Jumat, 13 Agustus 2010

PEMUDA MUWAHHID, PEMBERANI, KUAT, DAN CERDAS

Renungilah dengan baik penggalan kisah perjuangan da’wah tauhid nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam ini. Anda akan dapati banyak pelajaran untuk kehidupan dan perbekalan berharga untuk perjuangan.

Ibrah pertama. Ibrahim seorang muwahhid (bertauhid)

“Dan seseungguh telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran (rusyd).”

Inilah pelajaran pertama yang nampak jelas terlihat dari keseluruhan kisah di atas. Upaya penghancurannya terhadap berhala-berhala yang disembah ayah dan kaumnya, nerupakan rasa ghirah (cemburu) terhadap agama tauhid, agama yang sama sekali tidak mengakui lebih dari satu atau banyak sesembahan, seperti apa pun bentuknya. Ia membersihkan sumber-sumber kemusyrikan yang menodai aqidah tauhid dengan cara benar, berani, dan cerdas. Sehingga Allah Jalla wa ‘Ala pun mengakuinya sebagai muwahhid, memiliki agama yang lurus (hanif), dan dijadikannya manusia pilihan dan kekasihNya.

Dan siapakahyang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang iapun mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (QS. An Nisa (4): 125)

Bahkan Allah Jalla wa ‘Ala menyalahkan manusia yang tidak mau mengikkuti millah Ibrahim. Sebagaimana rirmanNya:

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yangshalih.” (QS. Al Baqarah (2): 130)

Maksud dari Kami telah memilihnya di dunia adalah menjadi Imam, Rasul, banyak keturunannya yang menjadi nai, dan diberi gelar khalilullah (kekasih Allah).

Dalam suatu riwayat dari Ibnu ‘Uyainah, dikemukakan bahw Abdullah binj Salam mengajak dua anak saudaranya, Salamah dan Muhajir untuk masuk Islam dengan berkata: “Kau berdua telah mengetahui, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman di dalam Taurat, bahwa Ia akan mengutus dari keturunan Ismail, seorang Nabi bernama Ahmad. Barangsiapa yang beriman kepadanya, ia telah mendapat petunjuk dan bimbingan, dan barangsiapa yang tidak iman kepadanya, akan dilaknat. Maka masuk islamlah Salamah, akan tetapi Muhajir menolak. Maka turunlah ayat tersebut di atas (QS. 2 : 130) yang menegaskan bahwa hanya orang-orang bodohlah yang tidak beriman kepada agama Ibrahim. (Shafwatul Bayan, hal. 20)

Penegasan bahwa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah seorang muwahhid telah ditegaskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dalam salah satu haditsnya:

Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Rasulullah mengajari kami do’a: “Pagi hari kami lewati dengan agama fitrah Islam, di atas kalimat yang murni (tauhid), di atas agama nabi kami Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam, dan di atas millah (agam) ayah kami Ibrahim yang hanif (lurus), dan dia bukanlah termasuk orang-orangmusyrik.” (HR. Abdullah bin Ahmad bin Hambal dalam Az Zawaidnya)

Inilah perbekalan yang paling pertama dan utama, khusunya untuk anda para aktifis da’wah sekolah dan kampus. Karena lurusnya fitrah, bersihnya aqidah, merupakan awal dari segala kebaikan , keshalihan, dan kekuasaan. Sungguh, militansi anak Rohis masa lalu karena berawal dari sini; mereka tidak mau menghadiri upacara bendera karena menganggapnya sebagai ritual berbau syirik dan tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir), tidak concern dengan mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), menutup telinga dari seluruh yang berbau gaya hidup Barat mulai dari nyanyian, jeans, dan lain-lain. Itu telah menjadi bagian sejarah da’wah ini yang telah berlalu…

Ibrah Kedua. Pemuda Pemberani

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?”

Sungguh! Ini adalah pertanyaan yang mengandung resiko besar. Ayahnya sendiri, Azar, juga kaumnya diberikan pertanyaan yang belum pernah dilontarkan oleh siapa pun pada zaman itu. Agam paganis (watsaniy) yang telah berabad-abad lamanya, sebagaimana firmanNya: Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya,” telah digugat oleh pemuda bernama Ibrahim. Sungguh Ibrahim bukannya tidak tahu resiko dan bahaya yang menantinya, namun memperjuangkan aqidah tauhid telah menghilangkan semua rasa takutnya.

Mereka berkata: “Kamai dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yangbbernama Ibrahim.” Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” Inilah resiko dan bahaya yang dimaksud.

Bahkan pemuda Ibrahim berani mengancam, Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Ancaman ini bukan gertak sambal, bukan pula terror, melainkan kebenaran yang ia laksanakan dengan cara menghancurkjan berhala-berhala sesembahan ayah dan kaumnya. Masih mending jika berhala-berhala tersebut disembunyikan atau ditutup dengan kain, tetapi Ibrahim tidak demikian, tidak selemah itu. Di balik penghancuran itu, ia punya rencana yang telah disiapkan untuk mematahkan argument kaumnya. Artinya kebenranian Ibrahim bukanlah asal berani, tetapi berani yang terukur dan terkalkulasi. Keberanian bertindak agar kaumnya mau berfikir mengevaluasi kebiasaan mereka, agar Raja Namrudz, sumber power kejahatan saat itu, yang telah lama Ibrahim bidik.

Berani merupakan karakter Anda wahai pemuda…wahai para thulab…

Ia bukan milik pemuda Ibrahin saja, tetapi ia ada dalam diri Anda. Galillah, lalu asah lah sebab sesungguhnya Allah Ta’ala bersama Anda, bersama orang yang berbuat ihsan,dan para da’i ilallah…

Bukanlah pemuda yang hanya berkata: Inilah bapakku!

Tetapi pemuda adalah yang berani berkkata: Inilah aku!

Ibrah Ketioga. Pemuda yang Kuat

Maka Ibrahim, bukan hanya kut aqidah dan tekadnya, tetapi juga fisiknya. Rencana matang yang dibuatnya, bisa saja gagal bila ia tidak ditopang kekuatan fisik. Ia mampu menunaikan dengan sempurna, dengan menghancurkan berhala tersebut menjadi judzaadzan yang berarti qitha’an wa kasaran (terpotong-potong dan hancur berkeping) karena kekuatan fisiknya.

Agenda da’wah teramat banyak, dengan perjalanan yang panjang, penuh onak dan duri, juga hadangan musuh, tentu amat dibutuhkan pejuang-pejuang yang tidak mudah lelah dan lemah. Karena itu Syahidul Islam, Al Imam Hasan Al Banna Rahimahullah menjadikan qawiyyul jismi(tubuh yang kuat) sebagai muwashafat (sifat dasar) pertama dari sepuluh muwashafat pribadi muslim ideal.

Lihatlah para mujahidin Afghan, Chechnya, Bosnia, pasukan long marchnya Jendral Sudirman, dan lainnya, yang mereka menyusuri hutan belantara, mendaki gunung, berbukit, terjal, licin, gelap, dengan persediaan makanan sekedarnya, juga dengan barang bawaaan yang sangat banyak. Mereka tidak mengeluh apalagi mundur demi menjaga kehormatan Islam dan tanah airnya. Itu semua karena kakuatan; iman, ‘Azam, dan fisik.

Saat ini, tidak sedikit para aktifis da’wah yang pandai berkilah dan bermain ‘seni peran’ dalam meminta izin, yang pada intinya menghindar dari beban da’wah. Afwan ini…afwan itu…mereka selalu mencari-cari alasan untuk menghindari tanggung jawab da’wah. Akhirnya, mereka ‘jomblo’ aktifitas, ‘jomblo’ halaqah (baca: tidak memiliki binaan), walau usia tarbiyah sudah di atas lima tahun!

Flu sedikit, izin. Batuk sedikit, izin. Padahal jika ia ikhlaskan untuk tetap berangkat, mudah-mudahan itu menjadi washilah untuk kesembuhannya. Adakah kita menyadarinya?

Ibrah Keempat. Pemuda yang Cerdas

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”, kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) member mudharat kepada kamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?”

Dialog ilmiah ini, menunjukkan kekuatan hujah Ibrahim. Kaumnya telah tahu bahwa berhala itu tidak bisa berbicara, jangankan memberi mudharat atau manfaat bagi manusia, menjaga diri sendiri saja tidak mampu; lalu kenapa kalian sembah?!

Bukan itu saja kecerdasan pemuda Ibrahim ‘Alaihissalam, Al-Qur’an juga merekam pada ayat lain.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Katika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqarah (2): 258)

Orang yang mendebat Ibrahim adalah Raja Namrudz. Ibrahim ‘Alaihissalam menegaskan bahwa Tuhannya dan juga Tuhan bagi Namrudz adalah Allah yang bisa menghidupkan atau mematikan. Namun Namrudz menjawab: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Maksud raja Namrudz dengan menghidupkan ialah membiarkan hidup, dan yang dimaksud dengan mematikan ialah membunuh. Perkataan itu untuk mengejek Nabi Ibrahim a.s. tetapi Ibrahim tidak kehabisan akal, ia berkata lagi: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.” Maka bungkamlah Namrudz sebab ia tidak mampu. Jangankan menerbitkan matahari dari barat, menerbitkan dari timur – sekedar untuk setara dengan perbuatan Allah – saja tidak bisa, apalagi melebihinya.

Contoh lain adlah surat Al-An’am ayat 76-83, tentang perdebatan Ibrahim dengan kaumnya seputar siapakah yang layak disembah. Para ahli filsafat dan sebagian cendikiawan muslim yang terbaratkan telah menjadikan ayat-ayat tersebut sebagai alasan bahwa ‘Ibrahim mencari Tuhan’, seakan-akan sebelumnya Ibrahim orang yang tidak mengetahui Tuhannya. Ada pula yang mengatakan – lantaran ayat tersebut, Ibrahim adalah Bapak Monoteisme. Seakan-akan para Nabi ‘Alaihimussalam sebelum Ibrahim adalah politeisme. Na’udzubillah! Para Nabi sejak awal hingga rasulullah Saw semuanya adlah membawa agama tauhid, mengesakan Allah semata. Padahal yang benar adalah ayat-ayat tersebut tentang perdebatan Ibrahim melawan kaumnya, bukan Ibrahim sedang mencari Tuhan. Itulah yang terjadi bila menafsiri ayat secara tidak utuh.

Simaklah ayat-ayat dalam surat Al-An’am berikut secara utuh:

(76)”Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam ia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (77) “Kemudian tatkala ia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku” tetapi setelah bulan terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak member petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (78) Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (79) “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agma yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (80) “Dan dia dibantah oleh kaumnya/. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah member petunjuk kepadaku.” Dan aku tidak takkut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali dikala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pegetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (81) “Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak memepersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah diantara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (malapetaka), jika kamu mengetahui?” (82) “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang yng mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (83) “Dan itulah hujjah kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Ayat 76 – 79 merupakan cara Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam mendebat kaumnya, dengan menyelami apa yang difikirkan oleh kaumnya. Sama sekali bukan Nabi Ibrahim sedang mencari Tuhan! Lihatlah kalimat yang dibold (dihitamkan) menunjukkan bahwa ia sedang berdebat dengan kaumnya untuk mengajak mereka bertauhid.

Inilah pemuda Ibrahim, ia memiliki apa-apa yang diperlukan perjuangan pemuda, keyakinan yang mendalam terhadap aqidah (ideologi) tauhid, keberanian, kekuatan, dan kecerdasan. Semoga para da’i, khususnya aktifis da’wah sekolah dan kampus mampu mengambil Durus wa ‘Ibar (pelajaran dan hikmah) dari penggalan perjuangan Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam.