Senin, 09 April 2012

Jerusalem, Damai di Pelukan Islam (I)

REPUBLIKA.CO.ID,Tahun masehi menunjukkan hitungan 638. Syahdan masuklah pasukan Islam ke al-Quds di Jerusalem (Aelia, Jebus) untuk mengusir tentara penjajah Bizantium (Romawi TImur) yang lalim. Penduduknya menetapkan syarat: kota suci itu hendaknya diserahkan kepada Khalifah Umat Ibn Khattab (Khalifah kedua sesudah Abu Bakar, kepala pemerintahan Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat) sendiri. Atas undangan Saphronius, Uskup Agung al-Quds, datanglah Umar untuk menerima kunci kota. Di kala itulah Pemimpin Islam tersebut mengeluarkan ikrarnya yang masyhur, bagi penduduk kota tujuan Nabi Muhammad berjalan malam (Isra) dan pangkal Mi'rajnya ke langit ke tujuh.

Kepada warga ia tetapkan, ''Demi Allah!, jaminan keamanan bagi diri mereka, kekayaan, gereja, dan salib mereka, bagi yang sakit, bagi yang sehat, dan seluruh masyarakat beragama di Kota Suci itu; bahwa gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau dihancurkan, takkan ada satu barang pun diambil dari mereka atau kediaman mereka, atau dari salib-salib maupun milik penghuni kota, bahwa para warga tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, bahwa tak seorang pun akan dicederai. Dan bahwa, tak seorang Yahudi pun akan menghuni Aelia.''

Menurut ''Al-Quds Document'' yang diterbitkan Organisasi Konferensi Islam, janji Umar bahwa ''tak seorang Yahudi pun menjadi penghuni Aelia, Jerusalem'' diberikan atas permintaan Saphronius sendiri. Ini mengingat pengkhianatan orang Yahudi, membantu penguasa Persia yang membawa lari Salib (tetapi berhasil direbut kembali oleh Heraclius) di awal abad ke-7 masehi. Namun Umar menolak permintaan uskup tersebut. Ia tetap memperbolehkan, orang-orang Yahudi tetap diberi hak memasuki dan tinggal di Jerusalem.

Ikrar itu disaksikan oleh para Sahabat Nabi dan pahlawan Islam yang tersohor seperti Khalid Ibn Walid, Amr Ibn 'Aash, Abdurrahman Ibn Auf, dan Muawiyah Ibn Abi Sufyan. Menurut catatan para pakar sejarah, penaklukan Jerusalem, Palestina dan Syam (Suriah) oleh pasukan Islam ternyata berjalan sangat mulus dan mudah. ''Boleh jadi orang-orang Suriah di abad ke-7 itu memandang kaum Arab Muslim lebih dekat kepada mereka dalam kaitan kesukuan, bahasa maupun barangkali juga agama, dibanding para penguasa Bizantium (Romawi Timur),'' tulis Philip Hitti.

Begitulah Umar membangun fondasi toleransi sejalan dengan semangat yang ditetapkan Isla: '"Tak ada paksaan dalam agama. Telah jels beda petunjuk dan kebohongan'' (Alquran). Para pakar sejarah mencatat betapa rakyat Palestina dan warga al-Quds menyambut baik datangnya kekuasaan Islam. Kebanyakan orang-orang itu beragama Kristen dan sebagian kecil di antara mereka orang Yahudi. Dan orang-orang Yahudi Samaritan bekerja sama dengan pasukan Islam dalam perebutan kota itu dari tangan kaum Bizantium.

Seorang rabbi Yahudi menulis tentang masa awal Islam ini, ''Jangan risau, wahai Putera Iahve, Sang Pencipta yang Maha Mulia menciptakan Kerajaan Ismail hanya untuk membebaskan kalian dari kejahatan ini (Bizantium).'' Kaum Kristen pun menyambut baik kekuasaan Islam dan bekerjasama dengan pemerintahan khalifah Muawiyah. Seorang ahli sejarah anggota Gereja Suriah Timur sampai mengungkap perasaannya dengan menulis, ''Tuhan telah mengirim orang-orang Arab untuk membebaskan kita dari genggaman kaum Bizantium. Kebaikan yang kita peroleh dari kekejian dan kebencian orang Bizantium sungguh bukan hal yang layak diremehkan.''

Al-Quds memang mempunyai ikatan tak terlepaskan dari agama-agama wahyu (samawi). Dan selama berapa di bawah pemerintahan Islam, rakyat Jerusalem hidup dengan damai dan penuh toleransi. Para khalifah, pangeran dan penguasa Islam lainnya sangat memuliakannya. Mereka membangun masjid-masjid, dan mengizinkan pembangunan biara-biara, sinagog-sinagog, jalan, sekolah dan tempat pemakaman, dan memperlakukannya sebagai kawasan yang penuh nilai keagamaan. Mereka menghias, memugar, bangunan-bangunan lama dan mendirikan yang baru, membuat al-Quds benar-benar indah. Kebebasan beragama berlaku untuk seluruh warga tanpa kecuali, di samping memberikan keamanan dan ketenteraman kepada para peziarah.

Sangat bertentangan dengan itu, tatkala pasukan Salib Eropa menyerbu Jerusalem, hanya tinggal dua orang Yahudi yang tersisa di kota itu pad tahun 1267. Berangsur-angsur orang Yahudi berdatangan kembali. Maka ketika Rabbi Obadia Dampier Tivoro dari Italia mengunjungi al-Quds pada tahun 1488 untuk mengenal keadaan masyarakat Yahudi, ia pun menuliskan kesan-kesannya, ''Orang Islam tidak menindas orang Yahudi di negeri ini. Saya melanglang ke berbagai pelosok tanpa ada yang menghalangi. Mereka murah hati dan bersikap baik kepada orang asing, utamanya yang tidak memahami bahasa mereka. Mereka juga tidak takut melihat orang-orang Yahudi berkumpul.''

Kebijakan Penguasa Islam Daud menduudki Al-Quds -- yang ketika itu bernama Jebus -- yang abad ke-11 sebelum masehi. Dan pilihannya tepat mengingat kota itu memiliki perbentengan dan mudah dipertahankan. Juga, Jebus jauh dari daerah-daerah tempat tinggal suku-suku, serta berada di jalan penting masa itu. Daud memang pahlawan dengan mengalahkan Jalut (Goliath) dalam peperangan, dan sebagai Rasul dialah penerima Zabur. Putera Daud, Sulaiman, mewarisi tahta serta memerintah selama 30 tahun, dan dalam masa pemerintahannya bertabur banyak kisah fantastik yang menyiratkan kemuliaan Rasul Allah ini. Sulaimanlah pembangun Haikal yang batu-batunya diyakini oleh kaum Yahudi masih tersisa serta terpasang di dinding ratapan, dan dinding ini tak lain adalah batas Masjid Al-Aqsha.

Tempat-tempat suci Kristen selama dalam pelukan tentara Muslim, tetap tidak diganggu gugat. Bahkan ketika Khalifah Umar memasuki kota ini, ia kemudian bersama Uskup Saphronius ke Gereja Kebangkitan, dan bersembahyang di luarnya. Ia bisa saja melakukan shalat di dalam gereja, tetapi itu tidak dilakukannya, dengan maksud agar orang Islam tidak terangsang merebut gereja itu dari tangan umat Kristen. Juga, tatkala Muawiyah Ibn Abi Sufyan menjadi khalifah pada 40 Hijriyah, ia mengunjungi Bait Al-Maqdis (Al-Quds) dan bersembahyang di Golgotha, kemudian pergi ke Gethsemane serta melakukan shalat di Jirat Maria. Keduanya merupakan tempat-tempat paling suci agama Kristen di kota itu.

Dalam kunjungan ke al-Quds, Khalifah Umar juga bermaksud mencari tempat di mana Nabi Muhammad melakukan Mi'raj. Kepada Saphronius ditanyakannya ihwal Karang Suci, dan sisa-sisa Masjid Al-Aqsa. Setiba di sana dengan tangannya sendiri ia bersihkan kotoran yang bertumpuk, yang memang sengaja dilemparkan oleh orang Bizantium untuk menimbulkan kejengkelan warga kota. Dibentangkannya jubah lalu ditumpuknya kotoran-kotoran di jubah itu, diikuti orang-orang Islam lain. Setelah itu ia pergi ke ceruk tempat sembahyang Nabi Daud, bertakbir, berjusud. Ia bangun masjid di karang itu, yang dikenal sebagai masjid Kubah Karang Suci.