Senin, 09 April 2012

Kiai Muhammad Saleh Darat Semarang

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Devi Anggraini Oktavika/ Wartawan Republika

Ia mempelopori penulisan tafsir Alquran dan buku agama berbahasa Jawa.

Guru para ulama. Julukan itu tampaknya begitu layak disematkan kepada Kiai Muhammad Saleh Darat Semarang.  Betapa tidak. Ulama besar di abad ke-19 M itu adalah seorang guru yang berhasil mencetak ulama dan tokoh-tokoh terkemuka di Tanah Air, seperti KH Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan Raden Ajeng Kartini (pahlawan nasional Indonesia).

Kiai Muhammad Saleh mendirikan sebuah pesantren di sebuah daerah pesisir bernama Darat, Semarang. Ia kemudian akrab disapa “Kiai Saleh Darat Semarang” atau “Muhammad Saleh Darat as-Samarani.” Pesantren itu telah menjadi kawah candradimuka yang mampu mencetak para ulama terkemuka di Indonesia.

Saleh Darat dilahirkan pada 1820 M, di salah satu sudut kecil Kota Jepara, desa Kedung Cumpleng. Ayahnya bernama KH Umar, seorang ulama yang pernah bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan penjajah Belanda.

Layaknya anak kiai pada umumnya, Saleh menghabiskan masa kecil dan remajanya dengan belajar Alquran, juga berbagai ilmu agama. Mula-mula ia belajar pada KH Syahid (ulama besar di Pati Jawa Tengah), lalu ayahnya membawanya untuk nyantri pada beberapa kiai besar di Semarang, seperti KH Muhammad Saleh Asnawi Kudus, KH Ishaq Damaran, KH Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni, KH Ahmad Bafaqih Ba’lawi, dan KH Abdul Gani Bima.

Usai menimba ilmu di Semarang, Saleh diajak ayahnya ke Singapura, dan ke Makkah untuk berhaji beberapa tahun kemudian. Ayahnya wafat di Makkah, dan Saleh memutuskan untuk menetap dan belajar di sana.

Selama di Tanah Suci, ia berguru kepada sejumlah ulama terkemuka, seperti; Syekh Muhammad al-Murqi, Syekh Muhammad Sulaeman Hasbullah, Syekh Sayid Muhammad Zein Dahlan, Syekh Yusuf al-Misri, dan Syekh Jamal Mufti Hanafi. Sedangkan teman belajarnya antara lain KH Muhammad Nawawi Banten (Syekh Nawawi al-Jawi) dan KH Cholil Bangkalan.

Setelah beberapa tahun belajar di kota suci pertama umat Islam itu, Saleh mendapat pengakuan dari gurunya. Berbekal otaknya yang encer, ia dipercaya untuk menjadi pengajar di Makkah. Di sanalah ia menjadi guru seorang calon ulama besar saat itu, Hasyim Asy’ari, salah satu murid asal Indonesia.

Kiai Saleh Darat kembali ke tanah kelahirannya, Semarang. Ia lalu mengabdikan dirinya untuk mengajarkan ilmu agama yang dikuasainya dengan mendirikan pesantren di daerah yang namanya melekat pada nama Saleh kemudian. Di sana, ia banyak melakukan dakwah dan pengajian Alquran.

                                                                    ***

Pada satu hari, pengajian  Kiai Saleh yang digelar  di Pendopo Kesultanan Demak dihadiri seorang perempuan keturunan priyayi Jepara. Ialah Raden Ajeng Kartini, yang saat itu tengah berkunjung ke kediaman pamannya, Ario Hadiningrat, sang Bupati Demak.

Kala itu, Kiai Saleh mengupas makna surah al-Fatihah. Kartini yang tertarik pada cara Saleh menguraikan makna ayat-ayat tersebut meminta agar Alquran diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa.

"Tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya," kata Kartini, seperti dikutip dalam sebuah catatan kaki buku Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral (2010).

Ide Kartini disambut gembira oleh Kiai Saleh Darat, meski ia tahu itu bisa membuatnya dipenjara. Maklum, pada masa itu pemerintah Hindia-Belanda melarang segala bentuk penerjemahan Alquran. Kitab tafsir Alquran berbahasa Jawa segera dikerjakannya.

Agar tidak dicurigai penjajah, Kiai Saleh menggunakan huruf Arab gundul atau tanpa harakat (pegon) yang disusun membentuk kata-kata dalam bahasa Jawa. Alquran terjemahan ke dalam bahasa Jawa itu diberi judul Faid Ar-Rahman.

Kitab tafsir dan terjemahan yang disusunnya itu menjadi kitab tafsir berbahasa Jawa pertama di Nusantara yang ditulis dalam aksara Arab. Setelah dicetak, Saleh menghadiahkan satu eksemplar kitab tersebut pada Kartini saat menikah dengan Bupati Rembang, Raden Mas Joyodiningrat.


                                                                             ***

Saat menerima Alquran terjemahan bahasa Jawa itu, dengan perasaan senang Kartini berucap, "Selama ini surah al-Fatihah gelap artinya bagi saya. Saya tidak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini, dia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai (Saleh Darat) telah menerangkan dalam bahasa Jawa yang saya pahami."

Terbantu memahami lebih banyak isi Alquran, Kartini terpikat pada satu ayat yang menjadi favoritnya, yakni "Orang-orang beriman dibimbing Allah dari kegelapan menuju cahaya" dalam ayat ke-257 surah al-Baqarah. Oleh sastrawan Sanusi Pane, judul buku kumpulan surat Kartini dalam bahasa Belanda Door Duisternis Tot Licht diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, mengacu pada ayat favoritnya itu.

Sejak itu Saleh banyak menulis buku menggunakan tulisan Arab pegon, dan hampir semuanya berbahasa Jawa. Ia hanya sedikit menulis buku berbahasa Arab karena ingin tulisannya dapat dipahami dan dicerna dengan baik oleh masyarakat. Ia adalah ulama pertama di Jawa Tengah yang mempelopori penulisan buku agama berbahasa Jawa sehingga buku-bukunya sangat digemari masyarakat awam.

Di antara penggemarnya adalah sejumlah pesantren di Jawa Tengah yang menjadikan karya Kiai Saleh sebagai buku ajar. Kiai Saleh memberi kontribusi yang luar biasa dalam menyediakan referensi pelajaran keislaman yang ‘dekat’ dengan masyarakat.

Karya-karyanya yang terkenal antara lain:  Kitab Majmu’ah asy-Syari’ah al-Kafiyah li al-‘Awwam (Buku Kumpulan Syariat yang Sesuai bagi Orang Awam), Kitab al-Hikam (Buku tentang Hikmah), Minhaj al-Atqiya’ (Jalan Orang-orang Bertakwa), Kitab Manasik al-Hajj (Buku tentang Manasik Haji), Kitab Lata’if at-Taharah (Buku tentang Rahasia Bersuci), Kitab Pesalatan (Kitab tentang Shalat), dan Kitab Asrar as-Salah (Buku tentang Rahasia Shalat).

Hingga kini,  buah karya Saleh Darat masih diterbitkan ulang di Semarang. Buku-buku itu khususnya digunakan di kalangan pesantren dan jamaah majelis taklim di berbagai pelosok Jawa Tengah. Melalui buku-bukunya itu,  juga pesantren yang pernah dibinanya, pemikiran Kiai Saleh Darat tetap hidup di kalangan umat Islam di wilayah yang pernah menjadi ladang dakwahnya.

Ia dikenal sebagai sosok ulama yang sederhana dan bersahaja. Meski begitu, ia mampu melahirkan sejumlah ulama besar Indonesia. Selain KH Hasyim Asy’ari KH dan Ahmad Dahlan, sederet nama yang pernah menjadi murid Saleh Darat adalah KH Mahfudz (pendiri Pondok Pesantren Termas, Pacitan), KH Idris (pendiri Pondok Pesantren Jamsaren, Solo), KH Sya’ban (ulama ahli falak di Semarang), KH Muhammad Dasuki (penghulu Tafsir Anom ke-22 Keraton Surakarta Hadiningrat), dan KH Dalhar (pendiri Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang).

Kiai Saleh Darat tutup usia pada 18 Desember 1903. Ia wafat dalam usia 83 tahun. Dalam sebuah sambutan pada pelepasan jenazahnya di serambi Masjid Agung Surakarta, seorang kiai berkata, “Simbah Kiai mirip yang disabdakan Rasulullah SAW saat ditanya salah seorang sahabat tentang manusia terbaik, (Rasulullah menjawab) ‘Mereka yang panjang umurnya dan baik amalnya’ (HR Tirmidzi).”

Kiai Saleh Darat  adalah ulama panutan. Teladan bagi para ulama di zaman modern ini.  Jasa dan pengabdiannya bagi agama dan bangsa sungguh begitu besar.