Sabtu, 05 Maret 2011

Jebakan Mindset dalam Bisnis!

mindsetSesungguhnya perkara yang halal itu sudah jelas dan perkara yang haram juga sudah jelas. Diantara keduanya adalah hal-hal yang meragukan (syubhat), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa bisa menjaga dirinya dari hal-hal yang syubhat itu, berarti dia telah memelihara agama dan kehormatannya. Sementara barangsiapa yang terjatuh ke dalam hal-hal yang syubhat, berarti dia telah terjatuh ke dalam hal-hal yang haram sebagaimana seorang pengembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, dimana dikhawatirkan hewan gembalaannya merumput ke daerah terlarang itu. Katahuilah bahwa setiap penguasa memiliki wilayah terlarang, dan wilayah terlarang Allah adalah hal-hal yang telah Dia haramkan. (Muttafaqun 'alaih)

Saya pernah beberapa kali mendengar ungkapan dari beberapa kalangan masyarakat yang menyebutkan bahwa, "Mengais rezeki dari Allah yang haram saja sulit, apalagi yang halal!".

Nah Lho, Ada apa ini? Yup, Tanpa disadari hal tersebut seolah-olah sudah me-mind set mereka untuk melakukan cara apapun dalam bekerja atau berdagang (usaha). Yang penting "Asal dapat duit", apapun itu dilakukan, sehingga terjebak dalam praktek-praktek yang bertentangan dengan aturan yang syar'i.

Dalam hadits diatas, Nabi Muhammad SAW secara bijak telah memberikan pesan agar tidak memasuki wilayah terlarang, tentunya hal ini sudah digariskan oleh Allah SWT.

Banyak kasus praktek "ASAL-ASAL-an" ini biasanya disebabkan oleh dua hal, yang pertama yaitu penjualan produk barang atau jasa yang tidak kunjung laku dan diterima di pasaran. Yang kedua adalah ingin segera mendapatkan keuntungan banyak dalam waktu yang relatif singkat. Jadi dalam kaitannya untuk menyelesaikan masalah tersebut dipilihlah jalan singkat yang ternyata bisa menyesatkan diri sendiri dan juga konsumen. Otomatis praktek seperti itu membuat bisnis kita menjadi bisnis yang tidak berkah. Dan kalau tidak berkah, tentunya bisnis tersebut tidak akan langgeng.

Mari kita sedikit menganalisa, produk dan jasa anda tidak laku biasanya dikarenakan karena cara marketing anda. Semisal apabila produk atau jasa anda tidak terlalu baik tapi jika jika marketing anda baik maka produk atau jasa anda akan laku di pasaran. Terlebih apabila produk yang bermutu dikawinkan dengan teknik marketing yang mumpuni. Jawaban yang Simple bukan? Ya, caranya memang simple namun kita harus detail untuk mendapatkan hasil yang maksimal, karena untuk membuat bisnis yang solid perlu team yang solid juga, untuk menciptakan produk yang laku kita harus melihat kebutuhan pasar, kemudian ide tersebut dituangkan dalam produk dan jasa yang akan diciptakan, lalu untuk menciptakan produk atau jasa yang baik perlu proses produksi (operasional) yang baik pula, Setelah jadi produk atau jasa maka perlu strategi marketing yang mendukung citra produk agar mudah diingat dan diterima konsumen, Agar diterima konsumen perlu proses edukasi yang berkesinambungan. Setelah edukasi maka perlu dibuat penawaran kepada konsumen agar konsumen tahu benefit dari produk dan jasa sehingga memutuskan pembelian. Nah, proses pembelian ini tentunya kita harapkan dapat terus menerus, maka perlu lah pelayanan purna jual sehingga silaturahmi antar produsen dan konsumen tetap terjaga. Kalau silaturahmi sudah terbina, Insya Allah rejeki tidak akan lari kemana!

Tanpa perlu pusing memikirkan prosesnya lagi, Jebakan Mindset dapat diobati dengan mudah apabila kita menjiplak secara menyeluruh strategi bisnis Nabi Muhammad yang sudah pasti terbukti berhasil diterima masyarakat pada masanya dan bahkan samapi dengan saat ini. Berikut beberapa ajaran Rasulullah yang dapat me-refresh pikiran kita, yaitu :

1. Memiliki Visi Bisnis yang Mulia

Visi yang dilakukan Nabi Muhammad dalam berbisnis yaitu, dengan dimensi spiritual, dimana bukan hanya memperbesar laba saja tetapi memiliki dimensi Sedekah, Zakat, Infak yang besar pula, Menjalin silaturahmi dengan siapapun, Mengembangkan empati dan sinergi binsis dengan siapapun. Pebisnis spiritual tidak berkantung kepada siapapun kecuali Allah SWT, dia tidak terpengaruh oleh turun naiknya kurs mata uang, tidak terpengaruh juga oleh ketakutan akan persaingan bisnis. Dalam benaknya ia yakin Allah selalu melindungannya.

2. Tidak zalim terhadap konsumen dan orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Secara logika orang zalim akan bangkrut karena apabila ia berbuat zalim dan orang-orang yang tidak dizalimi tidak ridha kepadanya maka akan datang celaka bahwa Allah akan mentransfer dosa-dosa orang-orang yang dizalimi

Dalam hadits disebutkan :

Barangsiapa yang mempunyai barang-barang dari hasil mendzalimi saudaranya, maka hendaknya dia meminta kerelaannya dari saudaranya itu. Sebab kelak disana (akhirat), dinar dan dirham, tidak berguna lagi, sebelum kebaikan (pahalanya) diberikan kepada saudara yang dizaliminya itu. Apabila dia tidak mempunyai kebaikan (pahala), maka dosa-dosa saudaranya itu diambil, lalu dilemparkan kepadanya. (HR. Bukhari)

Hal ini sangat memberi kita pembelajaran yang berharga bahwa sungguh tidak baik apabila kita tidak memberikan hak konsumen untuk mengetahui produk kita dengan selain menyebutkan benefit dan nilai, kita juga dapat menyebutkan secara jujur kekurangan produk kita untuk disikapi konsumen. Dalam kaitannya juga ini merupakan salah satu cara memudahlkan pelanggan seperti yang disebutkan dalam hadits :

Allah memasukkan ke dalam surga seseorang yang mempermudah urusan ketika dia menjadi penjual, atau ketika ia menjadi pembeli, atau ketika ia menjadi hakim, atau ketika ia menjadi terdakwa. (HR Ahmad)

3. Menjual Barang Yang Halal Saja

Disebutkan dalam hadits :

Sesungguhnya jika Allah telah mengharamkan sesuatu, maka (dengan otomatis) Dia juga mengharamkan hasil penjualannya. (HR. Ahmad)

4. Jangan Menjual Hal Yang Tidak Jelas

Disebutkan dalam hadits :

Ibnu Abbas ra. Menyampaikan bahwa Rasulullah SAW melarang jual beli buah-buahan yang belum masak (yang masih ada di pohonnya), bulu domba yang menempel di badannya, dan susu yang masih dalam tetek binatang. (HR At-Thabrani dan Daruquthni)

Dewasa ini banyak prektek ijon yang berspekulasi membeli hasil pertanian yang belum dipanen. Apabila ia membayar hasil panen itu dan ternyata hasilnya melebihi perkiraan, tentu ia akan untung. Namun apabila sebaliknya hasil pertanian terkena hama sehingga jauh dari dugaan maka tentu petani yang akan untung. Islam jelas-jelas melarang praktek-praktek bisnis yang tidak saling menguntungkan karena berbau judi atau untung-untungan (maisir).

5. Menjual Dengan Harga Yang Layak

Disebutkan dalam hadits :

Seorang wanita bertanya kepada Rasulullah SAW : "Saya seorang pedagang. Apabila saya membeli sesuatu, saya menawarnya lebih rendah dari harga yang saya kehendaki. Lalu saya naikkan harganya sesuai dengan keinginan saya. Sebaliknya, jika menjual sesuatu, saya menawarkannya dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang saya kehendaki. Kemudian, saya turunkan sedikit demi sedikit sehingga mencapai harga yang saya inginkan".

Rasulullah SAW bersabda : "Jangan engkau lakukan itu. Apabila engkau hendak membeli sesuatu, maka tawarlah dengan harga yang engkau berikan atau engkau tolak. Jika engkau menjual sesuatu, tawarlah dengan harga yang ingin engkau berikan, atau engkau tolak". (HR. Ibnu Majah)

6. Menghindari Keserakahan dan Sifat Culas

Tidak ada seseorang yangmemonopoli perdagangan, kecuali dia termasuk orang yang salah. (HR Muslim)

Orang yang suka mengolok-olok, mencaci maki, dan bersikap sombong akan masuk neraka, semua sifat itu tidak akan berkumpul pada diri seorang Muslim. (HR Ath-Thabrani)

7. Mengajak Orang lain Untuk Berbisnis Yang Maslahat

Disebutkan dalam hadits :

Abu Hurairah ra. Mengungkapkan, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Barangsiapa membebaskan seorang Muslim dari jual-beli yang mengakibatkan penyesalan, kelak Allah akan membebaskan dia dari segala dosanya. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Ketujuh hal diatas semoga bisa me-refresh pola bisnis kita menjadi hal yang lebih baik. Apabila kita konsisten menjalankan ajaran Bisnis Nabi bukan musatahil rejeki dan ridha Allah SWT akan bersama kita selalu. Mari selamatkan bisnis kita dari mindset yang menjebak![]

Sumber: http://www.pengusaharindusyariah.com/