Rabu, 26 Januari 2011

Rahmat Gobel

Generasi Kedua National Gobel
Sebagai pemegang kendali perusahaan eletronik nasional terbesar namanya tak asing lagi di telinga. Ia sebagai generasi kedua, penerus National Gobel. Kepiawaiannya mengembangkan industri elektronik, didukung tenaga-tenaga ahli pilihannya dari dalam maupun luar negeri mampu menghasilkan produk-produk elektronik kebanggaan Indonesia.
Pria kelahiran Jakarta, 3 September 1962 ini terkenal aktif menjaga kepercayaan investor agar mereka bertahan di Indonesia, sekalipun beberapa perusahaan elektronik asing akhirnya hengkang. Maka ia terus berupaya mengajak pemerintah untuk menyelami apa yang dibutuhkan pengusaha demi kebangkitan industri elektronik di tanah air.
Anak ke lima dari tujuh bersaudara dan anak lelaki tertua mendiang H Thayeb Mohammad Gobel ini terus berupaya ‘mempertahankan’ perusahaan warisan ayahnya ini. Ia bukan saja mengelola bisnisnya agar tetap bertahan di tengah masa krisis, namun juga berusaha membangun perusahaan sekaligus membangun tempat kerja bagi banyak orang. “Karena perusahaan ini tempat banyak orang bergantung,” katanya.
Untuk itu, ia terus berupaya agar produknya diterima masyarakat. Jika saat ini produknya lebih banyak dikenal dengan merek Panasonic, karena memang menyesuaikan dengan nama perusahaan yang terus berubah. PT. National Gobel bergandengan dengan Panasonic sudah 36 tahun lebih. Komposisi kepemilikan saham yang senantiasa berubah menyebabkan namanya juga terus mengalami penyesuaian. Panasonic merupakan brand yang dimiliki Matsushita Electric di Jepang. Sedangkan National adalah merek yang dimiliki oleh perusahaan miliki keluarga Gobel.
Tahun 1970, Panasonic bekerjasama dengan National Gobel dalam penjualan produk-produk perusahaan Jepang tersebut di Indonesia. Sedangkan tahun 1980 nama National Gobel berubah menjadi Gobel Dharma Nusantara dan di tahun 1991 berubah menjadi National Panasonic Gobel. Dan akhirnya mulai 1 April 2004 berganti nama menjadi PT. Panasonic Gobel Indonesia.
Sebagai Presiden Komisaris PT. Panasonic Gobel Indonesia (PGI), Rahmat mengaku memulainya dari bawah. “Tidak serta merta begitu saja saya mendapatkan tempat dijajaran Direksi National Panasonic Gobel, tetapi melalui proses yang panjang,” katanya. Rahmat mengaku mengenal pabrik ayahnya sejak Sekolah Dasar. Bahkan setiap hari minggu, ketika teman-teman sebayanya asyik bermain, ia malah diajak ‘ngantor’ sang ayah, Almarhum H. Thayeb Mohammad Gobel.
Sang ayah berusaha memperkenalkan dunia usahanya itu sejak Rahmat kecil. Rahmat sering diajak diskusi, “Pokoknya diajak ngobrol apa saja walaupun saya tidak tahu,” ujarnya mengenang. Masa SMP bahkan SMA lebih intens lagi. Ia sudah terbiasa memahami pabrik. Belakangan Rahmat tahu jika ayahnya itu ingin dirinya bisa mewarisi nilai-nilai bisnisnya. Untuk itu, selepas SMA Rahmat dikirim ke Jepang. Selama enam tahun ia belajar di sana. Bahkan ia belajar tentang kultur perusahaan selama setahun di Negara Sakura itu.
Kembali ke Indonesia, tahun 1988 ia ditempatkan sebagai tenaga pelatih di pabrik baterai. “Saya tidak langsung jadi bos. Saya memulai sebagai karyawan baru,” katanya. Satu tahun kemudian, ia baru masuk jajaran manajemen menengah yang terlibat membuat perencanaan manajemen. Beruntung ia sudah belajar globalisasi, pergerakan bisnis dan perkembangan pabrik ke depan. Sejak saat itulah ia merasa bisa berkiprah. Lalu diundangnya investasi langsung Matshushita. Hasilnya, sekarang perusahaannya berorientasi ekspor.
Falsafah Pohon Pisang dan Air Mengalir
Dalam berkarya, Rahmat Gobel selalu memadukan dua filosofi sebagai dasar orientasi. Filosofi ‘pohon pisang’ diperoleh dari Bapak Gobel, ayahanda Rahmat Gobel. Sedangkan filosofi ‘air mengalir’ dari Bapak Matsushita rekan bisnis group gobel. Pohon pisang mudah tumbuh di mana saja dan setiap bagiannya dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia. Air pun demikian, tersedia dalam jumlah yang relatif banyak dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan, sesuai kebutuhan. Realisasi dari keduanya adalah penciptaan produk berkualitas tinggi yang selalu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Kedua filosofi itulah yang selalu dipakai Rahmat sebagai pijakan kiprahnya di dunia usaha. Sehingga, akhirnya ia mampu ‘menelorkan’ berbagai produk yang berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Ambil saja contoh, industri baterai yang dimiliki PT. Panasonic Gobel Battery Indonesia (PGBI). Sebagai produsen baterai mangan, baterai lithium dan senter dengan brand Panasonic, Rahmat Gobel membawa PGBI mengukir prestasi menjadi salah satu yang terbesar di antara keluarga Panasonic Baterray Group yang tersebar di 14 negara. Hasil produksinya masuk dalam pasar lokal maupun global pada lebih dari 60 negara. Bukan itu saja sejak tahun 2002 (dari tahun berdiri 1972-red) PGBI telah mencapai kebebasan finansial dan menjadi perusahaan dengan pinjaman nol. Suatu prestasi yang patut dibanggakan dan disyukuri tentunya.
Bisnis Berwawasan Lingkungan
Rahmat percaya, bahwa berkarya di industri elektronik sambil tetap menjaga kelestarian alam, bukanlah sesuatu yang sulit untuk diwujudkan. Sebab menurutnya, kualitas lingkungan sama pentingnya dengan kualitas produksi. Karena itu usahanya selalu didukung dengan teknologi pengolahan limbah yang efektif. Selain terus berupaya menjaga kelestarian lingkungan, juga menerapkan standard global sebagai orientasi kepedulian lingkungan.
“Menciptakan produk yang berwawasan lingkungan bukan saja upaya kami dalam menjaga kelestarian alam. Namun ini juga menjadi salah satu tiket untuk bisa masuk ke pasar Eropa dan Amerika. Jadi menjaga lingkungan adalah mutlak diperlukan di setiap dunia industri,” katanya.
Karena prinsip kelestarian lingkungan terus dipegangnya, tak heran jika perusahaan yang dibawah kendalinya itu beberapa kali telah mengantongi penghargaan. Seperti sertifikat untuk menagemen mutu ISO 9002 tahun 1994, sertifikat untuk sistem managemen lingkungan ISO 14001 tahun 1997, dan berbagai sertifikat lain sebagai bukti keunggulan produksinya. Bahkan Pemerintah Daerah Bekasi pernah memberikan penghargaan sebagai industri yang memenuhi kebutuhan dan pengembangan karir pekerja wanita. Terakhir ini salah satu factorynya meraih Peringkat Hijau dari kantor Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) dalam evaluasi PROPER (Program for Pollution Control Evaluation and Rating) 2004/2005. “Ini semua adalah hasil komitmen kami sebagai perusahaan yang peduli pada lingkungan,” ujar Rahmat.
Lepas dari itu semua, di setiap langkah menjalankan usahanya, Rahmat selalu menekankan pada setiap karyawan dengan lima budaya kerja, yang ia sebut sebagai 5S budaya dasar kerja. Yaitu, Seiri (Pemilahan), Seiton (Penataan), Seiso (Pembersihan), Seiketsu (Pemantapan) dan Shitsuke (Pembiasaan). Kelima dasar inilah yang hingga kini menjadi kebudayaan bahkan kebiasaan para karyawannya. “Dengan memilah mana yang masih dipakai dan mana yang sudah tidak dipakai, menata rapi pada tempatnya, menjaga kebersihan, membiasakan efisiensi, akan menjadi budaya yang akhirnya menjadi perilaku yang baik. Itulah dasar kerja kami,” lanjutnya.