Jumat, 10 Juni 2011

APA ITU ETIKA PERS ITU?

Sebelum lebih jauh melangkah ke persoalan-persoalan yang lebih spesifik seputar etika pers, terlebih dahulu perlu dipaparkan hal-hal yang berkenaan dengan pelbagai definisi atau pengertian dasar serta teori-teori etika pada umumnya, sekadar suatu perkenalan guna mencegah kerancuan istilah-istilah yang tidak perlu.

Istilah "definisi" itu sendiri mungkin menjadi bahan pertanyaan, sekaligus persoalan kita: Apa itu definisi? Apa perlunya kita mengadakan definisi?

Secara etimologis, definisi berasal dari kata Latin "definire", yang berarti menandai batas-batas pada sesuatu, menentukan batas, memberi ketentuan atau batasan arti. Jadi, "definisi" dapat diartikan sebagai penjelasan apa yang dimaksudkan dengan sesuatu istilah; atau dengan kata lain, definisi ialah sebuah pernyataan yang memuat penjelasan tentang arti suatu istilah (Bakry, 1996:73).

Dalam konteks komunikasi ilmiah, pelbagai istilah yang digunakan harus jelas dan objektif. Karenanya, istilah-istilah tersebut harus didefinisikan untuk menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh istilah itu. Ini seyogianya dilakukan dalam upaya mencegah si penerima komunikasi (komunikan) memberikan makna lain yang berbeda dengan makna yang dimaksudkan; lebih-lebih istilah-istilah yang diangkat dari bahasa biasa ke bahasa ilmiah.

Meskipun demikian, sebagai sarana komunikasi ilmiah maka bahasa mempunyai beberapa kekurangan (Suriasumantri, 1994:182-185). Kekurangan ini pertama-tama terletak pada peranan bahasa itu sendiri yang bersifat multifungsi, yakni sebagai sarana komunikasi emotif, afektif, dan simbolik. Dalam komunikasi ilmiah, kita ingin mempergunakan aspek simbolik saja tanpa melibatkan aspek emosi dan afeksi. Tapi ini sesuatu hal yang tidak mungkin, sebab bahasa verbal itu dalam kenyataannya mau tidak mau tetap mengandung ketiga unsur yang berifat emotif, afektif, dan simbolik tadi.

Selanjutnya, kekurangan kedua terletak pada arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa. Sifat majemuk dari bahasa ini sering menimbulkan apa yang oleh Jujun S. Suriasumantri disebut sebagai "kekacauan semantik". Misalnya saja, dua orang yang berkomunikasi mempergunakan sebuah kata yang sama namun untuk pengertian yang berbeda. Atau sebaliknya, mereka mempergunakan dua kata yang berbeda untuk sebuah pengertian yang sama.

Kelemahan ketiga, bahasa sering bersifat berputar-putar (sirkular) dalam mempergunakan kata-kata, terutama dalam memberikan definisi. Sebagai contoh, perkataan "data" sering diartikan sebagai "bahan yang diolah menjadi informasi"; sementara, "informasi" kerapkali diartikan sebagai "keterangan yang didapat dari data". Contoh lainnya lagi, kata "pengelolaan" didefinisikan sebagai "kegiatan yang dilakukan dalam sebuah organisasi"; sedangkan "organisasi" didefinisikan sebagai "suatu bentuk kerjasama yang merupakan wadah dari kegiatan pengelolaan".

Oleh sebab itu, untuk memberi definisi atau penjelasan yang baik harus jelas dan singkat, serta mudah dipahami; tidak menggunakan bahasa yang berbelit-belit. Orang sering beranggapan bahwa sebuah karangan, tulisan, atau karya ilmiah, akan dinilai sebagai yang terbaik bila uraiannya atau bahasa yang digunakannya dijalin dalam kalimat yang panjang-panjang dan berbelit-belit. Bagaimanapun ini memang suatu anggapan yang keliru. Kalimat-kalimat yang pendek kalau dipergunakan secara tepat, akan lebih mengandung tenaga dari kalimat yang panjang. Namun juga tidak benar bila seluruh karangan hanya dijalin oleh kalimat-kalimat yang pendek. Ini membosankan. Kita, seperti ungkapan Gorys Keraf (1980:56), harus bergerak antara kedua ekstrim tadi.

Jadi, untuk apa kita menguraikan "definisi" dan untuk apa kita mengadakan uraian dengan menunjukkan "definisi"?

Penjelasan singkat berikut ini mungkin merupakan akhir dari suatu pendahuluan, untuk sebuah pembahasan yang masih relatif panjang; bahwa mengadakan uraian dengan menunjukkan definisi dalam bidang ilmiah adalah perlu, tidak berarti berlebih-lebihan, sebab memang penjelasan dibutuhkan. Betapa pun, definisi sangat penting dalam ilmu, sesuai hakikat ilmu itu sendiri. Ilmu adalah bentuk pengetahuan yang telah ditentukan batas-batasnya, sehingga memperjelas batas antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lain.