Senin, 09 April 2012

Mujahidah: Hafshah binti Sirin, Tabi'in Ahli Ibadah

REPUBLIKA.CO.ID, Hafshah binti Sirin adalah seorang wanita mulia, termasuk salah seorang tabi'in yang terkenal dengan ibadah dan kecakapannya dalam bidang fikih, juga dalam membaca Alquran dan hadits.

Iyas bin Mu’awiyah berkata, "Aku belum pernah menjumpai seorang pun yang lebih utama dari Hafshah binti Sirin."

Adapun para wanita mulia di zaman tabi'in dapat diketahui pada perkataan Abu Daud, "Wanita-wanita tabi'in yang mulia adalah Hafshah binti Sirin, Amrah binti Abdurrahman, dan berikutnya Ummu Darda As-Sughra."

Adapun dalam hal ibadah, kebiasaan yang dilakukan Hafshah benar-benar luar biasa. Diantaranya dia selalu melaksanakan shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh di masjidnya. Dan dia tetap di dalam masjid hingga matahari benar-benar muncul bersinar, kemudian dia melakukan shalat Dhuha, lalu baru keluar.

Selain itu, dia selalu tetap dalam keadaan suci dengan wudhunya. Bahkan ketika hendak beranjak tidur, hingga kemudian ketika waktu shalat tiba dia kembali ke masjidnya sebagaimana sebelumnya.

Mahdi bin Maimun menyebutkan bahwa Hafshah berdiam diri di tempat shalatnya selama 30 tahun, tidak pernah keluar kecuali untuk menunaikan kebutuhannya dan untuk menemui seseorang. Dan setiap malam secara rutin Hafshah membaca setengah Alquran.

Dia juga rajin berpuasa Daud (berselang satu hari) secara terus menerus sepanjang tahun, dan berbuka ketika dua hari raya Ied dan hari-hari tasyriq.

Hafshah mempunyai kain kafan, apabila sedang berhaji atau masuk ke kawasan Masjidil Haram dia selalu memakainya. Dan bila tiba masa 10 hari terakhir bulan Ramadhan, dirinya bersiap-siap melakukan qiyamul lail dengan memakai baju kafannya.

"Wahai para pemuda, persiapkanlah diri kalian, karena kalian adalah pemuda, karena aku lihat amal yang terbaik dilakukan waktu masih muda!" demikian Hafshah kerap berpesan.

Hafshah meriwayatkan beberapa hadits dari saudaranya, Yahya, dan Anas bin Malik, Ummu Athiyah Al-Anshariyah, Rubab Ummu Raih, Abu Al-Aliyah, Abu Dzibyan Khalifah bin Ka’ab, Rabi’ bin Ziyad Al-Haritsi, dan Khairah Ummul Hasan Al-Bashri. Dan dikatakan dia juga bahwa dia meriwayatkan hadits dari Salman bin Amir dan Al-Dhabbi dan beberapa orang lainnya.