Senin, 09 April 2012

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Baiat Saqifah Bani Sa'idah (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Usamah bin Zaid yang telah melihat Nabi pagi itu pergi ke masjid, seperti orang-orang Islam yang lain, dia pun menduga bahwa Nabi sudah sembuh. Bersama-sama dengan anggota pasukan yang hendak diberangkatkan ke Syam, ia kembali ke Madinah. 

Usamah pergi ke rumah Aisyah dan menancapkan benderanya di depan pintu rumah itu, sambil menantikan keadaan kaum Muslimin.

Sebenarnya, Muslimin sendiri dalam keadaan bingung. Setelah mereka mendengar pidato Abu Bakar dan yakin sudah bahwa Rasulullah SAW sudah wafat, mereka lalu terpencar-pencar.

Golongan Anshar menggabungkan diri kepada Saad bin Ubadah di Saqifah (semacam balairung) Bani Sa'idah; Ali bin Abi Talib, Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah menyendiri pula di rumah Fatimah; pihak Muhajirin, termasuk Usaid bin Hudzair dari Bani Abdul-Asyhal menggabungkan diri kepada Abu Bakar.

Sementara Abu Bakar dan Umar dalam keadaan demikian, tiba-tiba ada orang datang menyampaikan berita kepada mereka, bahwa Anshar telah menggabungkan diri kepada Saad bin Ubadah, dengan menambahkan bahwa, "Kalau ada masalah yang perlu diselesaikan dengan mereka, segera susullah mereka, sebelum keadaan jadi berbahaya. 

Jenazah Rasulullah SAW masih di dalam rumah, belum lagi dimakamkan dan keluarganya juga sudah menutupkan pintu.

"Baiklah," kata Umar menujukan kata-katanya kepada Abu Bakar. "Kita berangkat ke tempat saudara-saudara kita dari Anshar itu, supaya dapat kita lihat keadaan mereka."

Ketika sampai di Saqifah Bani Sa'idah, Abu Bakar dan Umar melihat di tengah-tengah mereka (Anshar) ada seorang laki-laki yang sedang berselubung. "Siapa ini?" tanya Umar.

"Saad bin Ubadah. Dia sedang sakit," jawab mereka.

Setelah pihak Muhajirin duduk, salah seorang dari Anshar berpidato. "Kami adalah Ansharullah dan pasukan Islam, dan kalian dari kalangan Muhajirin sekelompok kecil dari kami yang datang ke mari mewakili golongan tuan-tuan. Ternyata mereka itu mau menggabungkan kami dan mengambil hak kami serta mau memaksa kami."

Yang demikian ini memang merupakan jiwa Anshar sejak masa hidup Nabi. Oleh karena itu, begitu Umar mendengar kata-kata tersebut, ia ingin segera menangkisnya. Tetapi oleh Abu Bakar ditahan, sebab sikapnya yang keras sangat menghawatirkan.
"Sabarlah, Umar!" katanya.

Kemudian Abu Bakar berbicara kepada kaum Anshar. "Saudara-saudara, kami dari pihak Muhajirin orang yang pertama menerima Islam, keturunan kami baik-baik, keluarga kami terpandang, kedudukan kami baik pula. Di kalangan Arab kamilah yang banyak memberikan keturunan, dan kami sangat sayang kepada Rasulullah. Kami sudah Islam sebelum kalian dan di dalam Alquran juga kami didahulukan dari kalian, seperti dalam firman Allah, "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik..." (QS. At-Taubah: 100).

"Jadi, lanjut Abu Bakar, "Kami Muhajirin dan kalian adalah Anshar, saudara-saudara kami seagama, bersama-sama menghadapi rampasan perang dan mengeluarkan pajak serta penolong-penolong kami dalam menghadapi musuh. Apa yang telah kalian katakan, bahwa segala kebaikan ada pada kalian, itu sudah pada tempatnya. Kalianlah dari seluruh penghuni bumi ini yang patut dipuji. Dalam hal-ini orang-orang Arab itu hanya mengenal lingkungan Quraisy ini. Jadi, dari pihak kami para amir dan dari pihak tuan-tuan para wazir."