Jumat, 05 Maret 2010

DI BALIK NIKMATNYA PUDING

Puding. Siapa yang tak kenal penganan nan nikmat dan lezat ini? Mmm... rasanya sulit untuk menemukan orang yang tak suka dengan kelezatan puding. Pada setiap jamuan makan atau acara syukuran pernikahan, puding hampir tak pernah absen dari daftar sajian makanan yang dihidangkan bagi para undangan.

Biasanya puding diletakkan bersebelahan dengan buah-buahan dan salad sebagai makanan penutup, puding memang disajikan sebagai hidangan penutup. Pangan yang satu ini disukai lantaran rasanya yang manis serta tekstrurnya yang lembut, hampir mirip dengan agar-agar.

Bentuk dan tampilannya beraneka rupa, juga variasi rasanya, seperti vanilla, cokelat, strawberi, melon dan banyak lagi. Tak sulit pula untuk membuatnya. Bahan dasar puding antara lain tepung tapioka atau pati termodifikasi, susu, why powder, gula, karagenan, juga kadang gelatin.

Bahan-bahan itu lantas dicampurkan dengan air dan dimasak. Selanjutnya, tambahkan gula atau pewarna sesuai yang diinginkan.misalnya saja rasa cokelat dengan warna cokelat, rasa jeruk dengan warna oranye, tampaknya cukup mudah. Namun tetap dibutuhkan kecermatan terutama ketika mencampur bahan-bahan tadi. Kurang atau melebihi takaran, justru akan menghasilkan puding dengan rasa atau tekstur yang terlalu lembek atau terlalu keras.

Puding ideal biasanya lembut, halus serta tidak keras. Selain itu enak dipandang dan lezat disantap. Bagi yang tidak terlalu repot, kini sudah tersedia bahan pembuat puding instan. Namanya juga instan, membuatnya sangat mudah hanya dengan menuangkan isinya, ditambah air dengan takaran tertentu dan langsung direbus.

Setelah matang maka puding pun siap dicetak. Tunggu beberapa saat sampai dingin, dan puding pun siap disantap. Menurut laman halalguide, sejumlah produsen puding instan sudah menggunakan bahan vla, atau sejenis cairan kental mirip santan yang akan dicampurkan dan disantap bersama puding. Maka, kian lengkaplah kelezatan puding tersebut.

Meski begitu, terdapat beberapa aspek dari sajian penganan yang hendaknya diwaspadai konsumen Muslim. Termasuk juga puding. Kehati-hatian patut diarahkan apakah makanan itu terjamin kehalalannya, baik ditilik dari kandungan bahan-bahan pembuatnya. Adapun yang perlu dicermati yakni bahan pembentuk gel atau pembuat teksturnya.

Beberapa puding memang memakai bahan pati atau pati termodifikasi sebagai penghasil gel. Saat bahan itu dicampurkan air dan dipanaskan, terjadilah reaksi gelatinisasi. Air terserap dalam pati dan terjebak dalam matriks, sehingga menghasilkan tekstur kenyal.

Akan tetapi jika hanya pati yang di pakai, gel menjadi tidak terlalu kuat, sehingga pada waktu tertentu muncul proses pengeluaran air dari matriks, dan gel pun pecah. Ini tentu tidak dikehendaki.

Supaya lebih stabil, beberapa pembuat puding kemudian menambahkan bahan pembentuk gel lain. Nah, disinilah yang harus diperhatikan betul, karena ada kalanya bahan yang digunakan kurang terjamin kehalalannya, misalnya pemakaian gel dari tulang babi dan lainnya.

Begitu juga dengan whey powder. Whey sebenarnya adalah produk samping dari proses pembuatan keju. Bagian padatnya menjadi keju, sedangkan bagian cairnya diproses lebih lanjut menjadi whey powder. Bahan ini berasal dari susu sapi, meski demikian saat proses pembuatannya kadang dicampur dengan rennet guna memisahkan antara padatan dan cairannya.

Penggunaan rennet perlu dikaji, apakah berasal dari bahan yang halal ataukah tidak. Di pasaran, beredar luas rennet yang terbuat dari produk microbial, dari perut anak sapi atau babi. Tentu saja, bila terbuat dari bahan babi, status hukumnya menjadi haram.

Bahan lainnya adalah perasa untuk menghasilkan berbagai rasa, seperti cokelat, jeruk, melon, mangga, vanilla dan lainnya. Tidak tertutup kemungkinan perasa ini berasal dari bahan yang meragukan yakni dari pemakaian alkohol atau turunannya sebagai pelarut. Pastikan Anda membeli bahn pembuat puding yang bersertifikat halal dari lembaga terpercaya seperti LPPOM MUI.

SEKILAS PUDING

1. Berasal dari bahasa Prancis, boudin artinya ‘sosis darah’. Istilah puding digunakan di Eropa abad pertengahan untuk hidangan dari daging yang dibungkus.

2. Istilah puding sering digunakan di Inggris Raya untuk hidangan penutup yang dibuat dari telur dan tepung, serta dimasak dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang.

Sumber: Tabloid Republika Dialog Jumat (5 Februari 2010)