Jumat, 10 Juni 2011

SISTEMATIKA ETIKA

Apa itu sistematika? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistematika berarti pengetahuan mengenai klasifikasi (penggolongan) (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995:951). Jadi, sistematika etika kita maksudkan sebagai pengetahuan mengenai penggolongan etika.

Dalam etika, Aristoteles (384 - 332 SM) dapat dianggap sebagai seorang ahli sistematik: secara panjang-lebar ia menguraikan tentang teori barang, tapi terutama pula teori kebajikan. Dalam pada itu terjadilah sedikit kekacauan karena ada dua pertanyaan yang tidak dipisah-pisahkan dengan jelas, yakni: "apakah baik?" (wat is goed?) dan "apakah barang" (wat is een goed) (Langeveld, tanpa tahun: 204-205).

Karena itu, tidak berlebihan jika Schumacher dalam salah satu bukunya Keluar dari Kemelut mengatakan, "Di dalam keseluruhan filsafat, tak ada mata pelajaran yang lebih kacau, ketimbang etika. Setiap orang yang meminta bimbingan tentang bagaimana sebaiknya ia bertingkah laku dan datang kepada para profesor etika, tak akan mendapatkan sesuatu pun, kecuali banjir 'pendapat'. Dengan sedikit kekecualian, mereka memulai suatu penyelidikan mengenai etika tanpa sebelumnya mendapat kejelasan tentang maksud manusia hidup di bumi" (dalam Zubair, 1990:140).

Apa yang dimaksud Aristoteles dengan dua pertanyaan "apakah baik?" dan "apakah barang?" yang tidak ia pisahkan, dengan ringkas dapat dikatakan, bahwa baik itu bisa menjadi sikap, cita-cita, maksud orang. Akan tetapi barang-barang itu ialah objek-objek yang ditujunya, yang diingini atau ditolaknya. Dikaguminya atau diabaikannya. Teori barang pertama-tama memeriksa pelbagai objek yang dituju manusia yang bercita-cita dan nilai-nilai apakah yang dikandung oleh objek-objek itu. Baru sesudah itu tindakan subjek menjadi soal, baik atau buruk sekadar kelakuannya lebih atau kurang tepat akan mencapai barang-barang ("barang-barang nilai") itu. Jadi, "baik" itu adalah usaha yang tertuju kepada dilaksanakannya barang-nilai yang positif. Akan tetapi teori kebajikan justru pertama-tama berurusan dengan perbedaan-perbedaan nilai antara pelbagai tingkah laku subjek-subjek dan hanya mencampuri barang-barang sebanyak mereka itu sebenarnya adalah objek-objek yang dituju perbuatan-perbuatan. Dari teori barang, timbullah teori tujuan-tujuan berharga atau pendeknya: teori nilai; segera timbullah pula persoalan tentang perhubungan antara nilai-nilai itu.

Kita biarkan persoalan ini hingga di sini saja untuk berpindah ke pokok bahasan tentang sistematika etika.

Etika, sebagaimana disinggung pada bab satu, ialah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan (moral). Ini berarti, etika membicarakan kesusilaan secara ilmiah. Dalam kaitan ini, para ahli filsafat umumnya mengadakan penggolongan yang boleh dikata relatif sama. Meski di sana-sini kita masih melihat beberapa perbedaan, namun dari perbedaan-perbedaan itu masih dapat kita temukan adanya "benang merah".

Dalam bukunya Pengantar Etika, De Vos (1987:7-14) membagi etika ke dalam "etika deskriptif" dan "etika normatif". Selanjutnya guru besar dan ilmuwan terkemuka dari Groningen-Belanda ini membagi lagi etika deskriptif ke dalam dua bagian, yaitu bagian pertama "sejarah kesusilaan", dan bagian kedua "fenomenologi kesusilaan".

Sementara itu, Bertens (1993:15-22) mengikuti pembagian atas tiga pendekatan, yaitu: "etika deskriptif", "etika normatif", dan "metaetika". Ia kemudian membagi lagi etika normatif ke dalam "etika umum" dan "etika khusus".

Kemudian, Magnis-Suseno, dkk (1991:6-8) membuat skema menge­nai sistematika etika dengan pembagian sebagai berikut. etika dibagi ke dalam "etika umum" dan "etika khusus". Etika khusus dibagi lagi menjadi "etika individual" dan "etika sosial". Etika sosial dibagi ke dalam: sikap terhadap sesama, etika keluarga, etika profesi, etika politik, etika lingkungan hidup, dan kritik ideologi-ideologi. Etika profesi dibagi ke dalam: biomedis, bisnis, hukum, ilmu pengetahuan, lain-lain.

Dari ketiga pendapat di atas, maka kita bisa melihat skema sistematika etika dengan gambaran yang lebih lengkap, sebagaimana terlihat di bawah ini.

SEJARAH KESUSILAAN

ETIKA DESKRIPTIF

FENOMENOLOGI KESUSILAAN

ETIKA UMUM

prinsip

ETIKA ETIKA NORMATIF moral dasar

ETIKA INDIVIDUAL

ETIKA KHUSUS

terapan

ETIKA SOSIAL

METAETIKA

Skema 1: Sistematika Etika

Sumber : Diadaptasi dari De Vos (1987); Bertens (1993); Magnis-

Suseno, dkk (1991).

SIKAP TERHADAP SESAMA BIOMEDIS

ETIKA KELUARGA BISNIS

ETIKA PROFESI HUKUM

ETIKA SOSIAL ILMU PENGETAHUAN

ETIKA POLITIK LAIN-LAIN

ETIKA LINGKUNGAN HIDUP

KRITIK IDEOLOGI-IDEOLOGI