Jumat, 10 Juni 2011

ETIKA DAN AKHLAK

Secara bahasa, kata "akhlak" berasal dari bahasa Arab khalaqa. Kata asalnya khuluqun (jamak), yang artinya perangai, tabiat, budi pekerti, atau tingkah laku (Saefuddin, dkk., 1987:200; Ya'qub, 1988:11). Kata ini mengandung segi-segi perse­suaian dengan perkataan khalqun, yang berarti "kejadian," serta erat hubungannya dengan khaliq yang artinya "pencipta," dan makhluq yang berarti "yang diciptakan".

Perumusan pengertian "akhlak" timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara Khalik dengan makhluk dan antara makhluk dengan makhluk.

Ada dua kata yang sama hurufnya tetapi berbeda arti karena berbeda bunyinya, yaitu khalq yang berarti penciptaan luar, dan khuluq yang berarti penciptaan dalam atau kualitas dalam. Karena manusia terdiri dari lahir dan batin, maka kesempurnaan orang apabila tindakan lahirnya dapat dibimbing oleh batinnya.

Kata akhlak ini juga sering diartikan dengan etika dan juga dengan moral. Dengan demikian yang dimaksud dengan akhlak ialah suatu daya yang positif dan aktif yang diperoleh orang untuk mengalihkan situasi batinnya (tendensi naturalnya) kepada kualitas moral (Ali, 1987:371).

Jadi, jika ada sementara orang yang berpendapat bahwa etika sama dengan akhlak, maka persamaan itu memang ada, karena keduanya membahas masalah baik-buruknya tingkah laku manusia. Tujuan etika dalam pandangan filsafat ialah mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia di setiap waktu dan tempat tentang ukuran tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran manusia. Namun, dalam usaha mencapai tujuan tersebut etika mengalami kesulitan, karena pandangan masing-masing golongan di dunia ini tentang baik dan buruk mempunyai kriteria yang berlainan. Dengan kata lain,masing-masing golongan memiliki konsepsinya sendiri.

Etika sebagai cabang filsafat pada dasarnya bertitik tolak dari akal pikiran, tidak dari agama. Di sinilah letak perbedaannya dengan akhlak. Jika akhlak kita namakan sebagai ajaran moral agama, maka perbedaan antara etika dan ajaran moral agama dalam pandangan Magnis-Suseno, dkk (1991:5) ialah bahwa etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata-mata, sedangkan agama pada wahyunya sendiri. Oleh karena itu ajaran moral agama hanya terbuka pada mereka yang mengakui wahyunya. Dalam Islam, wahyu Allah adalah suatu informasi "kegaiban" yang tidak bisa diramalkan sebelumnya oleh manusia (Saefuddin, dkk., 1987:51-52). Wahyu datang dengan berbagai cara atau tanda yang, pada hakikatnya, adalah bahasa: bahasa nyata (ucapan) dan bahasa tidak nyata (ibarat). Seorang Nabi, yang dilengkapi dengan daya penangkap vision (penglihatan spiritual) yang tajam, mampu mem­proyeksikan makna dalam benaknya, dan kemudian direfleksikan dalam ucapan dan tindakan. Pengalaman ini hanya bisa didapat oleh seorang Nabi.

Pengalaman wahyu, dalam artian "informasi kegaiban", tidak bisa diserap hanya dengan daya indera, dan tidak bisa diserap dalam suasana normal (sadar), tapi dalam suasana trance (keadaan setengah sadar). Hal ini berarti, bahwa seorang Nabi berada dalam proses penerimaan antara sadar dan mimpi. Dalam pengalaman, para Nabi hampir mengalami proses ini. Kesadaran-wahyu muncul ketika peristiwa, atau objek, sudah berlalu. Dan Nabi Muhammad mengalami dua bentuk proses wahyu itu. Malaikat Jibril adalah hanya sebagai "instrumen", atau alat penghubung, antara Allah dan sang Nabi. Malaikat Jibril adalah suatu sistem "bahasa" untuk menghubungkan kesadaran rasional dengan kesadaran spiritual, sehingga informasi ketuhanan dalam wujud wahyu dapat diserap. Dan secara spiritual, Nabi memang dipersiapkan untuk menerima wahyu.

Karena itu Islam menegaskan bahwa ajaran-ajarannya bukan berasal dari pribadi Rasulullah saw, melainkan wahyu yang diturunkan Allah kepadanya.

Wahyu itu ada beberapa macam. Mengenai hal ini Allah swt telah berfirman: "Dan tiada seorang manusia pun yang diajak bicara oleh Allah kecuali melalui wahyu atau di belakang tabir, atau Allah mengutus utusan (malaikat) dan mewahyukan apa yang dikehendaki-Nya seizin Allah" (QS Asy-Syura: 51). Maksud istilah "di belakang tabir" pada ayat tersebut oleh Ahmad Amin ditafsirkan: seorang Nabi dapat mendengar kalam Ilahi, tetapi ia tidak mungkin dapat melihat-Nya, sebagaimana dialami oleh Nabi Musa as (Amin, 1987:63).

Ada jenis wahyu yang lain lagi, yang tidak dikhususkan bagi para nabi dan rasul dan tidak pula bagi manusia lainnya, tetapi binatang dengan nalurinya dapat menerima wahyu dari Allah swt, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Quran: "Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah: 'Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon dan di rumah-rumah yang didirikan manusia'" (QS An-Nahl: 68).

Setiap getaran hati yang mendorong manusia untuk berbuat kebajikan adalah inspirasi dari Allah. Inspirasi yang diperoleh para nabi dan rasul jauh lebih tinggi, yaitu berupa wahyu yang disampaikan kepada mereka melalui malaikat, seperti Malaikat Jibril yang diutus membawakan tugas Risalah-Nya kepada Nabi Muhammad saw, berupa ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Qudsyi.

Kemudian, dalam ajaran Islam juga ditegaskan bahwa sejak manusia pertama ada, Allah telah menurunkan agama sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi dalam perjalanan hidupnya. Dengan mengikuti ajaran agama itu, manusia akan dibawa dari suasana kegelapan menuju suasana yang terang-benderang. Perkataan yang terakhir ini, mengandung suatu indikasi, bahwa ajaran agama, jika diikuti secara benar, mampu menciptakan suasana kedamaian yang sesungguhnya (Mahendra, 1985:264).

Kembali ke soal akhlak, mengingat setiap agama mempunyai wahyunya sendiri, ajaran moral agama tidak memungkinkan sebuah dialog moral antaragama. Padahal, seperti dikatakan Magnis-Suse­no, dkk (1991:5), dialog itu penting dalam rangka pembangunan satu masyarakat yang adil dan makmur. Sedangkan etika, karena tidak berdasarkan wahyu melainkan semata-mata berdasarkan pertim­bangan nalar yang terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan pandangan dunia, memungkinkan dialog moral antaragama dan pandan­gan-pandangan dunia.

Seperti sudah disinggung, dalam pandangan Islam, akhlak ialah suatu ilmu pengetahuan yang mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk berdasarkan ajaran Allah swt dan Rasul-Nya. Kata "akhlak," itu sendiri sebenarnya tidak ditemukan dalam Al-Quran, yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata tersebut, yaitu khuluq, yang tercantum dalam Al-Quran surat Al-Qalam ayat 4. Ayat tersebut dinilai sebagai konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad saw sebagai rasul, yang artinya: "Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung" (QS 68:4).

Kata "akhlak," banyak ditemukan di dalam hadits-hadits Nabi Saw., dan salah satunya yang paling populer adalah yang diriwayatkan oleh Ahmad, "Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Berdasarkan pengertian bahasa di atas, yakni akhlak sebagai kelakuan, kita selanjutnya dapat berkata bahwa akhlak dan kelakuan manusia sangat beragam, dan bahwa firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Lail yang berbunyi: "Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti amat beragam" (QS 92:4), dapat menjadi salah satu argumen keanekaragaman tersebut. Keanekaragaman ini dapat ditinjau dari berbagai sudut, antara lain nilai kelakuan yang berkaitan dengan baik dan buruk, serta dari objeknya, yakni kepada siapa kelakuan itu ditujukan (Shihab, 1996:253-254).

Akhlak, atau sistem perilaku, terwujudkan melalui proses aplikasi sistem nilai/norma yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah. Berbeda dengan etika yang terbentuk dari sistem nilai/norma yang berlaku secara alamiah dalam masyarakat dan dapat berubah menurut kesepakatan dan persetujuan dari masyarakatnya pada dimensi waktu dan ruang tertentu. Sistem etika ini sama sekali bebas nilai dan lepas dari hablumminallah.