Sabtu, 05 Maret 2011

Value of Prosperity (Al Qimah Al Madiyyah)

By Erik H Sitepu

abundanceBanyak sekali pengusaha yang mengaku mereka adalah pengusaha muslim, tetapi ketika gagal dalam bisnisnya selalu menjustifikasi bahwa dunia ini hanya hiasan semata, dunia hanya sementara, uang tidak dibawa mati, dan segudang alasan lainnya sehingga mesjid menjadi tempat “persembunyian” mereka ketika mereka gagal memenuhi value of prosperity (Al Qimah Al Madiyyah).

Bahkan secara massive telah terjadi pemahaman yang keliru tentang uang dan harta. Pemahaman seperti ini terjadi karena kebanyakan maklumat sabiqoh yang diterima sejak kita kecil bersifat negative, seperti uang merusak persahabatan dan persaudaraan, uang itu kotor, orang kaya itu sombong, dan kata kata yang paling favorite adalah uang adalah akar masalah. Dengan kondisi pemahaman seperti ini, wajar saja, banyak diantara saudara kita kaum muslimin “mengesampingkan” value of prosperity ini, dan hanya nyaman ketika mereka bersentuhan dengan nilai humanity (Al Qimah Al Insaniyyah), nilai ethic (Al Qimah Al Akhlaqiyyah), dan terutama nilai spiritual (Al Qimah Al Ruhiyyah).

Padahal jika kita menganalisa hukum hukum syara’ yang memerintah kita melakukan perbuatan tertentu, kita akan menemukan bahwa kita harus seimbang dalam mengusahakan keempat nilai nilai di atas. Islam tidak mengajarkan kita focus hanya pada nilai ruhiyyah dan melupakan nilai nilai yang lain, demikian juga sebaliknya. Saat ini banyak saudara kita yang focus bahkan mengajak saudaranya yang lain ikut focus hanya ke nilai ruhiyyah saja, mereka hanya bicara sholat, zakat, dan ibadah maghdhoh yang lain. Masalahnya bukan kita tidak boleh focus ke nilai ruhiyyah, tetapi kita juga harus ingat ada nilai nilai yang lain yang juga harus kita usahakan dalam hidup kita, termasuk value of prosperity (Al Qimah Al Madiyyah).

Value of prosperity adalah sesuatu yang kita usahakan yang berhubungan dengan materi, misalnya uang, tabungan, rumah, kendaraan, dan hal yang berbentuk benda dan materi. Allah telah memerintahkan kita untuk memenuhi value of prosperity. Sebagai contoh, ketika Allah memerintahkan jual beli, bekerja, ataupun membentuk syirkah adalah untuk merealisasikan value of prosperity. Al Qimah Al Madiyyah ini erat kaitannya dengan ketiga nilai yang lain. Misalnya dengan uang, kita bisa pergi haji, membayar zakat, bersedekah, membantu orang yang dalam kesusahan, memberikan pendidikan yang baik kepada anak kita, dan banyak hal positif lain yang bisa kita lakukan dengan uang.

Jika uang beredar di tangan orang orang yang shalih maka tidak mungkin mereka membuat bisnis karoke, panti pijit, judi on line, dan aktivitas yang dimurkai oleh Allah. Bahkan ketika uang beredar di tangan orang orang yang sholih maka yang terjadi adalah uang dimanfatkan di jalan Allah. Mari kita flash back ke 1.400 tahun yang lalu, ketika dakwah Rosul di dukung oleh para pengusaha seperti Abu Bakar As sidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, banyak yang sudah mereka lakukan dengan harta mereka untuk tegaknya Islam di muka bumi ini. Para sahabat Rosul yang juga adalah pengusaha ini telah menorehkan tinta emas dalam sejarah kegemilangan Islam.

Now the big question, apakah kita hanya focus ke value of prosperity saja, the answer is absolutely NO. Nilai nilai yang lain juga harus seimbang, jadi ibaratnya roda harus bulat dan seimbang sehingga hidup kita menjadi lebih sempurna. Sekarang no but, no if, no reason, keempat nilai tersebut harus seimbang sesuai dengan tuntunan syara’, termasuk kita harus mengusahakan value of prosperity (Al Qimah Al Madiyyah) yang selama ini termarginalkan karena pemahaman yang salah. sumber: hidupberkah.com