Jumat, 13 Agustus 2010

TABLIGH MENURUT AL-QUR’AN DAN HUBUNGANNYA DENGAN ILMU YANG LAIN

A. DAKWAH DALAM AL-QUR’AN Istilah tablegh dalam al qur’an diungkapkan dalam bentuk fi’il maupun masdar sebanyak lebih dari seratus kata. Al-qur’an menggunakan kata tabligh untuk mengajak kepada kebaikan yang disertai dengan risisko masing-masing pilihan. Dalam Al-qur’an, tabligh dalam arti mengajak ditemukan sebanyak 46 kali, 39 kali dalam arti mengajak kepada Islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak ke neraka atau kejahatan. Disamping itu, banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan istilah tabligh dalam konteks yang berbeda. Islam adalah agama dakwah ( tabligh ), agama menyebarluaskan kebenaran dan mengajak orang-orang yang belum mempercayainya untuk percaya, menumbuhkan pengertian dan kesadaan agar umat islam mampu menjalani hidup sesuai dengan perintah dianggap sebagai tugas suci yang merupakan tugas setiap muslim. Dakwah bukan hanya dilakukan terhadap orang-orang yang belum beragama tetapi juga dilakukan terhadap orang yang sudah beragama. Dengan demikian, setiap muslim berkewajiban untuk berdakwah. Seperti firman Allah dalam surat Ali-Imron ayat 110: Artinya : ” kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang kebajikan dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah ia lebih baik bagi mereka, diantara merek ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Ali Imron, 110 ). Dan firman Allah dalam surat Ali-Imron ayat 104: Artinya : “ Hendaklah ada sekelompok orang di antara kamu yang menyeru kepada kebajikan, menganjurkan berbuat baik dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. ( QS. Ali Imron, 104 ). Namun dalam melaksanakan tugas dakwah / tabligh, seorang da’I dihadapkan pada kenyataan bahwa individu-individu yang akan didakwahi memiliki keberagaman dalam berbagai hal, seperti pikiran-pikiran ( ide-ide ), pengalaman kepribadian, dan lain-lain. Keberagaman tersebut akan memberi corak yang berbeda pula dalam menerima dakwah ( materi dakwah ) dan menyikapinya, karena itulah untuk meng-efektifkan usaha dakwah seorang Da’I dituntut untuk memahami mad’u yang akan di hadapi. Pada hakekatnya tablighul Islam merupakan upaya untuk mengubah suatu keadaan tertentu menjadi keadaan lain yang lebih baik menurut tolak ukur islam. Menurut Amrullah Ahmad, dakwah juga merupakan aktualisasi imani yang imanifestasikan dalm suatu system kegiatan dalam bidang kemasyarakatan. Dakwah di tujukan untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir, bersikap, dan bertindak manusia baik secara individu maupun kemasyrakatan. Tujuannya adalah mengusahakan terwujudnya ajaran islam dalam semua segi kehidupan manusia dengan mengunakan cara tertentu. System dakwah/tablligh memiliki fungsi mengubah lingkungan secara lebih rinci. Ahmad Watik Pratiknya berpendapat system ini memiliki fungsi meletakan dasar eksistensi masyrakat islam. Di samping itu, dakwah islam akan menambah nilai-nilai keadilan, persamaan, persatuan, perdamain, kebaikan, dan keindahan, sebagai inti penggerak perkembangan masyarakat. Tidak sekedar itu, tabligh/dakwah islam juga membebaskan individu dan masyarakat dari system kehidupan Zalim menuju system yang adil. Yang menyampaikan kritik sosial atas penyimpangan yang berlaku dalam masyrakat, dalam rangka mengembangkan tugas nahi munkar dan melaksanakan amar ma’ruf, meletakan system sebagai inti penggerak jalannya sejarah; memberikan dasar orientasi keislaman kegitan ilmiah dan teknologi. Merealisasikan system budaya yang berakal pada dimensi spiritual yang merupakan dasar ekspresi akidah; meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menegakan hukum.mengintegrasikan kelompok-kelompok kecil menjadi suatu kesatuan umat; merealisasi keadilan dalam bidang ekonomi lemah dan memberikan kerangka dasar keselarasan hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Dari makna yang luas tersebut ada beberapa yang perlu kita perhatikan secara seksama. Kita berharap dengan memahami beberapa hal tersebut dakwah akan kita laksanakn dengan lebih baik. Pertama, dakwah (tabligh) sering di salah mengertikan sebagai pesan yang datang dari luar.pembahasan ini akan membawa konsekuensi kesalahlangkahan dakwah. bisa salah dalam formulasi pendekatan atau metodologis maupun formulasi pesan dakwahnya.karena dakwah di anggap dari luar, maka langkah pendekatan lebih di warnai dengan pendekatan interventiv dan para dai lebih mendudukan diri sebagai orang asing,tidak terkait dengan apa yang di rasakan dan di butuhkan oleh masyarakat. Kedua, dakwah (tabligh) sering menjadi sekadar ceramah dalam arti sempit.kesalahan sebenarnya sudah sering di ungkapkan, akan tetapi di dalam pelaksanaannya tetap saja terjadi penyempitan makna. Akhirnya orentasi dakwah sering pada hal-hal yang bersifat kerohanian saja.istilah B. HUBUNGANNYA DENGAN ILMU-ILMU YANG LAIN Di dalam al-quran tidak hanya menjelaskan dalam kewajiban berdakwah (tabligh) saja, akan tetapi menjelaskan pula tentang ilmu-ilmu yang lain yang berkaitan dengan kehidupan manusia di antaranya ilmu kedokteran, ilmu sosial, dan ilmu-ilmu yang lainnya contoh di dalam ilmu kedokteran di dalam al-quran Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, kemudian setelah sempurna kejadiannya, tuhan menghebuskan kepadanya ruh ciptaannya. Dengan “tanah” manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam seperti makhluk lainnya, sehingga ia butuh makan, minum, hubungan seks, dan sebagainya. Dan dengan “ruh” ia di antar kearah tujuan non materi yang tak berbobot dan tak bersubstansi dan yang tak dapat diukur di laboratorium atau bahkan dikenal dengan alam materil. Kaitannya dengan ilmu psikolgi, selain manusia merupakan makhluk individual, secara hakiki manusia juga merupakan makhluk sosial. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup seorang diri tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Dengan interaksi sosial manusia dapat merealisasikan kehidupannya secara individual. Sebab tanpa timbal balik dalam interaksi soaial, manusia tidak dapat merealisasiakan kemungkinan-kemungkinan dan potensi-potensinya sebagai individu. Menurut Al-quran, meski manusia itu merupakan kerja sama horizontal antarmanusia, tetapi ia merupakan bagian dari bagian vertical dengan tuhan. Oleh karena itu di dalam masyarakat juga ada dimensi teologis, misalny ashalat menjadi kurang bermakna jika melupakan komitman sosial dengan menzalimi orang lain, menelantarkan anak yatim, tidak peduli dengan kehidupan orang lain. Atau dengan kata lain, bahwa hidup bermasyarakat tidak cukup dengan ketakwaan individual, namun harus di barengi dengan ketakwaan sosial. Al-qur’an sebagai petunjuk manusia juga membimbing mereka dalam membangun sebuah masyarakat. Tatanan masyarakat yang dikehendaki Al-qur’an adalah masyarakat yang adil, berdasarkan etika dan dapat berthan di muka bumi, dan model masyarakat seperti itu hanya mungkin terwujud jika memiliki ideologi yang benar. Reperensi : 1. Psikologi Dakwah, Faizah S.Ag, M.A dan H. Lalu Muchin Effendi, Lc, M.A. 2. Islam,Dakwah dan Politik, Anonim. 3. Fiqhud Da’wah, Mohammad Natsir.