Selasa, 12 Januari 2010

HAKIKAT MANUSIA

A. PENDAHULUAN

Perlu kita ketahui dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk ciptaan Allah; ia tidak muncul dengan sendirinya atau berada oleh dirinya sendiri. Sebagaimana Allah berfirman :

خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)

Artinya :

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. ” ( QS. Al `Alaq [96] : 2[1] )

Dari ayat tersebut telah menjelaskan bahwasannya manusia bukan tercipta dengan sendirinya. Jadi ada yang menciptakan yaitu Sang Kholik Allah SWT.

Sangat tidak logis bila kita berpikir bahwa semua fungsi kompleks ini terjadi “atas kemauan sendiri”. Tidak ada seorang pun yang memiliki kekuatan untuk menciptakan dirinya sendiri, menciptakan orang lain, atau menciptakan benda lain. Allah-lah yang menciptakan semua kejadian yang telah dijelaskan tadi, pada setiap saat terjadinya, setiap detiknya, dan setiap tahapannya.

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perem-puan). Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan seka-li-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (QS. Faathir, 35: 11)[2] !

Tubuh kita, yang terbentuk hanya dari “setetes mani”, berubah men-jadi manusia yang memiliki jutaan keseimbangan yang rumit. Meskipun tidak kita sadari, di dalam tubuh kita terdapat sistem yang teramat kom-pleks dan rumit, yang membantu kita bertahan hidup. Semua sistem ini dirancang dan dioperasikan hanya oleh Sang Pemilik dan Pencipta kita, yakni Allah, untuk menyadarkan kita bahwa “kita diciptakan”.

Manusia diciptakan oleh Allah. Sejak diciptakan, manusia tidak per-nah “dibiarkan tanpa pengaturan atau tanpa tujuan”.

Didalam kehidupan sehari-hari manusia memiliki ciri khas yang secara prinsipil berbeda dari hewan. Ciri khas manusia yang membedakannya dari hewan yaitu terbentuk dari kumpulan terpadu atau pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat, dari apa yang disebut Sifat Hakikat Manusia. Oleh karena itu didalam ilmu sosial dasar manusia sering disebut juga makhluk sosial yang berarti manusia tidak bisa hidup sendirian ( individual ) dan sangat tergantung pada orang lain, sehingga manusia harus berinteraksi dengan makhluk lainnya..

Disebut sifat hakikat manusia karena secara hakiki dan pada dasarnya sifat tersebut, hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan. Adapun pemahaman pendidikan terhadap sifat hakikat manusia akan membentuk tentang karakteristik manusia.

Dan juga dalam pendidikan merupakan media terpenting untuk membangun suatu kelompok atau golongan. Serta dalam pendidikan tersebut dijadikan sebagai sumber daya pembangunan. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya diharapkan tidak membuat kesalahan-kesalahan mendidik sebab kesalahan dalam mendidik bisa jadi akan berakibat fatal karena sasaran pendidikan adalah manusia.

Dalam kehidupan nyata biasanya yang berperan lebih bagi seseorang dalam kehidupannya ialah seorang Ibu, Bapak dan Guru, mereka inilah yang lebih berperan aktif dalam kependidikan bagi seseorang terutama anak-anak dan generasi muda.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka.” (At-Tahrim: 6).

Ibu, bapak dan guru bertanggung jawab di hadapan Allah terhadap pendidikan generasi muda. Jika pendidikan mereka baik, maka berbahagialah generasi tersebut di dunia dan akhirat. Tapi jika mereka mengabaikan pendidikannya maka sengsaralah generasi tersebut, dan beban dosanya berada pada leher mereka. Untuk itu disebutkan dalam suatu hadits Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam:

(( كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ))

“Setiap orang di antara kamu adalah pemimpin, dan masing-masing bertanggung jawab atas yang dipimpin-nya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Maka adalah merupakan kabar gembira bagi seorang guru, perhatikan sabda Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam berikut ini:

(( فَوَ اللهِ لأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النِّعَمَ ))

“Demi Allah, bahwa petunjuk yang diberikan Allah kepa-da seseorang melalui kamu lebih baik bagimu daripada kekayaan yang banyak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan juga merupakan kabar gembira bagi kedua orangtua, sabda Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam berikut ini:

(( إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ ))

“Jika seseorang mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim).

Maka setiap pendidik hendaknya melakukan perbaikan dirinya terlebih dahulu, karena perbuatan baik bagi anak-anak adalah yang dikerjakan oleh pendidik, dan perbuatan jelek bagi anak-anak adalah yang ditinggalkan oleh pen-didik. Karenanya, sikap baik guru dan orangtua di depan anak-anak merupakan pendidikan yang paling utama.

B. SIFAT HAKIKAT MANUSIA

Adapun dalam landasan dan tujuan pendidikan itu sendiri sifat hakikat manusia merupakan kategori Filosofis Normatif. Bersifat filosofis karena untuk mendapatkan landasan yang kuat untuk diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sistematis, dan universal tentang ciri hakiki manusia. Sedangkan bersifat normatif karena pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuhkembangkan sifat hakikat manusia tersebut sebagai sesuatu yang bernilai luhur, dan hal itu menjadi suatu keharusan.

  1. Pengertian Sifat Hakikat Manusia

Sifat hakikat manusia dapat diartikan sebagai ciri khas atau karakteristik, yang secara prinsipil membedakan manusia dari hewan. Meskipun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya. Makhluk manuisa itu mempunyai fungsi-fungsi organ tubuh yang sama dengan yang dipunyai oleh makhluk-makhluk lainnya, dan khususnya kesamaan ini jelas terlihat kalau dibandingkan dengan jenis-jenis kera besar.

Menurut Socrates ( seorang Filosof ) yaitu,

Misalnya Bentuk orang hutan, bertulang belakang seperti manuisa, berjalan tegak dengan menggunakan kedua kakinya, melahirkan dan menyusui anaknya, pemakan segala, dan adanya persamaan metabolisme dengan manusia. Bahkan Socrates ( filosof ) menamakan manusia itu Zoom Politicon ( hewan yang bermasyarakat ).

Dalam pernyataan tersebut dapat menimbulkan kesan yang keliru, bahwa hewan dan manuisa itu hanya berbeda secara gradual atau perlahan-lahan, yaitu suatu perbedaan yang dengan melalui rekayasa dapat dibuat menjadi sama keadaannya, misalnya air karena perubahan temperatur lalu berubah menjadi es batu. Solah-olah dengan kemahiran rekayasa pendidikan orang hutan dapat dijadikan manusia. Upaya manusia untuk mendapatkan keterangan bahwa hewan tidak identik dengan manusia telah ditemukan.

Charles Darwin ( dengan teori evolusinya ) telah berjuang untuk menemukan bahwa manusia berasal dari primata atau kera, tetapi telah gagal. Ada misteri yang dianggap menjembatani proses perubahan dari primat ke manusia yang tidak sanggup diungkapkan yang disebut The Missing Link yaitu statu mata rantai yang putus.

  1. Wujud Sifat Hakikat Manusia

Dalam pandangan islam, makhluk adalah ciptaan Allah, bukan tercipta atau dengan sendirinya. Inilah hakikat pertama tentang manuisa. Hakikat wujudnya ialah bahwa manusia adalah makhluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.

Dalam teori pendidikan lama, yang dikembangkan di dunia barat, dikatakan bahwa perkembangan seorang hanya dipengaruhi oleh pembawaan dan sebagai lawannya berkembang pula teori yang mengajarkan bahwa perkembangan seseorang hanya ditentukan oleh lingkungannya. Sebagai sintesisnya dikembangkan dengan teori ketiga yang menyatakan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungannya.

Dan telah di kemukakan oleh paham eksistensialisme, mengenai wujud sifat hakikat manusia ( yang tidak dimiliki oleh hewan ) dengan maksud menjadi masukan dalam mebenahi konsep pendidikan , yang diantaranya :

  1. Kemampuan Menyadari Diri;
  2. Kemampuan Bereksistensi;
  3. Pemilikan Kata Hati;
  4. Moral;
  5. Kemampuan Bertanggung Jawab;
  6. Rasa Kebebasan ( Kemerdekaan );
  7. Kesediaan Melaksanakan Kewajiban Dan Menyadari Hak;
  8. Kemampuan Menghayati Kebahagiaan;

Konsepsi manusia dengan behaviorisme, teori kaum ini lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia (kecuali instink) adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak membahas baik buruknya manusia, rasional ataupun emosionalnya, dia hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh factor-faktor lingkungan, maka timbullah konsep manusia mesin (homo mechanicus).

Aris Toteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, sebuah meja lilin (tabularasa) yang siap ditulis oleh pengalaman. Pengalaman adalah satu-satunya jalan kepemilikan pengetahuan. Secara psikologis, ini berarti seluruh perilaku manusia, kepribadian, dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience).

Kaum behavioris berpendirian : oragnisme dilahirkan tanpa sifat-sifat social atau psikologis; perilaku adalah pengalaman; dan perilaku dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan.

[1] Al Qur`an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI

[2] Al Qur`an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI