Jumat, 13 Agustus 2010

TAFSIR AYAT AL QUR’AN TENTANG TANDA KEKUASAN ALLAH SURAT AL ANBIYA (21) AYAT 30

A. Pendahuluan

Para pakar ahli ilmu pengetahuan di abad modern ini masih menggali pengetahuan tentang asal usul alam semesta. Mereka belomba-lomba dengan teorinya masing-masing untuk mengungkapkan bahan pertama yang membentuk alam semesta termasuk matahari dan planet-planet di dalamnya. Akhir abad ke-20, mereka baru membuka tabir misteri luar angkasa yang padahal Al-Qur’an 14 abad yang lalu sudah membicarakan dan memberikan kabar kepada manusia tentang asal usul alam semesta ini. Akan tetapi, para ilmuan barat baru memahami sekarang dengan teori yang mereka kenal; The Big Bang Theory. Tidak sedikit ketika mereka memahami bahwa Al Qur’an memang berasal dari Tuhan dengan kebenarannya, mereka masuk Islam.

Ajaran Islam memang ajaran yang bisa di fahami dengan akal, karena pada dasarnya akal itu sendiri di ciptakan untuk memahami ajaran Islam. Alangkah bodohnya orang yang telah mengetahui kebenaran Islam tapi ia enggan untuk masuk Islam.

Berikut ini akan kita telaah ayat yang berkaitan dengan proses terjadinya alam semesta sekaligus sebagai argumentasi yang kuat kepada siapa saja yng mengingkari Al Qur’an.

B. Asal Usul Alam Semesta Sebagai Tanda Kekuasaan Allah dan Bantahan Terhadap Orang-Orang Kafir

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ (30)

At Tarjamah :

“ Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”. [QS. Al Anbiya (21) : 30 ]

C. Ma’aaniya Al Musykilat

1. أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, Hamzah pada lafadz أَوَلَمْ menunjukan lil inkari artinya pertanyaan yang bermakna pengingkaran atau bantahan. و –nya diathofkan kepada ayat sebelumnya. Sedangkan maksud ar ru’yah adalah ma’na yang mendalam yang berarti : Hai orang-orang kafir! Apakah kalian tidak berfikir dan tidak mengetahui ?.

2. كَانَتَا رَتْقًا, Imam Al Akhfasy berkata : Lafadz كَانَتَا menunjukan penggabungan langit dan bumi sebagaimana disebutkan dalam surat Faathir : 41

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (41)

Artinya : “ Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun “.[1]

3. فَفَتَقْنَاهُمَا , ya’ni terpisah suatu bagian dari bagian yang lain, lalu kami tinggikan langit dan menetapkan Bumi pada tempatnya.[2]

4. وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ, ya’ni kita hidup dengan air yang Allah turunkan dari langit untuk menghidupkan segala sesuatu, termasuk hewan dan tumbuhan. Ma’nanya adalah air itu merupakan unsure penyebab hidupnya makhluk hidup. Dikatakan : yang dimaksud air adalah air mani. Mayoritas ahli tafsir berpendapat : “ Ini adalah hujjah bagi kaum musyrikin terhadap kekuasaan Allah dan keluasan ciptaan-Nya “.

5. أَفَلَا يُؤْمِنُونَ, untuk mengingkari mereka, karena mereka tidak beriman. Padahal telah ada ketetapan dari tanda-tanda tuhan mereka.[3]

D. Ma’na Al Ijmaly

a. أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا, Pada ayat ini Allah SWT menegaskan tentang kekuasaannya yang sempurna dan Maha Agung atas seluruh makhluknya. Allah menciptakan langit dan Bumi beserta segala isinya adalah dalil akan keberadaan wujudnya. Ia menyatakan pertanyaan yang berma’na pengingkaran sebagai bantahan kepada siapa saja yang tidak mengakui eksistensi dirinya. Nalar orang-orang kafir di gugah oleh ayat di atas dengan menyatakan : Dan apakah orang-orang kafir belum juga menyadari apa yang telah Kami jelaskan melalui ayat yang lalu dan tidak melihat , yakni menyaksikan dengan mata hati dan pikiran sejelas pandangan mata bahwa langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya.[4]

b. وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ, Dan Kami jadikan dari air yang tercurah dari langit, yang terdapat di dalam bumi dan yang terpancar dalam bentuk sperma segala sesuatu yang hidup. Maka apakah mereka buta sehingga mereka tidak juga beriman tentang keesaan dan kekuasaan Allah SWT? Atau belum juga percaya bahwa tidak ada satu pun dari makhluk yang terdapat di langit dan di bumi yang wajar dipertuhankan?

E. Tafsir At Tafsily

a. أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا, Para ahli tafsir menafsirkan ayat ini menurut perkembangan pengetahuan yang ada pada zamannya. Ibnu Katsir menafsirkan bahwa tujuh lapis langit dengan bumi kita ini asal mulanya adalah bersatu padu, lalu Allah memisahkan keduanya. Tujuh lapis langit naik ke atas dan tujuh lapis bumi di hamparkan. Di antara langit yang terdekat yaitu langit dunia dan bumi kita ini dipisahkan dengan udara (hawa). Maka langit pun menurunkan hujan, bumi menumbuhkan tumbuhan.[5]

Menurut riwayat Ibnu Abi Hatim, diterimanya dari ayahnya, dari Ibrahim bin Abi Hamzah, menyampaikan kepada kami Hatim dari Hamzah bin Abi Muhammad, ’Abdillah bin Dinar dari Ibnu ’Umar; bahwa datang seseorang kepada beliau bertanya tentang hal langit yang banyak itu dan bumi, yang mulanya sekepal lalu Allah memisahkannya. Kemudian Ibnu ‘Umar berkata: “Pergilah kepada tuan Syaikh dan tanyakan kepada beliau, setelah itu kembali kepadaku dan katakana apa jawabannya”. Maka orang itupun pergi kepada Ibnu ‘Abbas menanyakannya. Lalu Ibnu Abbas menjawab: “ Benar! Mulanya langit sekepal tidak menurunkan hujan, bumi pun sekepal tidak ada yang tumbuh. Tatkala Allah menciptakan penghuni bagi bumi, langit pun ditakdirkan untuk menurunkan hujan dan bumi ditakdirkan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan “.

Setelah menerima jawaban tersebut orang itu pun kembali kepada Ibnu ‘Umar dan menceritakan jawaban itu. Maka berkatalah Ibnu Umar: “ Sekarang tahulah aku bahwa Ibnu Abbas telah diberi ilmu Al-Qur’an. Dia memang benar keadaannya”, kata Ibnu Umar selanjutnya: “ Telah pernah aku katakan bahwa aku kagum atas keberanian Ibnu Abbas menafsirkan Al-Qur’an! Sekarang tahulah aku bagaimana mendalamnya ilmu yang telah diberikan kepadanya ”.[6]

Para ahli tafsir berbeda pandapat tentang ma’na firman Allah; langit dan bumi yang bersatu padu.

Diantara mereka berpendapat bahwa; Mulanya langit dan bumi itu menyatu, lalu Allah memisahkannya dan menjadikannya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.[7]

Dari Ikrimah : Keduanya bersatu padu dan tidak keluar sesuatu pun dari keduanya, lalu terpisahlah langit dengan adanya hujan dan bumi dengan tumbuhnya pepohonan, sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Thoriq : 11-12

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الرَّجْعِ (11) وَالْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ (12)

Artinya : “ Demi langit yang mengandung hujan. Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan ”.[8]

Dalam tafsir Al-Muntakhab dikemukakan dua diantara sekian banyak teori tersebut.

Teori yang pertama, berkaitan dengan terciptanya tata surya. Disini disebutkan bahwa kabut disekitar matahari menyebar dan melebar pada ruangan yang dingin. Butir-butir kecil gas yang membentuk kabut bertambah tebal pada atom-atom debu yang bergerak amat cepat. Atom-atom itu kemudian mengumpul, akibat terjadinya benturan dan akumulasi, dengan membawa kandungan sejumlah gas berat. Seiring dengan berjalannya waktu, akumulasi itu semakin bertambah besar sehingga membentuk planet-planet, bulan dan bumi dengan jarak yang sesuai. Penumpukan itu sendiri mengakibatkan bertambah kuatnya tekanan yang pada gilirannya membuat temperatur bertambah tinggi. Dan pada aat kulit bumi mengkristal karena dingin, dan melalui proses sejumlah letusan larva yang terjadi setelah itu, bumi memperoleh sejumlah besar uap air dan karbondioksida akibat surplus larva yang mengalir. Salah satu faktor yang membantu terbentuknya oksigen yang segar di udara setelah itu adalah aktivitas dan interaksi sinar matahari melalui asimilasi sinar bersama tumbuhan generasi awal dan rumput-rumputan.[9]

Selanjutnya dikemukakan oleh para pakar penyusun tafsir Al Muntakhob itu bahwa teori kedua dan yang dapat difahami dari firman Allah di atas menyatakan bahwa bumi dan langit pada dasarnya tergabung secara koheren sehingga tampak seolah satu masa. Hal ini sesuai dengan penemuan mutakhir mengenai teori terjadinya alam raya. Menurut penemuan itu, sebelum terbentuk seperti sekarang ini, bumi merupakan kumpulan sejumlah besar kekuatan atom-atom yang saling berkaitan dan di bawah tekanan sangat kuat yang hampir tidak dapat dibayangkan oleh akal. Selain itu, penemuan mutakhir itu juga menyebutkan bahwa semua benda langit sekarang beserta kandungan-kandungannya, termasuk di dalamnya tata surya dan bumi, sebelumnya terakumulasi sangat kuat dalam bentuk bola dan jari-jarinya tidak lebih dari tiga juta mil. Lanjutan firman Allah yang berbunyi ’...fa fataqnaahuma...’ merupakan isyarat tentang apa yang terjadi pada cairan atom pertamanya berupa ledakan dahsyat yang mengakibatkan tersebarnya benda-benda alam raya ke seluruh penjuru yang berakhir dengan terciptanya berbagai benda langit yang terpisah, termasuk tata surya dan bumi.[10]

b. أَفَلَا يُؤْمِنُونَ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ, “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”, yakni pangkal bagi setiap yang hidup. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abi Hurairah RA, dia berkata: “ Aku berkata, wahai Rasulullah, sesungguhnya apabila aku melihatmu, maka senanglah hatiku dan suka citalah aku. Maka beritahukanlah kepadaku ihwal segala perkara. Beliau bersabda, ‘Segala makhluk tercipta dari air’. Aku berkata beritahukanlah kepadaku sebuah amalan yang jika aku lakukan, maka aku akan masuk surga. Beliau bersabda, ‘Sebarkanlah ucapan salam, berilah makanan, sambungkanlah tali silaturrahim dan dirikanlah shalat malam tatkala orang-orang terlelap tidur. Kemudian Allah akan memasukanmu ke dalam surga dengan aman’ ”. ( HR. Ahmad )[11]

Dari Qotadah : Setiap segala sesuatu yang hidup itu diciptakan dari air ‘.[12]

Ada yang memahami ayat ini dalam arti segala yang hidup membutuhkan air atau pemeliharaan kehidupan segala sesuatu adalah dengan air, atau Kami jadikan dari cairan yang terpancar dari shulbi (sperma) segala yang hidup ya’ni dari jenis binatang.

Para pengarang tafsir Al Muntakhab berkomentar bahwa ayat ini telah dibuktikan kebenarannya melalui penemuan lebih dari satu cabang ilmu pengetahuan. Sitologi ( Ilmu tentang susunan dan fungsi sel ) misalnya, menyatakan bahwa air adalah komponen terpenting dlam pembentukan sel yang merupakan satuan banggunan pada setiap makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Sedang biokimia menyatakan bahwa air adalah unsure yang sangat penting pada setiap interaksi dan perubahan yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Air berfungsi sebagai media, factor pembantu, bagian dari proses interaksi, atau bahkan hasil dari sebuah proses interaksi itu sendiri. Sedangkan fisiologi menyatakan bahwa air sangat dibutuhkan agar masing-masing organ dapat berfungsi dengan baik. Hilangnya fungsi itu akan berarti kematian.[13]

F. Tafsir Kontekstual

1) Asal Usul Alam Semesta

Ayat ini dipahami oleh sementara ilmuwan sebagai salah satu mukjizat Al Qur’an yang mengungkap peristiwa penciptaan planet-planet. Banyak teori ilmiah yang dikemukakan oleh para pakar dengan bukti-bukkti yang cukup kuat, yang menyatakan bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu gumpalan atau yang diistilahkan oleh ayat ini dengan ratqan, lalu gumpalan itu terpisah sehingga terjadilah pemisahan antara bumi dan langit. Memang kita tidak dapat memperatasnamakan Al Qur’an mendukung teori tersebut, namun agaknya tidak ada salahnya teori-teori itu memperkaya pemikiran kita untuk memahami maksud firman Allah di atas.[14]

Pada abad ke-20 ini, tepatnya pada tahun 1927, Georges E. Lemaitre (1894-1966) ahli kosmologi Belgia telah mengutarakan suatu teori yang terkenal bernama ‘ The Big Bang Theory ‘ ( Teori Dentuman Besar ), yang menyatakan bahwa alam semesta bermula dari ledakan atom pertama. Menurut teori ini, pada akhir zaman semua benda-benda yang di alam semesta akan berkumpul kembali ke satu pusat yang sama, yang bernama lubang hitam ( black hole ).[15]

Sepanjang 1920-an, para ahli astronomi mengetahui bahwa alam semesta terlihat mengembang ke segala arah, dan hal itu membingungkan mereka. Lemaitre mengatakan bahwa setiap benda di alam semesta pada suatu waktu merupakan kesatuan seperti bola salju. Bola ini kemudian meledak dan terpecah, seperti halnya serpihan-sepihan yang terlempar ketika bola salju menghantam dinding.

Meskipun kejadian itu telah berlangsung pada masa lampau, tetapi bagian-bagian alam semesta; berbagai galaksi dan bintang-bintang yang kita kenal kini tetap bergerak memisah. Lemaitre menamakan ledakan ‘atom pertama’ (primeval atom) yang mengawali alam semesta itu ‘dentuman besar (big bang)’. Kini, teori ‘dentuman besar’ alam semesta ini diakui oleh semua astronom dunia.[16]

Edwin Hubble menemukan melalui teleskopnya bahwa galaksi menjauh dari Bumi pada kecepatan sebanding dengan jaraknya. Semakin jauh jarak sebuah galaksi, semakin besar kecepatannya menjauh dari Bumi. Setiap jarak 1 tahun cahaya, sebuah galaksi menjauh pada kecepatan 16 km/ detik. Artinya, alam semesta mengembang dalam kecepatan tak terbayangkan.[17]

2) Keajaiban Air

Para pengarang tafsir Al Muntakhab berkomentar bahwa ayat ini telah dibuktikan kebenarannya melalui penemuan lebih dari satu cabang ilmu pengetahuan. Sitologi ( Ilmu tentang susunan dan fungsi sel ) misalnya, menyatakan bahwa air adalah komponen terpenting dlam pembentukan sel yang merupakan satuan banggunan pada setiap makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Sedang biokimia menyatakan bahwa air adalah unsure yang sangat penting pada setiap interaksi dan perubahan yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Air berfungsi sebagai media, factor pembantu, bagian dari proses interaksi, atau bahkan hasil dari sebuah proses interaksi itu sendiri. Sedangkan fisiologi menyatakan bahwa air sangat dibutuhkan agar masing-masing organ dapat berfungsi dengan baik. Hilangnya fungsi itu akan berarti kematian.[18]

G. Al Khulaashoh

1) Allah SWT mengajak orang-orang kafir untuk menggunakan nalarnya bahwa jika mereka berfikir dan mengetahui langit dan bumi itu mulanya bersatu padu, lalu dengan kekuasaan-Nya terpisahlah langit dan bumi sebagai tanda-tanda kebesaran Allah.

2) Segala sesuatu yang hidup itu berasal dari air dan air merupakan sumber kehidupan makhluk hidup di muka bumi.

3) Orang-orang yang mengingkari tanda-tanda kebesaran Allah berarti mereka kafir.

4) Kebenaran absolut ajaran Islam bisa dibuktikan secara ilmiah.

5) Hendaknya orang-orang mu’min bertambah keimanannya setelah mengetahui akan kebanaran Al Qur’an yang telah dibuktikan oleh fisikawan modern.

.

Daftar Pustaka

Abul Fida Ismail Ibnu Katsir Al Kursyi Ad Damsyiqi. Tafsir Ibnu Katsir. Beirut : Al Ashriyah. 2000

Buya HAMKA. Tafsir Al Azhar. Jakarta : Pustaka Panjimas. 1983

Imam Ath Thobary. Jaami’ul Bayan Fii Ta’wil Al Qur’an. Beirut : Daar Al Kutub Al Alamiyah. 1992

Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy Syaukani. Fathul Qodir Al Jaami’ Baina Faniy ar Riwayah wad Diroyah fii ‘Ilmit Tafsir. Beirut : Daar al Kutub al ‘Alamiyah.

Muhammad Nasib Ar Rifa’I. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Depok : Gema Insani. 2000

Purwanto. Ensiklopedi Fisika. Bandung : Kiblat Buku Utama. 2007

Susanto, Ready. Ensiklopedi Tokoh Sains. Bandung : Kiblat Buku Utama. 2007

Quraish Shihab. Tafsir Al Misbah.


[1] Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy Syaukani, Fathul Qodir Al Jaami’ Baina Faniy ar Riwayah wad Diroyah fii ‘Ilmit Tafsir , h.113

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Prof. DR. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, j.8

[5] Prof. Dr. HAMKA, Tafsir Al Azhar, juz XIII-XIV, h.46

[6] ibid

[7] Ath Thobary, Jaami’ul Bayan Fii Ta’wil Al Qur’an, j.9, h. 21

[8] Ibid

[9] Prof. DR. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, j.8

[10] Ibid

[11] Muhammad Nasib Ar Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, j. III, h. 294

[12] Ath Thobary, Jaami’ul Bayan Fii Ta’wil Al Qur’an, j.9, h. 21

[13] Prof. DR. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, j.8

[14] Prof. DR. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, j.8

[15] Ready Susanto, Ensiklopedi Tokoh Sains, h.107

[16] Ibid

[17] Drs. Purwanto,B.Sc., Ensiklopedi Fisika, h. 14

[18] Prof. DR. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, j.8