Selasa, 04 Agustus 2009

Asal Usul Orientalisme

A. Asal-usul Orientalisme Munculnya orientalisme tidak terlepas dari beberapa faktor yang melatarbelakangi, antara lain akibat perang salib atau ketika dimulainya pergesekan politik dan agama antara islam dan Kristen barat Palestina argumentasi mereka menyatakan bahwa permusuhan politik berkecamuk antara umat islam dan Kristen selama pemerintahan Nuruddin Zanki dan Salahudin al Ayubi. Karena kekalahan demi kekalahan yang dialami pasukan Kristen, maka semangat membalas dendam tetap membara selama berabad-abad. Kecemburuan kaum Orientalis antara lain dilatarbelakangi oleh giatnya penyebaran syiar Islam. Dalam waktu satu abad sejak kelahirannya, Islam telah melintasi Jazirah Arabia, Afrika Utara, Spanyol, dan Negara-negara Eropa lainnya. Faktor lainnya adalah bahwa orientalisme muncul untuk kepentingan penjajahan Eropa terhadap Negara-negara Arab dan islam di Timur, Afrika Utara dan Asia Tenggara, serta kepentingan mereka dalam memahami adat istiadat dan agama bangsa-bangsa jajahan itu demi memperkokoh kekuasaan dan dominasi ekonomi mereka pada bangsa-bangsa jajahan. Faktor-faktor tersebut mendorong mereka menggalakkan studi orientalisme dalam berbagai bentuknya di perguruan-perguruan tinggi dnegan perhatian dan bantuan dari pemerintah mereka. Kekhawatiran orang Eropa (Kristen) timbul karena tersebarnya Islam melalui sekolah Islam di Cevilla, Toledo, dan Cordova (Spanyol). Sekolah ini menarik banyak murid dari kalangan masyarakat Eropa, masyarakat Kristen Eropa, maupun kalangan Muslim. Karena iri, mereka pun melontarkan berbagai macam tuduhan terhadap Islam, diantaranya Islam disampaikan dengan kekerasan. Para Paus, uskup, dan pastur pun turut mempelajari Islam dalam rangka mengatur strategi penghancuran umat Islam. Karena pengaruh merekalah banyak diantara raja Eropa mempelajari Islam dengan tujuan melemahkan kaum muslimin. Salah seorang pastur yang mempelajari Islam di Cordova adalah Jerbert de Oralic (938-1003 M). Setelah menguasai bahasa Arab, ilmu pengetahuan Islam, ilmu eksakta, dan ilmu falak, ia diangkat menjadi pemimpin agama tertinggi di Perancis (999-1003 M). Gerared de Cremona (1111-1187) adalah seorang pendeta Hilia yang mempelajari Islam di Toledo, Andalusia. Setelah menguasai bahasa Arab, ia menerjemahkan tidak kurang dari 87 buku berbahasa Arab, termasuk kitab Rasaail al-Kindi fi al-Aqli wal-Ma’quul karya al-Farabi dan Al-Qanuun fil-Thibi karya Ibnu Sina. Setelah kaum muslimin menguasai semenanjung Iberia (Andalusia), sebagian Negara Prancis, Italia, Sisilia, dan beberapa pulau di laut Tengah sejak pertengahan abad ke-8 Miladiyah, kebudayaan Islam terus berkembang. Ia menerangi hampir separuh dunia dan menjadi dasar pendorong kebangkitan bangsa-bangsa di Eropa. Hal ini berlangsung hingga abad ke-13 Masehi. Banyak diantara para pelajar mempelajari berbagai ilmu pengetahuan di Andalusia. Misalnya, utusan dari Prancis adalah Ratu Elizabeth, putri raja Prancis Louis VI. Ratu Duban, putri Pangeran George (yang menjabat gubernur di provinsi Wales) memimpin 18 orang putri kerajaan negri tersebut menuntut ilmu di Andalusia. Sedangkan utusan dari provinsi Savo, Bavir, Saxon, dan Rhein berjumlah 700 pemuda dan pemudi dikirim ke sana pada tahun 1293. Landasan rasa iri kepada umat Islam jugalah yang mendorong mereka merebut kekuasaan kaum muslimin atas Baitul Muqaddis di Yerusalem. Muncullah kemudian doktrin Perang Suci yang menyebabkan meletusnya Perang Salib I (1096 M). Tokohnya antara lain Johannes Damscendi dan Theofanes Confesor. Perang Salib yang dikenal sebagai perang Fisabilillah di kalangan umat Islam ini berlangsung sekitar 200 tahun. B. Kristenisasi di Indonesia Kemenangan partai agama (Kristen) pada pemilihan di Belanda tahun 1901 mengubah wajah politik di sana. Partai Liberal - yang telah menguasai politik selama 50 tahun - kehilangan kekuasaannya, sedangkan golongan agama semakin kuat dan membawa pemerintahan ke prinsip Kristen. Pidato tahunan raja pada bulan September 1901 --yang menggambarkan jiwa Kristen - menyatakan mempunyai kewajiban etis dan tanggung jawab moral kepada rakyat Hindia Belanda (Nusantara), yakni memberikan bantuan lebih banyak kepada penyebaran agama Kristen. Dukungan terhadap kristenisasi Hindia Belanda dipertegas, sejalan dengan politik hutang budi yang dicanangkan. Selanjutnya, berlangsung misi penjajahan kolonialisme dan imperialisme untuk mewujudkan tri logi Gold (meraih kekayaan), Gospel (menyebarkan ajaran), dan Glory (mencapai kemegahan). Tri logi ini diwujudkan melalui tindak kekerasan dan perampasan terhadap kekayaan bangsa Islam. Mereka memaksakan diterimanya faham Kristen di dunia Islam, terutama Suriah yang pada saat itu merupakan kota perdagangan utama bagi dunia Barat dan Timur. Menurut para pengamat Muslim, kegiatan Orientalis di negeri-negeri Muslim tidak berdiri sendiri. Pada hakikatnya, ia merupakan kelanjutan strategi Perang Salib, sebagaimana disebutkan oleh Muhammad Husein dalam bukunya. Bangsa Indonesia pun mengenal sejumlah tokoh orientalis yang pernah menjalankan misinya di tanah air. Salah seorang diantaranya adalah snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Kaki tangan Belanda ini ditugaskan untuk mematahkan perlawanan bangsa Indonesia yang mayoritas muslim khususnya di daerah Aceh. Rudi Paret memperkirakan, bangsa Eropa mulai mempelajari bahasa pada abad ke 12 M. sebab, pada saat itu Al-Qur’an telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa dan telah banyak pula terbit kamus arab latin. Dalam bukunya, Edward Said mengisyaratkan bahwa orientalis lahir bersamaan dengan ditetapkannya keputusan konferensi Gereja Wina pada tahun 1312 M. pada saat itu telah terbentuk departemen-departemen studi arab di beberapa universitas di Eropa. Sesungguhnya, orientalisme berawal dari pembenturan antara dunia Islam dan Kristen yang didorong oleh sentimen agama pada abad pertengahan. Adanya sifat sentimen itu sendiri diakui oleh kalangan Barat. Misalnya, di dalam bukunya, Gulbert Denogent (meninggal tahun 1124) mengatakan bahwa ia tidak memiliki referensi tertulis untuk membedakan yang benar dan yang salah mengenai Islam. Pengakuan serupa juga dikemukakan Southern di dalam bukunya Nadazaratul-Gharib ilial-islam fil-Qarnil-Wusthaa (pandangan barat terhadap Islam pada abad pertengahan). C. Taktik Penjajah Belanda Munculnya para orientalis Belanda itu perlu disimak pula latar belakang politik penjajah Belanda yang menguasai Indonesia selama tiga setengah abad. Dr. Aqib Suminto menggambarkan strategi penjajah Belanda, di antaranya diungkapkan sebagai berikut: Usaha Belanda untuk mengkonsolidasi kekuatannya mendapat perlawanan dari raja-raja Islam, dan di tingkat desa, dari para guru serta ulama Islam. Meskipun Belanda berhasil mengontrol sebagian besar daerah Nusantara yang ditaklukkannya, namun Islam tetap melebarkan sayapnya. Bahkan sejak abad ke-19 Islam mendapatkan daya dorong, berkat semakin meningkatnya hubungan dengan Timur Tengah. Kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda dalam menangani masalah Islam ini, sering disebut dengan istilah Islam Politiek, dimana Prof. Snouck Hurgronje dipandang sebagai peletak dasarnya. Sebelum itu kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda terhadap Islam hanya berdasarkan rasa takut dan tidak mau ikut campur, karena Belanda belum banyak menguasai masalah Islam. Berkat pengalamannya di Timur Tengah dan Aceh, Snouck Hurgronje, sarjana sastra Smith yang mempunyai andil sangat besar dalam penyelesaian perang Aceh ini kemudian berhasil menemukan suatu pola dasar bagi kebijaksanaan menghadapi Islam di Indonesia.