapkan nama Tuhannya.

[5] Spekulasi tentang nama Tuhan dilakukan oleh kaum Yahudi. Dalam konsep Judaism (agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah Yahweh. The Concise Oxford Dictionary of World Religions menjelaskan 'Yahweh' sebagai "The God of Judaism as thetetragrammaton YHWH, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated ,least of all in the Jewish liturgy." (Lihat, John Bowker (ed), The Concise Oxford Dictionary of World Religions, (Oxford University Press, 2000).

Dr. D. L. Baker, menulis, bahwa "kata nama yang paling penting dalam PL ialahהוהי (yhwh), nama Allah Israel, yang ditemukan kurang lebih 6823 kali dalam PL. Nama tsb mungkin dulu diucapkan “Yahweh”, tetapi menurut tradisi Yahudi , nama yang Mahasuci itu tidak boleh diucapkan untuk menghindari kemungkinan pelanggaran perintah ketiga (“Jangan menyebut nama הוהי , Allahmu ,dengan sembarangan…” (Kel, 20:7). Oleh sebab itu , setiap kali terdapat kata הוהי dalam Alkitab, orang Yahudi membacanya dengan kata ינדא ) adonay ( ‘ Tuhan ’ . ” ) (Dr. D.L. Baker et.al . , Pengantar Bahasa Ibrani ,Jakarta: BPK, 2004), hal. 52.)

[6] Karena dalam konsep Islam Allah adalah nama diri dari Dzat Yang Maha Kuasa, maka seharusnya, lafaz Allah dalam Al Qur’an tidak diterjemahkan ke dalam sebutan lain, baik diterjemahkan dengan "Tuhan", "God", atau "Lord". Beberapa terjemahan Al Qur’an bahasa Inggris telah menerjemahkan lafaz Allah menjadi God. Misalnya, Abdullah Yusuf Ali – dalam The Holy Qur'an menerjemahkan "Bismillah" dengan "In the name of God". Begitu juga, "Alhamdulillah" diterjemahkan dengan "Praise be to God", dan "Qul Huwallahu ahad" diterjemahkan dengan "Say: He is God, the One and Only", juga ayat " Innaniy Anallahu La ilaha illa Ana fa'budniy wa aqimish shalata li dzikriy" juga diterjemahkan "Verily, I am God: there is no god but I; so serve thou Me (only) and establish regular prayer for celebrating My praise." (QS 20:14).

[7] Bandingkan konsep dan teks syahadat Islam ini dengan syahadat Katolik: “Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa, melalui dia segala sesuatu menjadi ada…” Syahadat ini mengalami perubahan dari waktu ke waktu. (Norman P. Tunner, Konsilikonsili Gereja, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hal. 3637)

[8] Karen Armstrong, Sejarah Tuhan (Terj), (Bandung: Mizan, 2001), hal. 199-200.

[9] John Hick, God Has Many Names, (Pennsylvania: The Westminter Press, 1982), hal. 4045.

[10] Lihat, buku Tiga Agama Satu Tuhan, (Bandung: Mizan, 1999), hal. xix.

[11] Jalaluddin Rakhmat, Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan, (Jakarta: Serambi, 2006), hal. 34.

[12] Masalah nama Tuhan dalam Kristen merupakan satu masalah yang cukup rumit. Berbeda dengan konsep Islam, dimana Allah adalah 'sebuah nama', kaum Kristen di Indonesia masih memperdebatkan soal nama Tuhan mereka. Di Arab, kaum Kristen ada yang menyebut Tuhan mereka dengan sebutan 'Alloh', sama dengan orang Islam. Di Indonesia menyebut 'Allah'. Di Barat menyebut God atau Lord. Di Indonesia, kini muncul aliran Kristen yang menolak penggunaan nama Allah dan menggantinya dengan Yahweh. Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang menemakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM) yang melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah. Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). Kelompok ini mengatakan: "Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi bumi. Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.'' Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat dan Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000. Kitab Bibel versi BYH ini mengganti kata "Allah" menjadi "Eloim", kata "TUHAN" diganti menjadi "YAHWE"; kata "Yesus" diganti

dengan "Yesua", dan "Yesus Kristus" diubah menjadi "Yesua Hamasiah". Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya "Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh" yang menerbitkan Bibel sendiri dengan nama "Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini". Kelompok ini menegaskan, "Akhirnya nama "Allah" tidak dapat dipertahankan lagi." (Tentang kontroversi penggunaan nama Allah dalam Kristen lihat I.J. Setyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005); juga Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005, cetakan ke3).

[13] Al Qur’an memang menyebutkan, jika kaum musyrik Arab ditanya tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka akan menyebut "Allah". (Lihat QS 29:61, 43:87). Karen Armstrong menyebut, ketika Islam datang, 'Allah' dianggap sebagai 'Tuhan Tertinggi dala keyakinan Arab kuno'. (Lihat, Karen Armstrong, op cit, hal. 190).

[14] Dalam Sunan Tirmidzi bab Tafsir Al Qur’an 'an Rasulillah hadits No. 2878 dan Musnad Imam Ahmad hadits No 18572 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan "almaghdhub" adalah "alyahuud" dan "aldhallin" adalah "alnashara".

[15] Lihat Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim, Sullamut Tawfiq, (cetakan Toha Putra, Semarang, tanpa tahun), hal. 56.

[16] Abul Hasan Ali anNadwi, menyatakan, gelombang modernisme peradaban Barat ke dunia Islam, merupakan ancaman terbesar dalam bidang pemikiran dan keimanan. Dia mengungkapkan: “… di saat sekarang ini selama beberapa waktu dunia Islam telah dihadapkan pada ancaman kemurtadan yang menyelimuti bayangbayang di atasnya dari ujung ke ujung…Inilah kemurtadan yang telah melanda muslim Timur pada masa dominasi politik Barat, dan telah menimbulkan tantangan yang paling serius terhadap Islam sejak masa Rasulullah saw…Filsafat materialistis Barat ini tak diragukan lagi adalah “agama” terbesar yang diajarkan di dunia setelah Islam. Ia adalah agama terbesar dipandang dari sudut keluasan bidangnya; agama yang paling mendalam dipandang dari sudut kedalaman tancapan akarnya… bahwa kemurtadan-kemurtadan macam inilah yang pada masa sekarang melanda dunia Islam dari ujung satu ke ujung yang lain. Ia telah melancarkan serangan gencarnya dari rumah ke rumah dan dari keluarga ke keluarga. Sekolah-sekolah dan universitas semua telah dibanjiri dengannya. Hampir

tak ada keluarga yang masih beruntung tak memiliki anggota yang menganut kepercayaan ini. (Abul Hasan Ali AnNadwi, ‘Ancaman Baru dan Pemecahannya’ dalam buku Benturan Barat dengan Islam, (Bandung: Mizan, cetakan ke4,1993), hal. 1319).