Selasa, 04 Agustus 2009

PESAN WASIAT PADA TEMAN YANG AKAN BEPERGIAN

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال ك استأذنت النبي صلى الله عليه وسلم في العمرة فأذن لي وقال : " لا تنسنا يا أخي من دعائك " فقال كلمة ما يسرني أن لي بها الدنيا . وفي رواية وقال : " أشركنا يا أخي في دعائك " . حديث ضعيف رواه أبو داود والترمذي وقال ك حديث حسن صحيح Umar bin Alkhotthob r.a. berkata: Saya minta izin kepada Nabi saw. untuk pergi ber-Umroh, maka Ia mengizinkan kepadaku sambil bersabda: la tansaana ya ukhayya min du’aa ika (Jangan kau lupakan kami hai saudara dari do’a – do’a mu). Dalam riwayat lain: Asyrikna ya ukhayya fi do’aa ika. (berikutkanlah kami hai saudara dalam do’amu). Berkata Umar: Itulah suatu kalimat Rasulullah yang bagi saya lebih senang daripada mendapat kekayaan dunia semuanya. Tradisi Rasullullah dalam Bepergian 1. Berlindung kepada Allah dari Beban Perjalanan Jika Hendak Bepergian 2. Senang Pergi pada Pagi Hari 3. Menyempatkan Tidur dalam Perjalanan di Malam Hari 4. Bertakbir Tiga Kali Ketika Telah Berada di Atas Kenda-raan 5. Berdoa Jika Tiba Waktu Malam 6. Berdoa Jika Melihat Fajar dalam Perjalanan 7. Berdoa Ketika Kembali dari Bepergian 8. Menjamak Shalat dalam Bepergian 9. Shalat di Atas Kendaraan 10. Mendoakan Orang yang Ditinggal Pergi 11. Mendoakan Orang yang Akan Bepergian Etika Safar (Bepergian Jauh) 1. Disunnatkan bagi orang yang berniat untuk melakukan perjalan jauh (safar) beristikharah terlebih dahulu kepada Allah mengenai rencana safarnya itu, dengan sholat dua raka`at di luar shalat wajib, lalu berdo`a dengan do`a istikharah. 2. Hendaknya bertobat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dari segala kemaksiatan yang pernah ia lakukan dan meminta ampun kepada-Nya dari segala dosa yang telah diperbuatnya, sebab ia tidak tahu apa yang akan terjadi di balik kepergiannya itu. 3. Hendaknya ia mengembalikan barang-barang yang bukan haknya dan amanat-amanat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, membayar hutang atau menyerahkannya kepada orang yang akan melunasinya dan berpesan kebaikan kepada keluarganya. 4. Membawa perbekalan secukupnya, seperti air, makanan dan uang. 5. Disunnatkan bagi musafir pergi dengan ditemani oleh teman yang shalih selama perjalanannya untuk meringankan beban diperjalananya dan menolongnya bila perlu. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Kalau sekiranya manusia mengetahui apa yang aku ketahui di dalam kesendirian, niscaya tidak ada orang yang menunggangi kendaraan (musafir) yang berangkat di malam hari sendirian”. (HR. Al-Bukhari) 6. Disunnatkan bagi para musafir apabila jumlah mereka lebih dari tiga orang mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin (amir), karena hal tersebut dapat mempermudah pengaturan urusan mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila tiga orang keluar untuk safar, maka hendaklah mereka mengangkat seorang amir dari mereka”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani). 7. Disunnatkan berangkat safar pada pagi (dini) hari dan sore hari, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Ya Allah, berkahilah bagi ummatku di dalam kediniannya”. Dan juga bersabda: “Hendaknya kalian memanfaatkan waktu senja, karena bumi dilipat di malam hari”. (Keduanya diriwayat-kan oleh Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani). 8. Disunatkan bagi musafir apabila akan berangkat mengu-capkan selamat tinggal kepada keluarga, kerabat dan teman-temannya, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan dia sabdakan: “Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan penutup-penutup amal perbuatanmu”. (HR. At-Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Albani). 9. Apabila si musafir akan naik kendaraannya, baik berupa mobil atau lainnya, maka hendaklah ia membaca basmalah; dan apabila telah berada di atas kendaraannya hendaklah ia bertakbir tiga kali, kemudian membaca do`a safar berikut ini: Subhaanal ladzi sakhkhara lanaa haadzaa wamaa kunnaa lahu muqrinina wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuuna. “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami; Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu di dalam perjalanan kami ini kebajikan dan ketaqwaan, dan amal yang Engkau ridhai; Ya Allah, mudahkanlah perjalannan ini bagi kami dan dekatkanlah kejauhannya; Ya Allah, Engkau adalah Penyerta kami di dalam perjalanan ini dan Pengganti kami di keluarga kami; Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bencana safar dan kesedihan pemandangan, dan keburukan tempat kembali pada harta dan keluarga”. (HR. Muslim). 10. Disunnatkan bertakbir di saat jalan menanjak dan bertasbih di saat menurun, karena ada hadits Jabir yang menuturkan: “Apabila (jalan) kami menanjak, maka kami bertakbir, dan apabila menurun maka kami bertasbih”. (HR. Al-Bukhari). 11. Disunnatkan bagi musafir selalu berdo`a di saat perjalanannya, karena do`anya mustajab (mudah dikabulkan). 12. Apabila si musafir perlu untuk bermalam atau beristirahat di tengah perjalanannya, maka hendaknya menjauh dari jalan; karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila kamu hendak mampir untuk beristirahat, maka menjauhlah dari jalan, karena jalan itu adalah jalan binatang melata dan tempat tidur bagi binatang-binatang di malam hari”. (HR. Muslim). 13. Apabila musafir telah sampai tujuan dan menunaikan keperluannya dari safar yang ia lakukan, maka hendaknya segera kembali ke kampung halamannya. Di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu disebutkan diantaranya: “......Apabila salah seorang kamu telah menunaikan hajatnya dari safar yang dilakukannya, maka hendaklah ia segera kembali ke kampung halamannya”. (Muttafaq’ alaih). 14. Disunnatkan pula bagi si musafir apabila ia kembali ke kampung halamannya untuk tidak masuk ke rumahnya di malam hari, kecuali jika sebelumnya diberi tahu terlebih dahulu. Hadits Jabir menuturkan :”Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang seseorang mengetuk rumah (membangunkan) keluarganya di malam hari”. (Muttafaq’alaih). 15. Disunnatkan bagi musafir di saat kedatangannya pergi ke masjid terlebih dahulu untuk shalat dua rakaat. Ka`ab bin Malik meriwayatkan: “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam apabila datang dari perjalanan (safar), maka ia langsung menuju masjid dan di situ ia shalat dua raka`at”. (Muttafaq’ alaih). Etika Dalam Bepergian a. Hendaklah berniat baik demi keridaan-Nya; b. ada baiknya melakukan Salat Istikharah; Hindari bepergian untuk bermaksiat kepada Allah; c. Bermusyawarahlah demi mendapatkan masukan; d. Kembalikan hak-hak orang, seperti hutang atau pinjaman barang, apabila memang ada; e. Bagi wanita, bepergianlah dengan mahram; f. Minta doa restu kedua orang tua; g. Berwasiatlah sepanjang diperlukan; h. Tunjuk seseorang sebagai wakil untuk menjaga keluarga atau memenuhi kebutuhannya; i. Tinggalkan bekal yang cukup untuk keluarga; j. Bawalah bekal yang cukup, halal lagi baik; k. Bepergianlah dengan orang – orang saleh; l. Hindari bepergian sendirian, terkecuali jika terpaksa; m. Berpamitanlah dengan sanak saudara / keluarga dan teman; n. Jika lebih dari satu, tunjuk seorang pemimpin dan taatilah pemimpin tersebut; o. Pemimpin sebaiknya melakukan musyawarah dengan anggora regu atau rombongan; jangan mengambil kebijakan sendiri; p. Upayakan untuk berangkat pagi hari dengan sarana transportasi yang sesuai; q. Bacalah doa keluar rumah / bepergian; r. Bacalah doa ketika menaiki kendaraan dan doa bepergian; s. Saling menolong antar anggota / teman seperjalanan; t. Jika perjalanannya panjang, beristirahatlah, dan jangan lupa membaca doa ketika singgah di suatu tempat; u. Perbanyaklah doa selama dalam perjalanan; v. Segeralah pulang apabila urusan telah selesai; w. Upayakan untuk membawa oleh-oleh bagi keluarga; x. Sejauh mungkin beritahulah keluarga akan kedatangannya; y. Hindari berlaku boros selama dalam bepergian; atau belanjalah seperlunya saja. z. Ucapkan syukur ketika sampai di tempat tujuan dan ketika kembali dari bepergian.