Jumat, 19 Maret 2010

Makin Miskin Akibat Rokok

Dia seorang pengamen dengan gitarnya, dia melompat dari satu bus ke bus yang lain yang penuh sesak di Jakarta. Selesai menyanyikan satu dua lagu, Karel, begitu lelaki itu disapa, mengedarkan kantong uang pada para penumpang. Sehari, dia bisa mengantongi 20 ribu rupiah dari pekerjaannya ini. Setengahnya dia gunakan untuk membeli rokok.

Karel mengaku merokok setengah bungkus, kira-kira Rp 5000 sehari. Tapi dia masih merasa mending dibanding teman-temannya yang lain yang menghabiskan sebungkus rokok bahkan lebih dalam sehari. Karel mengaku penghasilannya sebagai pengamen tidaklah banyak. Kadang-kadang dalam sehari dia beruntung bisa ketemu nasi, kadang-kadang tidak. Kalau dapat uang, uangnya pertama-tama dibelikan rokok, lalu untuk bayar sewa kontrakan, setelah itu baru untuk makan.

Karel merokok sudah sejak usia 18 tahun. Lelaki 33 tahun ini mangaku awalnya hanya ingin tahu dan coba-coba merokok bersama teman-temannya sesama pengamen. Tapi dari coba-coba itu dia jadi tak bisa melepaskan diri dari rokok bahkan sampai ketagihan seperti sekarang. Dia mengaku, kalau tak merokok rasanya tubuhnya lemas.

Lain Karel lain pula cerita Ridho (17). Kuli bangunan lepas di Jakarta Selatan ini mengaku mendapat upah rata-rata Rp. 15 ribu sehari sebagai pengayak pasir. Dari uang itu, setengahnya dia belanjakan untuk membeli rokok. Ridho mengatakan merokok adalah segalanya bagi remaja laki-laki seperti dirinya. Merokok bisa menghilangkan stres bahkan lebih dari pacar buatnya. Rokok itu segalanya baginya, karena rokok bisa menghilangkan pusing dan jenuhnya menghadapi kerasnya hidup di Jakarta.

Terima tidak terima, Indonesia adalah sorga bagi perokok. Satu-satunya Negara di Asia Tenggara yang tidak mau menandatangani kesepakatan World Health Organizations atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menghentikan kebiasaan merokok adalah Indonesia. Alasannya? Industri tembakau lokal menyediakan ratusan ribu lapangan kerja dan pajak dari rokok menyumbang 10-30 persen pendapatan pemerintah.

Ada fakta menarik tentang perilaku merokok masyarakat bawah kita. Berdasarkan survei Lembaga Demografi FE UI, satu dari rumah tangga miskin mengalokasikan 20 persen pendapatannya untuk merokok. Hasil penelitian lain menyebutkan dalam sebulan orang miskin Indonesia membelanjakan uang untuk rokok Rp 117 ribu. Angka ini lebih besar dari Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang cuma sebesar 100 ribu per bulan itu. Agak serupa dengan pengakuan Karel, pengeluaran untuk rokok menduduki prioritas kedua setelah membeli beras. Diduga, BLT yang diterima separuhnya malah digunakan untuk membeli rokok, bukan untuk biaya kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.

Survei juga menunjukkan, pengeluaran orang miskin untuk rokok 17 kali dari pada membeli daging, 15 kali dibandingkan pengeluaran kesehatan, dan 9 kali dibanding pengeluaran pendidikan. Itulah mungkin sebabnya orang miskin susah membiayai pendidikan dan tidak bisa menyantap makanan bergizi gara-gara membeli rokok. Tak hanya menggerogoti paru-paru, rokok juga ternyata membuat orang miskin Indonesia semakin miskin. Bayangkan penduduk Indonesia rela menahan lapar demi rokok. Penelitian dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menyebutkan, 40 persen perokok Indonesia berasal dari kelompok berpenghasilan kecil.

Fakta-fakta mengerikan ini tidak terlepas dari sangat murahnya harga rokok di Indonesia dibandingkan Negara-negara lain di dunia, sehingga bahkan sekelas masyarakat miskin pun bisa membelinya. Hanya dengan 10 ribu rupiah saja, orang Indonesia bisa mendapatkan sebungkus rokok, bahkan bisa membelinya secara batangan dengan harga yang lebih murah.

Selain menggerogoti dompet orang miskin, rokok juga penyebab kematian nomor tiga di Indonesia. Yayasan Kanker Indonesia mencatat, saat ini kanker paru-paru menduduki urutan ketiga setelah kanker serviks dan kanker payudara. Padahal dulu kanker paru-paru menduduki posisi kelima. Diketahui pula Sembilan dari 10 dari pengidap kanker paru-paru adalah perokok, dan enam orang diantaranya adalah kalangan tak berpunya. Jadi lengkap sudah keterpurukan itu. Sudahlah miskin, tak sehat, mengidap kanker pula.

Perlu usaha keras dari berbagai pihak untuk mengentaskan persoalan ini. Pemerintah harus membuat aturan ketat tentang rokok. Membebani industri rokok dengan pajak tinggi, tetap bukan solusi utama. Melarang orang merokok di tempat umum, ternyata juga belum ampuh untuk menurunkan jumlah perokok. Diperlukan regulasi yang ketat agar perokok baru tidak bertambah, selain itu, tentu saja diperlukan sesuatan cinta antara sesama – terutama dari anggota keluarga – untuk saling mengingatkan bahwa rokok tidak hanya membahayakan kesehatan, tapi juga mempertebal kemiskinan.

Sumber: Harian Umum Republika Jumat 19 maret 2010 hal 22