Selasa, 04 Agustus 2009

DAKWAH MEDIA

I. PENDAHULUAN Judul makalah ini setidaknya mencerminkan adanya pandangan yang akomodatif terhadap media massa; suatu persepsi yang melihat bahwa media massa dapat dimanfaatkan untuk mengajak manusia berbuat kebajikan dan menjauhi kejahatan (amar ma’ruf nahi munkar). Sebagai mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, saya sependapat bahwa pemanfaatan media massa harus diarahkan kepada yang lebih baik demi kemaslahatan umat. Hal ini berarti bahwa penggunaan media massa hendaknya semakin meningkatkan dampak positif dan mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul. Sungguhpun para ahli berpendapat bahwa teknologi itu bebas nilai atau netral namun kita manusia sebagai pengguna teknologi yang membuatnya menjadi positif atau negatif untuk umat manusia. Oleh karena itu, manusia sebagai kholifah yang dapat memberikan makna akan tekonologi komunikasi. Namun dalam pelaksanaannyasehari-hari hal ini tidaklah mudah. Terdapat faktor-faktor yang membuat kita tidak bisa maksimal memanfaatkan media massa, atau timbulnya dampak-dampak yang tidak kita inginkan. Dalam hal ini misalnya, kita ingin merangsang pertumbuhan market dengan memanfaatkan iklan melalui televisi. Namun diluar dugaan, kita justru mendapat ”PR” baru, yaitu bagaimana menekan tingginya sikap ”konsumtif” masyarakat. Dari contoh semacam ini, maka dapat dimaklumi bahwa tantangan dalam pembinaan dan pemanfaatan media massa selalu datang silih berganti. II. DAKWAH DAN MEDIA MASSA Perkembangan teknologi komunikasi dimasa yang akan datang nampaknya semakin pesat, hal ini berarti juga bahwa tantangan yang harus dihadapi dan sekaligus peluang yang harus dimanfaatkan berada didepan kita. Pertanyaannya adalah apakah kita mampu menghadapi tantangan dan menghadapi peluang. Oleh karena itu, penguasaan ilmu dan teknologi mutlak diperlukan apalagi kita ingin memanfaatkan secara efektif dan efisien. Pemanfaatan media massa untuk dakwah dapat kita lakukan jika kita mampu memberdayakan sumberdaya yang kita miliki secara optimal. Hal ini berarti bahwa kita harus menguasai seluk beluk teori dan praktek-praktek komunikasi antar manusia. Komunikasi antar manusia pada dasarnya adalah suatu proses interaksi antara komunikator kepada komunikan dengan tujuan untuk mencapai suatu kesamaan pengertian, pemahaman, penghayatan dan pengamalan mengenai isi pesan tertentu. Demikian halnya dengan dakwah sebagai salah satu bentuk komunikasi yang berarti menyampaikan sesuatu kepada orang lain yang bersifat mengajak untuk mengubah suatu keadaan yang tidak baik menjadi yang baik dan terpuji. Mengingat bahwa kehidupan umat manusia senantiasa berubah, maka dakwah Islamiyah memerlukan teknik penerapan yang akurat sesuai dengan perkembangan zaman, terutama sekali dengan masyarakat perkotaan yang dinamis dan berkembang. Dalam menyampaikan dakwah hendaknya diperhatikan beberapa faktor, yaitu da’i (selaku komunikator), rumusan pesan yang hendak disampaikan, media tidak dipilih, metode yang diterapkan, sasaran khalayak, dan dampak yang diharapkan. Problem yang menyangkut perumusan pesan, pemilihan media dan penggunaan metode yang tepat. Sementara itu, diharapkan kita terlibat dalam berbagai kemajuan ilmu dan teknologi yang berkembang amat pesat dan sebagian manusia terbuai oleh kemajuan tersebut. Menghadapi kenyataan ini peran serta para da’i harus lebih digalakkan dalam rangka menyelamatkan manusia dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh perkembangan ilmu dan teknologi dalam dunia modern dan pengaruh globalisasi yang semakin menguat. Dampak negatif era globalisasi akan menjerumuskan umat manusia bila tidak diantisipasi dengan baik dan benar oleh para da’i, intelektual, dan tokoh-tokoh masyarakat. Seperti kita ketahui bahwa setiap media, baik itu media komunikasi modern maupun media komunikasi tradisional, memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Salah satyu keunggulan media massa modern yang menonjol menjangkau sasaran khalayak luas tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Namun media massa pada umumnya hanya mampu untuk membuat sasaran khalayak mengenal/mengetahui akan informasi yang disampaikan media massa. Sebaiknya media komunikasi tradisional hanya dapat menjangkau sasaran khalayak terbatas, namun media komunikasi tradisional (termasuk face to face) bukan hanya sekedar membuat orang mengetahui akan sesuatu, tapi lebih jauh dari itu yaitu mampu mengubah sikap dan perilaku sasaran khalayak. Dengan melihat sekilas mengenai keunggulan dan kelemahan media yang ada ditengah-tengah kita, maka dapat dicari suatu metode dakwah yang tepat dengan memperhatikan komponen/unsur yang terlibat dalam proses komunikasi. Apalagi kita hendak memfokuskan diri kita kepada pemanfaatan media massa untuk dakwah, maka beberapa hal yang harus diperhatikan sesuai dengan karakteristik media massa itu sendiri. Upaya pemanfaatana media massa untuk dakwah hendaknya memperhatikan setidaknya 3 hal yaitu, program balance, program content, dan program performance. Dengan program balance dimaksud adalah adanya keseimbangan dalam penyusunan keseluruhan acara yang disajikan melalui media massa. Program kontent yang dimaksud adalah adanya ini acara (pesan) yang dikemas dengan akurat sesuai dengan aspirasi sasaran khalayak. Sedangkan program performance dimaksud adalah adanya penyajian metode yang tepat. Mengenai metode dakwah yang tepat sebenarnya telah ada petunjuk yang jelas dan Al-Qur’an Karim surat An-nahl ayat 125 artinya: ”ajaklah/serulah untuk berjuang dijalan Allah dengan bijaksana, dan dengan pengajaran (cara/metode) yang sebaik-baiknya dan ajaklah berdiskusi/berdialog dengan cara baik-baik pula”. Tuntunan ini dapat diaplikasikan dalam berdakwah melalui media massa maupun media tradisional. III. MULTIMEDIA DAN TV SEBAGAI SARANA DAKWAH Boleh dikatakan hampir tidak ada satu desapun dinegeri kita yang tidak terjangkau oleh aliran listrik. Listrik masuk desa sudah bukan semboyan lagi. Dengan demikian, selain masyarakat sudah tidak lagi menggunakan lampu minyak yang ”menghitamkan” hidung mereka untuk alat penerangf, mereka juga dapat menyaksikan tayangan-tayangan televisi baik dari stasiun televisi dalam negeri maupun luar. Hal ini selain dapat menambah wawasan dan pengetahuan para pemirsanya, juga dapat mempengaruhi sikap mental dan cara berpikir masyarakat. Memang belum ada penelitian khusus tentang dampak negatif dari tayangan-tayangan televisi, tapi paling tidak kecenderungan untuk hidup konsumeristik setelah menyaksikan sinetron-sinetron kita yang rata-rata menyajikan kemewahan-kemewahan, pasti muncul. Juga kecenderungan untuk menghalalkan kebebasan seks diluar nikah akan menghiasi alam pikiran kita setelah menyaksikan telenovela-telenovela iklan yang semakin nekad dalam berbusana, bertingkah laku baik dalam gerak-gerik maupun suara para pelakunya. Bukan suatu hal yang mustahil bahwa semua itu akan mempengaruhi akhlak, jiwa, pandangan hidup dan sebagainya, khususnya untuk umat Islam hal tersebut dapat berpengaruh pada akidah. Kritik dan sasran yang selalu dilontarkan oleh para ulama, kaum cerdik pandai, aktivis LSM dan sebagainya terhadap tayangan TV tetap harus kita pandang sebagai sesuatu yang positif, namun kita tidak dapat terus menerus hanya menyandarkan pada cara-cara seperti itu saja. Kita harus memberikan tayangan-tayangan alternatif sebagai counter sebelum akidah umat ini hancur dan kebebasan seks, pornografi, sadisme dan sebagainya itu menjadi ”budaya” bagi kehidupan bangsa kita. Melihat sifat-sifat yang khas tersebut, maka sudah selayaknya kita memanfaatkan media televisi ini untuk aktifitas dakwah kita disamping untuk melengkapi sistem dakwah yang interpersonal. Tidak dapat dipungkiri memang, bahwa stasiun-stasiun televisi kita yang ada, telah memberikan kesempatan kepada produk-produk tayangan yang Islami, namun sampai seberapa jauhkah mereka mau menrimanya dibanding-produk-produk yang non Islami yang sangat populer dengan sebutan produk komersial? Kata ”KOMERSIAL” inilah terkadang menghalangi produk tayangan Islami untuk ikut menghiasi stasiun-stasiun TV kita, kecuali pada bulan Ramadhan dan hari-hari besar Islam saja, sehingga tayangan Islami dianggap sebagai tayangan yang temporal. Padahal tayangan-tayangan Islami dapat juga dinikmati kapanpun dan dalam situasi apapun. Persoalannya karena pengertian komersial telah diidentikan dengan selera yang tida k terlalu tinggi, dengan kemewahan-kemewahan, sedikit berbau porno dan jangan terlalu berpegang pada akhlak mulia, dan lain-lain sebangsanya. Bagi para pembuat produk tayangan islami hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi untuk membuktikan bahwa produk Islami pun dapat komersial dan menarik tanpa berpegang pada pengertian negati. Persoalan lain yang muncul adalah sampai seberapa jauh kita mampu membuktikan bahwa tayangan Islami dapat bersaing dengan produk-produk non Islami, sementara sumber daya kita dalam pembuatan produk-produk tersebut masih langka? Maka jalan yang harus kita lakukan untuk mengatasi hal itu adalah mendirikan pusat-pusat pemdidikan kesenian dan teknologi pertelevisian Islami. Kalaupun stasiun TV tetap tidak mau menerimanya kita toh dapat memproduksinya melalui sarana video CD yang dapat dijual langsung kepada masyarakat. IV. PELUANG DAKWAH Dalam era global ini, sekat-sekat regional relatif pudar dengan alat bantu teknologi komunikasi. Semuanya merupakan tantangan bagi dakwah Islamiyah, jika aktivitas dakwah tidak mengambil bagian dalam proses tersebut. Hanya ada satu pertanyaan: ”dipermainkan atau jadi pemain?” Untuk menjadi pemain dalam, tentu saja harus mengenal berbagai media yang tersedia dewasa ini; mulai dari yang baru sampai yang konvensional. Beberapa media yang dikutif dari MANAJEMEN DAKWAH DI ERA GLOBAL Sebuah Pendekatan Metodologi, Rohadi Abdul Fatah dan Muhammad Tata Taufik. Adalah: 1. Radio; adalah media elektronik yang paling dini dan sudah dipakai sejak lama serta sudah dikenal masyarakat. Media ini memiliki kelebihan: a. daya pancar yang luas hingga bisa mengunjungi pemirsa yang jauh bahkan sampai ke kamar-kamar mereka. b. Bersifat mobil dan mudah dibawa kemana-mana; di mobil, diladang ataupun di hutan sekalipun. c. Tidak menuntut perhatian yang besar bagi pendengar, karena dia akan senantiasa bunyi tanpa harus dilihat, dan pesan akan tetap mengalir begitu saja sehingga bisa menemani pendengarannya tanpa harus berhenti dari pkerjaannya; menyetir mobil, memasak, dll. d. Mudah dimiliki, harga terjangkau, biaya produksi murah. e. Tidak akan ditinggalkan orang karena sifatnya yang bisa menjadi sahabat dalam berbagai kegiatan. Melihat kelebihan ini, nampaknya radio patut mendapat perhatian untuk dijadikan media dakwah, berbagai format dakwah bisa digarap dengan pesan-pesan yang menarik dan edukatif. Di indonesia, alhamdulillah, telah banyak radio yang formatnya sarat dengan muatan dakwah, dengan berbagai ragam corak dan gayanya. 2. TV; adalah sebagai media dakwah, sangatlah efektif dengan kelebihannya sebagai media audio visual; selain bersuara, juga dapat dilihat. Penggunaan TV sebagai media, tentu saja bisa dilakukan dengan membuat program-program tayangan yang bermuatan pesan dakwah; baik berupa drama, ceramah, film-film ataupun kata-kata hikmah; sebagaimana yang telah banyak ditayangkan diberbagai stasiun TV. 3. Tape recorder, CD dan DVD; semuanya merupakan alat-alat perekam yang bisa dipakai untuk menggandakan berbagai produk dakwah, dan ini juga sudah mulai banyak dipakai sebagai media dakwah dan pengajaran agama. 4. Dakwah via animasi. Masalah lain yang perlu digarap dakwah Islamiyah adalah memuat film-film kartun yang Islami, dengan memperkenalkan budaya dan ajaran Islam, serta cerita-cerita kepahlawanan. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat film-film animasi yang bisa dilakukan oleh para animator muslim. Sehingga, anak-anak muslim tidak kehilangan sejarah dan identitasnya. 5. Media Cetak. Surat Kabar, Majalah, Bulletin, Jurnal, Buku, Tabloid; semuanya dapat dijadikan media dakwah. Rubrikasi pada surat kabar, dengan menyediakan rubrik khusus dakwah dapat dilakukan; seperti yang tersedia dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat, Republika, dll. Pada prinsipnya, semua rubrik bisa dijadikan media dakwah dengan menyisipkan pesan dakwah dalam setiap artikel; baik berupa berita, opini, cerpen, atau feature. Selain itu, bisa juga melalui majalah, buletin, dan yang sejenis dengan media-media massa lainnya. 6. Dakwah via internet. Internet merupakan barang baru yang secara langsung berperan dalam menciptakan dunia yang mengglobal. Media ini, dapat menghubungkan antarindividu penduduk dunia tanpa mengenal batas. Media ini, akan sangat baik jika digunakan sebagai sarana dakwah, dan sekaligus merupakan ciri utama dakwah era global. Berbagai kemungkinan bisa dibuat untuk dakwah. Antara lain dengan menggunakan media ini: a. Mailing List. Membuat mail langganan bagi siapa saja yang hendak mendapatkan brosur atau artikel-artikel dakwah. Langkahnya dengan menghimpun artikel dakwah serta mendistribusikannya via e-mail yang akan didistribusikan kepada seluruh pelanggan. Para cendekiawan dan aktivis dakwah internasional, sudah banyak yang menggunakan media ini, sehingga setiap minggu, kita bisa saja mendapatkan kiriman e-mail yang berupa pesan-pesan dakwah. b. Membuat layanan website dengan memberikan informasi dan ilmu-ilmu keagamaan. Di Indonesia, akhir-akhir ini sudah mulai bermunculan situs-situs dakwah yang dilakukan oleh para dai dunia maya. Demikian juga negara-negara Islam lain yang telah banyak mempelopori situs dakwah. Layanan yang bisa diberikan oleh website selain mailing list adalah: 1) E-book. Penyediaan buku-buku elektronik yang bisa dibaca, di copy, ataupun diprint. 2) Layanan tanya jawab masalah-masalah agama dan berbagai persoalan kehidupan dengan pendekatan agama. 3) Chatting Room. Menyediakan layanan untuk mengobrol via internet yang berhubungan dengan masalah agama; atau chatting periodik dengan menghadirkan tokoh-tokoh tertentu. 4) Forum Diskusi. Membuat forum dikusi jarak jauh, dimana seseorang bisa mengajukan sesuatu permasalahan yang ditanggapi oleh anggota lainnya. 5) Menyediakan direktori artikel yang bisa dikases oleh yang membutuhkannya. 6) Menyediakan layanan Khutbah Jum’at mancanegara; berupa audio file maupun teks file. 7) Memberikan layanan informasi address website dakwah lainnya; seperti lembaga-lembaga dakwah dan lembaga pendidikan Islam. 8) Penerbitan Jurnal dan majalah. Semua peluang tersebut, merupakan pekerjaan rupah aktivitas dakwah Islamiyah yang harus disemarakkan untuk menghadapi tantangan dan serangan peradaban global. Berbagai gairah dan semangat untuk menyemarakkan segala jenis media elektronik untuk berdakwah adalah upaya untuk menjawab berbagai ketertinggalan kita di bidang informasi. V. ANTISIPASI TERHADAP ERA GLOBALISASI Seperti telah banyak dikemukakan orang bahwa abad XXI adalah abad globalisasi sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi, dan informasi dengan berbagai macam implikasinya, baik yang bersifat harapan maupun tantangan. Satu hal yang harus diyakini, karena Islam adalah agama fitrah (Ar-Rum: 30), maka ia akan tetap dibutuhkan oleh umat manusia, kapan dan dimanapun mereka berada, dengan catatan para dai dapat menghadirkan ajaran Islam ditengah-tengah masyarakat dengan bahasa yang bisa diterima dan dipahaminya. Ajaran islam yang mampu menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan secara tuntas. Fenomena-fenomena yang terjadi sekarang, memperkuat asumsi ini. Kajian dan pengajian tumbuh dimana-mana, diberbagai kalangan, dan berbagai tempat. Kini pengajian bukan hanya milik masjid, mushola ataupun madrasah, akan tetapi menjadi milik gedung-gedung bertingkat, hotel, berbintang, gedung-gedung pemerintahan, dan terlebih lagi dikampus-kampus perguruan tinggi. Tidaklah heran apabila kini dikampus-kampus terdapat halaqoh-halaqoh yang menekuni berbagai kitab yang berbahasa arab, pemikiran keislaman dari berbagai aliran dan mazhab, dan kegiatan-kegiatan lainnya (yang mungkin 10 atau 20 tahun yang lalu, tidak terbayangkan akan terjadi). Sementara disatu pihak, proses sekularisasi dalam berbagai bidang kehidupan berjalan dengan gencarnya, tetapi dilain pihak untuk keinginan melakukan kegiatan Islamisasi pun tidak kalah gencarnya. Fenomena BMI (Bank Muamalat Indonesia) dengan BPR-BPR Syariahnya, kini sedang intensif didirikan, atau kajian-kajian yang intensif tentang IIP (Islamisasi Ilmu Pengetahuan) adalah merupakan satu indikasi. Jika fenomena ini ditangkap dan diantisipasi dengan baik oleh pondok pesantren, lalu dicoba ditransformasikan dalam rangka pengembangan kurikulumnya, maka hal itu tentu akan sangat bemanfaat bagi keberadaan dan kelangsungan kehidupan kehidupan pondok pesantren. Keenam nilai dan jiwa pendidikan pesantren tersebut diatas, yang begitu agung dan tinggi, dan bersifat universal disertai dengan sikap antisipatif terhadap perubahan dan perkembangan zaman, adalah sangat dibutuhkan oleh pesantren dimasa depan. Globalisasi adalah suatu kenyataan saat hubungan sosial mendunia; tidak ada lagi hambatan jarak antara suatu realitas dengan realitas lainnya; satu kejadian yang terjadi secara lokal dengan kejadian lain yang terjadi di belahan dunia lainnya. Atau dapat juga dikatakan bahwa globalisasi adalah integrasi dan demokratisasi budaya, ekonomi dan infrastruktur yang melintasi batas negara dengan percepatan teknologi komunikasi dan teknologi informasi serta efek yang kuat dari kekuatan ekonomi pasar bebas yang menekan pasar lokal, regional dan nasional. Beberapa pernyataan diatas menginformasikan bahwa peradaban adalah budaya tertinggi dari suatu masyarakat; dan globalisasi adalah proses terjadinya suatu kegiatan yang terjadi secara menyeluruh dibelahan dunia dalam berbagai sektor kehidupan manusia. VI. VISUALISASI TANTANGAN DAKWAH MASA DEPAN Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos dalam The Learning Revolution mengidentifikasi 16 kecenderungan utama yang akan membentuk dunia dimasa datang. Pertama, adanya zaman komunikasi instant. Kedua, dunia tanpa batas ekonomi. Ketiga, empat lompatan menuju ekonomi dunia tunggal. Keempat, perdagangan dan pembelajaran melalui internet. Kelima, masyarakat layanan baru. Keenam, penyatuan yang besar dengan yang kecil. Ketujuh, adanya era baru kesenangan. Kedelapan, perubahan bentuk kerja. Kesembilan, perempuan sebagai pemimpin. Kesepuluh, penemuan terbaru tentang otak yang mengagumkan. Kesebelas, nasionalisme budaya. Keduabelas, kelas bawah yang semakin besar. Ketigabelas, semakin besarnya jumlah manusia. Keempatbelas, ledakan praktek mandiri. Kelimabelas, perusahaan kooperatif dan keenambelas, adanya kemenangan individu. Karenanya sebagai generasi muda muslim fenomena perkembangan kekinian tidak akan pernah bisa dibendung. Kita hanya bisa menandingi atau akan terlindas oleh roda perubahan. Perubahan adalah sebuah keniscayaan dan akan terus menggelinding sampai waktu yang tak bisa ditebak. Yang menjadi persoalan adalah apakah kita memiliki peran utama dalam perubahan ini atau tidak. Atau bahkan kita hanya menjadi penonton. Apakah umat Islam akan menjadi pengendali perubahan (agent of change) peradaban dunia ini atau tidak, itu sangat bergantung kepada kita hari ini. Apakah kita mau merevolusi diri atau berdiam diri sambil bernostalgia dengan masa lalu. Bernostalgia dan berkhayal tidak akan pernah memberikan kontribusi apapun dalam pusaran perubahan dunia ini. Kita harus punya peran. Untuk itu kita sebagai generasi muda, kita harus meningkatkan kompetensi dalam rangka menghadapi dan mengendalikan perubahan masa depan. Setidaknya ada sepuluh kompetensi terkait dengan tuntutan dunia global hari ini. 1. Kompetensi Lingkungan, yaitu kemampuan memahami lingkungan internasional, atau minimal kondisi negara dimana kita tinggal. 2. Kompetensi Analitik, yaitu kemampuan untuk menganalisis peluang-peluang untuk diberdayakan demi kemajuan diri dan umat. 3. Kompetensi Strategik, yaitu kemampuan menyusun dan mengembangkan startegik didasarkan analisa kedepan dan belakang. 4. Kompetensi Fungsional, yaitu kemampuan untuk merancang program dalam mengantisipasi setiap peluang dan perubahan yang mungkin terjadi. 5. Kompetensi Manajerial, yaitu kemampuan untuk mengelola setiap kegiatan yang diarahkan pada peningkatan kualitas diri dan umat. 6. Kompetensi Profesi, yaitu kemampuan menguasai keterampilan secara profesional atau keahlian pada suatu bidang tertentu. 7. Kompetensi Sosial, yaitu kemampuan untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan suasana baru dalam setiap perubahan. 8. Kompetensi Intelektual, yaitu kemampuan untuk mengembangkan intelektualitas dan daya nalar, yang sangat dibutuhkan agar mampu membangun konsepsi demi tegaknya sebuah peradaban. 9. Kompetensi Individu, yaitu kemampuan untuk mengarahkan dan menggunakan keunggulan yang dimilikinya, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, atau keunggulan dalam bidang yang lain. 10. Kompetensi Perilaku, yaitu kemampuan untuk bersikap baik dalam setiap perilaku sesuai ajaran Islam. Kompetensi ini menjadi sangat penting sebab sistem yang baik tapi jika tidak diiringi dengan kualitas yang baik pula, maka akan menjadi kesia-siaan. Yang menjadi masalah dan tantangan dakwah kita kedepan adalah Globalisasi sebagai sebuah proses tengah kita rasakan dan tidak akan pernah bisa dihentikan. Karenanya ada sebagian masyarakat yang mengidap globalphobia karena tidak adanya kesiapan diri untuk menghadapinya. Globalisasi pada hakekatnya adalah proses borderless, sebuah proses menuju terbentuknya perkampungan dunia tanpa batas territorial. Akar globalisasi menurut Rohadi Abdulfatah ada empat aspek: pertama, percepatan komunikasi dan informasi dengan adanya berbagai penemuan radio, media cetak, telepon, TV, komputer hingga internet. Kedua, berbagai organisasi dunia seperti WHO (kesehatan), PBB, UNESCO, UNDP (kemiskinan), UNHCR (ham) dll. Ketiga, perubahan ekonomi, sosial politik dunia dengan adanya industrialisasi. Urbanisasi dan kolonialisasi. Keempat, hegemoni peradaban dan budaya oleh negara-negara maju kepada negara dunia ketiga. VII. KESIMPULAN DAN PENUTUP Pemanfaatan media massa untuk dakwah dapat kita lakukan jika kita mampu memberdayakan sumberdaya yang kita miliki secara optimal. Hal ini berarti bahwa kita harus menguasai seluk beluk teori dan praktek-praktek komunikasi antar manusia. Komunikasi antar manusia pada dasarnya adalah suatu proses interaksi antara komunikator kepada komunikan dengan tujuan untuk mencapai suatu kesamaan pengertian, pemahaman, penghayatan dan pengamalan mengenai isi pesan tertentu. Penerapan sebuah ideologi akan melahirkan sistem. Penerapan sistem akan melahirkan peradaban. Dakwah Media di Era Global pada hakekatnya adalah sebuah penyadaran umat Islam akan pentingnya menerapkan kembali ideologi dan sistem Islam yang telah diruntuhkan agar tegak kembali memimpin dunia menggantikan sistem kufur jahiliyah kapitalisme dan neo liberalisme yang jelas-jelas menimbulkan berbagai kerusakan. Dengan demikian dakwah sebagai salah satu bentuk komunikasi yang berarti menyampaikan sesuatu kepada orang lain yang bersifat mengajak untuk mengubah suatu keadaan yang tidak baik menjadi yang baik dan terpuji. DAFTAR PUSTAKA Abdul Fatah, Rohadi, dan Tata Taufik, Muhammad, MANAJEMEN DAKWAH DI ERA GLOBAL Sebuah Pendekatan Metodologi, Jakarta: CV Fauzan Inti Kreasi, 2004. Hafidhuddin, Didin, DAKWAH AKTUAL, Jakarta: Gema Insani Press, 1998. Majelis Tabligh & Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dakwah Islam Kontemporer Tantangan dan Harapan, November 2008. Rodja Sukarta, Mad, SAATNYA UMAT ISLAM BANGKIT, Bogor: DM Grafika, 2008.