Selasa, 12 Januari 2010

JUAL BELI

A. Definisi Jual Beli Secara etimologis jual beli berarti pertukaran mutlak. Kata al-bai’ (jual) dan asy-syiraa (beli) pengggunaannya disamakan antara keduanya. Dua kata tersebut masing-masing mempunyai pengertian lapadz yang sama dan pengertian berbeda. Dalam syari’at Islam, jual beli adalah pertukaran harta tertentu dengan harta lain berdasarkan keridloan antara keduanya. Atau, dengan pengertian lain, memindahkan hak milik dengan hak milik lain berdasarkan persetujuan dan perhitungan materi. Adapula yang mengartikan bahwa jual beli adalah menukar barang dengan barang atau barang dengan uang dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar merelakan. B. Hukum Jual Beli Hukum jual beli berdasarkan al-Qur’an, Sunnah dan ijma ’ulama. Dalil al-Qur’an, Allah Berfirman: ”Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba.” (QS.al-Baqarah: 275) Dalil sunnah, Rasulullah saw bersabda: أفضل الكسب عمل رجل بيده وكلّ بيع مبرور ”Usaha yang paling utama (afdhol) adalah hasil usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan hasil dari jual beli yang mabrur.” Berdasarkan Ijma Ulama, jual beli diperbolehkan dan telah dipraktekan sejak masa Rasulullah hingga sekarang. C. Konsekuensi Jual Beli Sebuah transaksi (akad) jul beli yang telah dilakukan dan memenuhi semua syarat rukunnya maka konsekuensinya penjual wajib memberikan hak milik barang kepada pembeli, dan pembeli memberikan hak milik barangnya kepada penjual, sesuai dengan harga yang telah disepakati. Selanjutnya pembeli dan penjual, halal menggunakan barang yang telah berpindah hak muliknya tersebut. D. Rukun Jual Beli Transaksi jual beli dianggap sah apabila dilakukan dengan ijab qobul kecuali barang-barang kecil, yang cukup hanya dengan mua’thah (saling memberi) sesuai dengan adat dan kebiasaan yang berlaku pada masyaakat tersebut. Imam al-kahlani menyatakan bahwa jual beli yang menjadi kebiasaan, misalnya jual beli sesuatu yang menjadi kebutuhan sehari-hari tidak diisyaratkan ijab dan qabul, ini adalah pendapat jumhur Ulama. Tidak ada kata-kata khusus dalam ijab dan qobul karena ketentuannya tergantung pada akad sesuai dengan tujuan dan maknanya, bukan berdasarkan atas kata-kata dan bentuk kata tersebut. Ketentuan akad tersebut mengharuskan adanya keridhoan (saling rela) dan diwujudkan dalam bentuk mengambil dan memberi, atau dengan cara lain yang dapat menunjukan akan sikap ridha. Atau berdasarkan makna hak milik, seperti ucapan seorang penjual ”Aku jual, aku berikan, aku pindahkan hak milik kepadamu,” atau ”ini menjadi milikmu atau berikan harganya” atau ucapan seorang pembeli, ”Aku ambil, aku terima, aku rela, atau tetapkan harganya.” E. Syarat-syarat Jual Beli Jual beli dinyatakan syah, apabila telah memenuhi syarat-syarat berikut: palaku akad, barang yang diakadkan atau tempat akad, artinya yang akan dipindah kepemilikannya dari salah satu pihak kepada pihak lain baik berupa harga atau berupa barang yang ditentukan dengan barang atau harga. 1. Syarat-syarat pelaku akad Bagi pelaku akad disyaratkan, berakal dan memiliki kemampuan memilih. Jadi, akad orang gila, orang mabuk, dan anak kecil tidak bisa dinyatakan sah. Jika penyakit gila yang diderita pihak berakad sifatnya temporer (kadang sadar dan kadang gila) maka akad yang dilakukannya pada waktu sadar dinyatakan sah dan akad pada saat gila dinyatakan tidak syah. Dan anak kecil yang sudah mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah maka sah akadnya, namun tergantung izin walinya. 2. Syarat-Syarat Barang Akad Syarat-syarat barang yang diakadkan adalah sebagai berikut: 1. Suci (halal dan baik) Hal tersebut berdasarkan hadits riwayat jabir bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda: انّ الله حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام ”sesungguhnya Allah mengharmkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung-patung” 2. Bermanfaat Transaksi jual beli serangga, ular dan tikus tidak diperbolehkan dalam islam kecuali untuk sesuatu yang bermanfaat. Begitu juga dengan kucing, lebah, beruang, singa dan binatang lain yang berguna untuk berburu atau dapat dimanfaatkan kulitnya. 3. Milik orang yang melakukan akad Barang yang diperjual belikan adalah milik pelaku akad atau yang diberikan izin oleh pemiliknya. Apabila transaksi berlangsung sebelum mendapatkan izin dari pihak pemilik barang maka transaksi jual beli itu dinamakan dengan bai al fudhuli (akad yang dilakukan oleh pihak ketiga tanpa mendapatkan izin dari pemiliknya) hukum akadnya adalah sah tetapi keabsahan hukumnya tergantung izin pemilik sah atau wakilnya, jika pemilik membolehkan, maka jual beli tersebut baru sah hukumnya. Dan jika tidak di perbolehkan maka akadnya menjadi batal. 4. Mampu diserahkan oleh pelaku akad Sesuatu yang tidak dapat diserahkan secara kongkrit maka tidak sah hukumnya, seperti menjual ikan yang masih ada didalam air. Dalam riwayat Ahmad dari Ibn Mas’ud RA, Rasulullah saw bersabda: لا تشترو السمك في الماء فاِنّه غرر ”Jangan kalian membeli ikan yang masih berada dalam air, karena merupakan penipuan.” Contoh lain,memperjualbelikan janin yang masih dalam kandungan induknya. 5. Mengetahui status barang (kualitas, kuantitas, jenis, dan lain-lain) Jika barang dan nilai harga atau salah satunya tidak diketahui, maka jual beli dianggap tidak sah karena mengandung unsur penipuan. 6. Barang tersebut dapat diterima oleh pihak yang melakuakan akad. Diriwatkan dari Ahmad, Baihaqi dan ibn Hibban dengan sanad hadits hasan bahwa Hakim bin Hazam berkata, يا رسول الله اِنّي أشتري بيوعا فما يحلّ لي منها وما يحرم؟ قال: اذا اشتريت شيءا فلا تبعه حتّى تقبضه ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku membeli barang dagangan, apa saja yang dihalalkan dan diharamkan darinya?” Rasulullah bersabda, ”Jika engkau membeli sesuatu, maka janganlah kau jual lagi sebelum barang tersebut berada ditanganmu." Larangan-Larangan dalam jual beli 1. Menjual barang yang telah dibeli pihak lain Hukumnya adalah haram berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Umar, لا بيّع أحدكم على بيع أخيه ”Janganlah kalian menjual barang yang telah diakad pihak lain.” (HR Ahmad dan Nasa’i) 2. Jual beli dengan tipu daya Yaitu semua bentuk jual beli yang mengandung unsur ketidaktahuan, spekulasi atau taruhan. Contoh, jual beli hababul habalah (anak unta yang masih dalam kandungan), jual beli mukhadharah (jual beli kurma hiaju yang belum kelihatan mutunya), jual beli muzabanah ( jual beli buah kurma yang masih di pohonnya), dll. 3. Membeli barang rampasan atau curian Membeli barang tersebut sama artinya bekerja sama dalam berbuat dosa. Dalam riwayat baihaqi Rasulullah bersabda, من اشترى سرقة وهو يعلم أنّها سرقة فقد اشترك فى اثمها وعارها ”Barang siapa yang membeli barang hasil curian dan ia mengetahuiny, maka ia juga sama mendapatkan dosa dan kejelekannya.” 4. Menjual anggar untuk khamar dan senjata dalam konflik Dari Ibn Umar rasulullah saw bersabda, لعن الله الخمر و شاربها وساقيها وباءعها ومبتاعها وعاصرها ومعتصرها وحاملها والمحمولة اليه ”Allah melaknat minuman kahmar bagi peminumnya, penuangnya, penjual yang menjualbelikannya, pemerasnya, yang memerintahkan memerasnya, dan kurir yang mengantarkannya.” Umar bin Hashin berkata, نهى رسول الله صلى االه عليه وسلّم عن بيع السلاح في الفتنة ”Rasulullah melarang menjual senjata ditengah berlangsungnya fitnah (perselisihan).” (HR. Baihaqi) Benda-benda seperti alkohol, babi, dan barang yang terlarang lainnya haram diperjualbelikan sehingga jual beli tersebut dipandang batal dan jika dijadikan harga penukar, maka jual beli tersebut dianggap fasid. 5. Jual beli barang yang bercampur dengan yang haram Apabila bercampur antara barang mubah dan haram, maka akad jual beli barang tersebut sah hukumnya untuk barang mubah dan batal untuk yang haram. Pendapat tersebut dikuatkan dua fatwa Syafi’i dan Maliki. Ada juga pendapat yang mengatakan batal untuk keduanya. 6. Sering mengucapkan sumpah dalam jual beli Rasulullah bersabda, الحلف منفقة للسلعة ممحقة للبركة ”Sumpah itu dapt melariskan barang dagangan akan tetapi akan menghapus keberkahannya.” (HR Bukahri dan lainnya dari Abu Hurairah) Dalam riwayat Imam Muslim rasulullah bersabda, ايّاكم وكثرة الحلف في البيع فاِنّه ينفق ثمّ يمحق ”Jauhilah melakukan banyak sumpah dalam transaksi jual beli, karena ia akan melariskandaganganmu kemudian menghapuskan keberkahannya” F. Hikmah jual Beli Jual Beli disyariatkan oleh Allah swt. Sebagai keluasan bagi para hamba-Nya karena setiap manusia mempunyai kebutuhan akan sandang, pangan dan lainnya. Kebutuhan tersebut tidak pernah terhenti dan senantiasa diperlukan selama manusia itu hidup. Tidak seorang pun yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, oleh karenanya ia dituntut untuk berhubungan dengan sesamnya. Dalam hubungan tersebut semuanya memerlukan pertukaran, seseorang memberikan apa yang dimilikinya untuk memperoleh sesuatu sebagai pengganti sesuai kebutuhannya.