Rabu, 26 Januari 2011

Atang Ruswita

Beribadah untuk Dunia Pers
Wartawan senior, pemimpin umum surat kabar harian Pikiran Rakyat, Atang Ruswita (70) sekitar pukul 17.00 WIB meninggal dunia Jumat 13 Juni 2003 di RS Hasan Sadikin, Bandung karena gangguan paru-paru. Anggota Dewan Pers kelahiran Desa Batujajar, Kab. Bandung, 26 April 1933 ini dikenal sebagai seorang pekerja keras yang menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk ‘beribadah’ mengembangkan dunia pers. Ia seorang kawan, bapak, sekaligus guru bagi wartawan Indonesia.
Ia meninggalkan seorang istri, Ny. Hj. Komariah, dan tiga anak (Januar Primadi, Maida Dwiani, Puspatriani Agustina), menantu (Riyanti Deanira, Joko Pujiyono, Sonny Arief Djadjadipura), serta cucu (M. Rafi Azman, Hafizha Azka, Nazhara Azmi, Fina Silmi Febriyani, Difa Sabila Azka, Rangga Putra Djajadipura, dan Wira Mahaputra Utama).
Jenazah tokoh pers nasional berdedikasi tinggi itu disemayamkan di kediamannya Jln. Ancol Timur X No. 19 Bandung dan dimakamkan pada Sabtu (14//036) pagi pukul 9.00 WIB di pemakaman keluarga di Batujajar Kabubapten Bandung. Selama hidupnya, ia mendedikasikan dirinya untuk dunia jurnalistik dan kemanusiaan. Ia menjabat Ketua IPPI Cimahi (1950-1952), Ketua PWI Cabang Bandung (1967), Ketua Pelaksana Harian PWI Pusat (1973-1986), dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat. Di bidang politik, ia pernah menjadi anggota DPR-MPR RI (1978-1982). Menjelang peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus 1998, ia memperoleh anugerah tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah yang disampaikan langsung oleh Presiden B.J. Habibie di Istana Negara Jakarta.
Isterinya, Ny. Hj. Komariah mengatakan bahwa suaminya dikenal sebagai seorang pekerja keras yang menghabiskan hampir seluruh waktunya sehari-hari untuk "beribadah" mengembangkan dunia pers. "Beberapa hari menjelang jatuh sakit, Pak Atang Ruswita masih menyempatkan diri mengikuti rapat di Lembang. Perhatian beliau sangat besar kepada para karyawan, sampai-sampai lupa bahwa kondisi tubuhnya kurang sehat. Walaupun sedang tidak enak badan, kalau ada undangan rapat dari pengurus PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat, Beliau berangkat juga," tutur Ny. Komariah.
Pemimpin Umum HU Pikiran Rakyat ini punya minat di bidang jurnalistik sejak duduk di bangku SLTP. Ketika SMA, ia menjadi anggota "Kuntum Mekar" yang terdapat dalam rubrik "Lembaran Minggu" Pikiran Rakyat. Selepas SMA (1954), Atang Ruswita diterima bekerja sebagai korektor di "PR" yang waktu itu dipimpin oleh Sakti Alamsyah.
Kemudian, kariernya meningkat seiring dengan tugasnya mengembangkan bakat dan minatnya selaku wartawan di beberapa daerah di Jabar. Selain memimpin "PR" berikut anak penerbitannya, ia juga pernah mengemban amanah di sejumlah organisasi pers dan legislatif serta sejumlah lembaga atau yayasan sosial kemasyarakatan seperti Dompet Sosial Ummul Quro (DSUQ).
Pengasuh kolom 'Atang Ruswita' di PR ini memiliki banyak nilai keteladanan di masa hidupnya. Ia seorang pekerja keras yang ulet dan autodidak dalam menuntut ilmu serta mengembangkannya di tengah masyarakat. Sampai-sampai agak sulit mengetahui kapan waktu istirahatnya. Ia juga dikenal sangat dekat dengan karyawannya. Hidup sehari-hari dalam keadaan sederhana, apa adanya. Ia memang tokoh pers nasional yang layak ditimba ilmu pengetahuan dan pengalamannya. Kesederhanaan dalam hidup sehari-hari sungguh layak dicontoh. Demikian halnya manunggalnya dengan para karyawan dari berbagai lapisan dan status. Begitu pula jika sedang makan, misalnya, ia tidak merasa riskan bergabung dengan para karyawan tanpa memandang status kekaryawanannya. Menurut sesepuh Jabar yang juga mantan gubernur di provinsi ini, Letjen (Purn.) Dr. (HC) Mashudi salah satu yang menonjol dari pribadi Atang adalah kepemimpinannya yang sangat menonjolkan dimensi kekeluargaan. "Dari pengamatan saya secara pribadi selama perkenalan dengan Pak Atang, dalam membina koran 'PR' sangat tampak pola kekeluargaan yang dikembangkannya. Pak Atang tampak tidak menonjolkan perbedaan atasan dan bawahan, kalau dalam Bahasa Sunda, karyawan itu diraeh (diakui -red.)," ungkap Mashudi. Dalam pandangan Mashudi, spirit kepemimpinan Atang yang mengakui karyawan dari bawahan sampai atasan, patut dicontoh generasi yang lebih muda. "Dalam membesarkan usaha, semua karyawan dari yang terendah hingga atasan 'dipelihara'. Ini juga menunjukkan kultur Sunda yang erat menginspirasi perjalanan koran terbesar di Jabar ini," katanya.
Di mata kawan-kawan dan juniornya, wartawan senior yang juga penulis buku Receh dan Permen itu dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan penuh kebapakan. “Pak Atang sangat rendah hati dan mengayomi kami semua. Dia seorang pemimpin sekaligus guru bagi kami. Bayangkan, sekitar 1.400 orang karyawan PR bisa ia persatukan dengan gayanya itu. Terus terang, kami sangat kehilangan," tutur Pelaksana Harian Pemimpin Redaksi PR H AM Ruslan. Ia merupakan sosok yang bisa diterima semua pihak. "Dalam setiap perdebatan kalangan pers yang lekat dengan aspek konflik kepentingan selain mempertautkan beberapa kesamaan di dalamnya, Mang Atang diterima sebagai orang yang dengan akal sehat dan sikap fair berusaha mencari jalan yang bisa diterima semua pihak," papar pendiri dan pemimpin umum Kompas, Jakob Oetama, yang sudah berkenalan intens dengan Atang sejak 1965 dan sama-sama bergelut dalam bidang pers. Bersama beberapa penerbit di daerah-daerah, ia berhasil membangun koran yang sehat secara editorial dan sehat pula secara bisnis. Rentang panjang yang dilaluinya dalam mengembangkan dan memimpin Harian Umum Pikiran Rakyat ("PR") telah menjadikan sosoknya identik dengan "PR" itu sendiri. Nilai-nilai kesundaan yang juga melekat pada pribadinya, sangat memberi warna kepada performance "PR" di mata pembacanya.
Namun lekatnya kultur Sunda yang melatari "PR" tidak lantas menjadikannya terjebak pada etnosentrisme sempit. Justru lewat tulisan-tulisannya, ia menunjukkan nilai-nilai positif budaya Sunda sebetulnya relevan dengan universalisme kebenaran. Kultur Sunda itu dikembangkan atau ditunjukkan demi mendukung kepentingan yang lebih luas atau nasional serta kepada kebenaran universal. Pada 26 April 2003, keluarga besar Pikiran Rakyat merayakan ulang tahunnya yang ke-70. Ia berpidato panjang lebar, lebih dari satu jam kendati kondisi tubuhnya tidak terlalu sehat. Sebagian pidatonya disampaikan sambil duduk di kursi. Beberapa kali ia terbatuk-batuk. Napasnya tampak sesak. Ia bercerita tentang kesehariannya yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pers. Ia menakhodai Pikiran Rakyat, sekaligus pula memimpin organisasi PWI. "Tanpa terasa sudah 25 tahun saya menjadi pengurus PWI," katanya. Mungkin karena lamanya almarhum aktif di PWI, ia telah menjadi teman akrab hampir seluruh pengurus PWI di daerah dan di pusat.
Ketika persaingan dalam dunia pers makin ketat -- seperti tulis Seth Godin dalam bukunya Survival is Not Enough -- ia memasang bumper-bumper di daerah untuk menahan laju serangan ke Pikiran Rakyat. Bertahan saja tidak cukup, perlu bergerak maju. Lahirlah Pakuan di Bogor, Mitra Dialog di Cirebon, dan Priangan di Tasikmalaya. Di Banten lahir pula Fajar Banten (nama ini dipilihnya dari sejumlah nama yang ditawarkan tim persiapan penerbitan waktu itu). Industri surat kabar memang penuh dengan tantangan. Belum pernah ada satu masa ketika tantangan seberat seperti sekarang.
Menurut Ham Ruslan, Wartawan PR, sebagai nakhoda kapal Pikiran Rakyat, Atang jeli membaca tanda-tanda zaman. Bagaimana agar perahu tidak tenggelam. Mempertahankan penerbitan surat kabar dalam kondisi yang sulit diduga seperti sekarang -- dalam badai sekalipun -- bukan pekerjaan mudah. “Bersama seluruh karyawan, nakhoda yang rendah hati ini mampu mempertahankan kapal Pikiran Rakyat untuk terus bergerak maju. Terbit mulai dari 4 halaman, hingga sekarang mampu terbit rata-rata 24 halaman/hari. Masuk jajaran lima besar penerbitan koran nasional, tidak dapat dilepaskan dari peran kepemimpinannya,” tulis Ham Ruslan.
Salah satu nasihat yang sering dikemukakan kepada wartawan: "Tempatkan diri Anda tidak melebihi dari sumber berita. Bersikaplah low profile. Jangan merasa lebih pandai dari sumber berita. Bersikaplah selalu rendah hati. Sifat ini sekaligus telah menjadi kunci kekuatan dari keberhasilan yang dicapainya. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber terutama HU Pikiran Rakyat
Nama: Atang Ruswita Lahir: Desa Batujajar, Kab. Bandung, 26 April 1933 Meninggal: Bandung, 13 Juni 2003 Dimakamkan: Batujajar Kabubapten Bandung, 14 Juni 2003 Jabatan terakhir: Pemimpin Umum Harian Pikiran Rakyat Anggota Dewan Pers Isteri: Hj. Komariah Anak: Januar Primadi, Maida Dwiani, Puspatriani Agustina Menantu: Riyanti Deanira, Joko Pujiyono, Sonny Arief Djadjadipura Cucu: M. Rafi Azman, Hafizha Azka, Nazhara Azmi, Fina Silmi Febriyani, Difa Sabila Azka, Rangga Putra Djajadipura, dan Wira Mahaputra Utama Pendidikan: SMA 1954 Karir: Anggota Kuntum Merah (Lembaran Minggu PR) Korektor Hr Pikiran Rakyat (1954) Wartawan PR Ketua IPPI Cimahi (1950-1952) Ketua PWI Cabang Bandung (1967) Ketua Pelaksana Harian PWI Pusat (1973-1986), Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat. Anggota DPR-MPR RI (1978-1982). Penghargaan: Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah 14 Agustus 1998 Alamat: Jln. Ancol Timur X No. 19 Bandung