Jumat, 10 Juni 2011

MACAM MACAM ETIKA 3


e. Kritik Ideologi-ideologi

Pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan ideologi, merupakan tiga hal yang saling bertautan; ketiganya terkait pada praxis kehidu­pan sosial manusia. Pengetahuan merupakan aktivitas, proses, kemampuan dan bentuk kesadaran manusiawi, sedangkan ilmu pengeta­huan (wissenschaft) merupakan salah satu bentuk pengetahuan yang direfleksikan secara metodis. Bilamana pengetahuan dan ilmu pengetahuan membeku menjadi delusi atau kesadaran palsu yang merintangi praxis sosial manusia untuk merealisasikan kebaikan, kebenaran, kebahagiaan, dan kebebasannya, keduanya telah berubah menjadi 'ideologis'. Teori kritis berkepentingan untuk membebas­kan, sekaligus menyembuhkan masyarakat yang mendekam dalam kung­kungan ideologi itu melalui kritik ideologi (Hardiman, 1993:191-192).

Istilah ideologi adalah penting dalam kebanyakan teori kritis. Dalam Theories of Human Communication, Littlejohn (1996:228-229) menyebut soal ideologi ini sebagai sekumpulan pemikiran yang membentuk struktur realita suatu kelompok, sebuah sistem perwakilan atau sebuah kode dari pengertian-pengertian yang mengatur bagaimana individu-individu dan kelompok-kelompok memandang dunia. Dalam Marxisme klasik, sebuah ideologi adalah sekumpulan pemikiran yang tidak sesuai yang diperkuat oleh kekua­tan politik yang dominan. Bagi Marxis klasik, ilmu pengetahuan harus digunakan untuk mengungkapkan kebenaran dan mengatasi kesadaran yang salah tentang ideologi.

Teori kritis yang lebih baru, menurut Littlejohn, cenderung meyakini bahwa tidak ada satu ideologi yang dominan tetapi bahwa kelas-kelas yang dominan di masyarakat sendiri terbentuk melalui perjuangan dari beberapa ideologi. Banyak pemikir sekarang meno­lak pemikiran bahwa suatu ideologi merupakan sebuah elemen yang terpisah dalam sistem sosial; sebaliknya, ia tertanam kuat dalam bahasa dan semua proses sosial dan budaya lainnya.

Dalam pengamatan Littlejohn, teoretisi ideologi yang paling terkenal mungkin adalah Marxis Perancis Louis Althusser. Bagi Althusser, kata Littlejohn, ideologi hadir di dalam struktur sosial itu sendiri dan muncul dari praktek-praktek aktual yang dilaksanakan oleh institusi-institusi di dalam masyarakat. Dengan sendirinya, ideologi sebenarnya membentuk kesadaran individu dan menciptakan pemahaman subjektif orang tersebut tentang pengala­man. Dalam model ini, suprastruktur (organisasi sosial) mencipta­kan ideologi, yang pada gilirannya mempengaruhi pemikiran indivi­du tentang realita.

Fungsi utama teori kritis adalah untuk memunculkan perta­nyaan-pertanyaan dan menarik perhatian pada masalah-masalah tentang dunia kehidupan yang membuat refleksi kritis dan resolusi menjadi perlu. Hanya bila kita menyadari masalah-masalah dunia kehidupan kita dan cara-cara sistem mempengaruhi pandangan kita tentang kehidupan, maka kita bisa terlibat bebas dari jeratan sistem.

Meskipun terdapat beberapa variasi dari ilmu sosial kritis, menurut Littlejohn, semua memiliki tiga ciri esensial yang sama. Pertama, para ilmuwan sosial kritis berpendapat bahwa perlu untuk memahami pengalaman langsung dari orang-orang yang sesungguhnya di dalam konteks. Dengan sendirinya, teori-teori kritis memiliki beberapa pemikiran dan metodologi yang sama dengan teori-teori interpretif.

Kedua, pendekatan-pendekatan kritis menyelidiki pelbagai kondisi sosial untuk mengungkapkan pengaturan-pengaturan yang merusak yang biasanya tersembunyi di balik peristiwa sehari-hari. Karena itulah teori-teori kritis juga meminjam dari struktura­lisme. Kebanyakan teori kritis mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kekuatan, karena pemahaman cara-cara anda dipaksa memung­kinkan untuk mengambil tindakan dan merubah kekuatan-kekuatan yang menekan.

Ketiga, ilmu sosial kritis melakukan sebuah usaha sadar untuk memadukan teori dan tindakan. Teori-teori semacam ini dalam penilaian Littlejohn, jelas bersifat normatif dan berusaha untuk membuat perubahan dalam kondisi-kondisi yang mempengaruhi kehidu­pan kita, atau seperti kata Pollock dan Cox, "untuk membaca dunia dengan sebuah mata untuk membentuknya". Penelitian kritis bertu­juan mengungkapkan cara-cara di mana kepentingan-kepentingan yang bersaing saling berbenturan dan cara di mana konflik-konflik diselesaikan dengan keuntungan kelompok-kelompok tertentu terha­dap yang lain. Proses-proses dominasi seringkali tersembunyi dari pandangan, dan teori kritis bertujuan mengungkap proses-proses ini. Oleh sebab itu, menurut Littlejohn, teori-teori kritis seringkali menyekutukan diri dengan kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok marginal (Littlejhohn, 1996:226-227).

Pada bagian lain Littlejohn juga menyinggung ihwal pelbagai tradisi dalam sdudi kritis. Menurutnya, terdapat tiga tradisi besar dari studi-studi kritis -- Aliran Frankfurt, studi-studi budaya, dan studi-studi feminis.

Salah satu lingkup intelektual dari abad ke-20 adalah teori sosial yang berdasarkan Marxis. Berawal dari gagasan-gagasan Karl Marx dan Friedrich Engels, gerakan ini terdiri atas sejumlah teori dengan kaitan yang longgar yang menantang tatanan masyara­kat yang dominan. Menurut Littlejohn, hampir semua cabang ilmu sosial, termasuk komunikasi, sudah dipengaruhi oleh jalur pemiki­ran ini. Marxisme memberikan penekanan kuat pada sarana komunika­si dalam masyarakat. Praktek-praktek komunikasi merupakan suatu hasil dari ketegangan antara kreativitas tersebut.

Salah satu tradisi Marxis yang paling panjang dan paling terkenal adalah Aliran Frankfurt. Aliran Frankfurt adalah sebuah tradisi yang demikian penting sebagai Teori Kritis. Para teore­tisi ini pada awalnya mendasarkan pemikiran-pemikiran mereka pada pemikiran Marxis, meskipun pemikiran tersebut sudah jauh sekali dari asal-usulnya dalam 50 tahun terakhir. Komunikasi menduduki posisi sentral dalam gerakan ini, dan studi komunikasi massa adalah sesuatu yang sangat penting.

Ilmuwan Frankfurt kontemporer yang paling terkenal adalah Jurgen Habermas, yang teorinya tentang pragmatik universal dan transformasi masyarakat telah membawa pengaruh besar di Eropa dan pengaruh yang sedemikin besar di Amerika Serikat. Teorinya beranjak dari pelbagai pemikiran dan menampilkan sebuah pandangan kritis yang koheren tentang komunikasi dan masyarakat.

Habermas mengajarkan bahwa masyarakat harus dipahami sebagai campuran dari tiga kepentingan besar: pekerjaan, interaksi, dan kekuasaan. Ketiga kepentingan tersebut, memang dipandang perlu.

Pekerjaan, kepentingan besar yang pertama, terdiri atas usaha-usaha guna menciptakan sumber daya material. Karena sifat­nya yang sangat instrumental -- menyelesaikan tugas-tugas yang terlihat mencapai sasaran-sasaran yang konkret -- pekerjaan pada dasarnya merupakan sebuah "kepentingan teknis". Ia meliputi sebuah rasionalitas instrumental dan diwakili oleh ilmu-ilmu yang bersifat empiris-analitis. Dengan kata lain, teknologi digunakan sebagai sebuah instrumen untuk mencapai hasil-hasil praktis dan didasarkan pada penelitian ilmiah. Ia merancang komputer, memba-ngun jembatan, menempatkan satelit di orbit, mengatur organisasi, dan memungkinkan perawatan-perawatan medis yang menakjubkan.

Kepentingan besar kedua adalah interaksi, atau penggunaan bahasa dan pelbagai sistem simbol lainnya dari komunikasi. Karena kerjasama sosial diperlukan untuk kelangsungan hidup. Habermas menamai item kedua ini sebagai "kepentingan praktis". Ia melibat­kan pemikiran praktis dan diwakili dalam ilmu sejarah dan herme­neutics. Kepentingan interaksi dapat dilihat dalam pembicaraan, konperensi, psikoterapi, hubungan keluarga, dan banyak usaha lainnya yang mengandung kerjasama.

Kepentingan besar ketiga adalah kekuasaan. Tatanan sosial umumnya mengarah kepada distribusi kekuasaan, meskipun seperti dikatakan Littlejohn, kita juga ingin dibebaskan dari dominasi. Kekuasaan mengarah pada komunikasi yang menyimpang, tetapi dengan mewaspadai ideologi-ideologi yang mendominasi dalam masyarakat, kelompok-kelompok dapat diberdayakan untuk mentrasformasikan masyarakat. Akibatnya, kekuasaan merupakan sebuah self-reflection, dan cabang ilmu yang berhubungan dengannya adalah teori kritis. Selanjutnya, tabel 2.1 merangkum kepentingan-kepentingan dasar pekerjaan, interaksi, dan kekuasaan, sebagaima­na telah diuraikan di atas.



Tabel 2.1

‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑

TIGA KEPENTINGAN MASYARAKAT

‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑

Tipe Sifat Kepentingan Rasionalitas Ilmu yang Terkait

‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑

Pekerjaan Teknis Instrumental Ilmu-ilmu empiris

Interaksi Praktis Praktis Sejarah/Hermeneutics

Kekuasaan Emansipatif Self-Relflec- Teori Kritis

tion

‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑


Selanjutnya, tradisi besar lain dari studi-studi kritis, selain Aliran Frankfurt adalah apa yang oleh Littlejohn (1996: 234) disebut sebagai Studi-studi Budaya (Cultural Studies). Studi-studi Budaya melibatkan penelitian-penelitian mengenai cara-cara budaya dihasilkan melalui perjuangan antara ideologi-ideologi.

Dalam orientasinya, tradisi budaya bersifat reformis. Para ilmuwan ini ingin melihat perubahan-perubahan dalam masyarakat Barat, dan mereka memandang ilmu mereka sebagai sebuah perjuangan budaya sosialis (asal-usul tradisi ini, menurut Littlejohn, biasanya ditelusuri sampai tulisan-tulisan dari Richard Hoggart dan Raymond Williams di tahun 1950-an, yang meneliti kelas peker­ja di Inggris setelah Perang Dunia II). Mereka meyakini bahwa perubahan tersebut akan terjadi dalam dua cara: (1) melalui identifikasi kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat, resolusi yang akan mengarah pada perubahan yang positif dan bukannya menekan, dan (2) dengan memberikan interpretasi yang akan memban­tu orang memahami dominasi dan jenis-jenis perubahan yang dike­hendaki. Samuel Becker menggambarkan sasaran mereka sebagai "membalikkan baik audiens dan para pekerja dalam media dari terlalu menerima ilusi-ilusi mereka atau praktek-praktek yang ada sehingga mereka akan mempertanyakan dan kondisi-kondisinya".

Dalam pandangan Littlejohn, studi komunikasi massa merupakan sentral bagi penelitian ini, karena media dipandang sebagai alat yang kuat dari ideologi yang dominan. Selain itu, media memiliki potensi untuk membangkitkan kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah kelas, kekuasaan, dan dominasi. Tetapi menurut Little­john, kita harus berhati-hati dalam menginterpretasikan studi-studi budaya dalam hal ini, karena media merupakan bagian dari kumpulan kekuatan instutusional yang jauh lebih besar. Media adalah penting, tetapi mereka bukan satu-satunya hirauan dari para ilmuwan ini, sehingga mereka merujuk bidang-bidang mereka lebih sebagai "studi-studi budaya" ketimbang "studi-studi media".

Kemudian, Studi-studi Feminis (Feminist Studies), merupakan tradisi besar lainnya lagi dari studi-studi kritis. Studi-studi feminis merupakan sebuah sebutan generik bagi sebuah perspektif yang menggali pengertian dari jenis kelamin dalam masyarakat. Para teoretisi feminis telah mengamati bahwa banyak aspek dalam kehidupan "dibagi menurut jenis kelamin", yang berarti bahwa mereka dialami menurut pengertian maskulin dan feminin. Ini meliputi tidak hanya seks secara biologis, tetapi juga hampir semua sisi kehidupan manusia, termasuk bahasa, pekerjaan, peran-peran keluarga, pendidikan, dan sosialisasi. Pembahasan feminis bertujuan untuk mengekspos kekuatan-kekuatan dan batasan-batasan dari bagian dunia berdasarkan jenis kelamin ini.

Banyak teori feminis memberi penekanan pada sifat mengekang dari hubungan jenis kelamin di bawah dominasi patriarki. Dengan sendirinya, feminisme dalam banyak hal merupakan sebuah studi tentang distribusi kekuasaan di antara jenis-jenis kelamin.

Teori feminis dimulai dengan asumsi bahwa jenis kelamin merupakan sebuah kategori umum dari pengalaman. Jenis kelamin adalah sebuah konstruksi sosial yang, meskipun bermanfaat, telah didominasi oleh bias kaum pria dan secara khusus bersifat menge­kang terhadap kaum wanita. Teori feminis bertujuan untuk menen­tang asumsi-asumsi yang berlaku tentang jenis kelamin di masyara­kat dan untuk menemukan cara-cara yang lebih liberal bagi wanita dan pria untuk eksis di dunia.
Kritik feminis, seperti dikatakan Littlejohn, sudah semakin populer dalam studi komunikasi. Para ilmuwan komunikasi feminis meneliti cara-cara bagaimana bias bahasa kaum pria mempengaruhi hubungan antarjenis kelamin, cara-cara bagaimana dominasi kaum pria telah membatasi komunikasi bagi wanita, cara-cara bagaimana kaum wanita telah mengakomodasi dan menolak pola-pola pembicaraan dan bahasa kaum pria, kekuatan-kekuatan dari bentuk-bentuk komu­nikasi kaum wanita, dan hirauan-hirauan lainnya yang serupa (Littlejohn, 1996:237-238).