Jumat, 10 Juni 2011

ETIKA INDIVIDUAL DAN ETIKA SOSIAL


1. Etika Individual

Pada dasarnya, etika individual memuat kewajiban manusia terhadap diri sendiri. Ada sementara sosiolog yang berkeberatan memakai perkataan "individu" sebagai sebutan bagi manusia yang berdiri sendiri, "manusia perseorangan" (Lysen, 1984:8). F. Oppenheimer (1922), seperti dikutip Lysen, menamakan individu itu suatu paham yang sangat problematis. Dan seperti Bergson, ia, kata Lysen, mengemukakan pertanyaan, "Di mana mulainya dan di mana berakhirnya asas hidup individu itu?" Kemudian ia sampai kepada kesimpulan, bahwa dalam arti ilmu alam yang sebenarnya, individu itu hanya satu, yaitu seluruh kehidupan yang luas yang meliputi ruang dan waktu; dan dalam arti psikis baginya "indivi­du" itu, terlebih lagi dalam arti biologis, merupakan suatu paham yang sangat relatif dan gradual.

Dalam arti yang asli, kata "individu" yang diturunkan dari kata Latin, "individuum" itu berarti: yang tak terbagi. Jadi, sama halnya dengan perkataan "atom" yang berasal dari bahasa Yunani dan mempunyai arti demikian juga, maka kata "individu" tadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Bagi ahli-ahli ilmu alam sekarang, atom itu bukan lagi bagian benda yang terke­cil yang tak dapat dibagi, seperti anggapan para penyelidik dahulu. Meskipun demikian, mereka tetap bekerja dengan paham "atom" itu, dan pemecahan atom yang dulu dianggap tak terbagi itu, bagi mereka tidak mengandung pengertian yang bertentangan lagi (Lysen, 1984: 8-9).

Sama halnya dengan paham "individu" dalam ilmu-ilmu sosial, penyelidikan-penyelidikannya jarang atau tidak pernah mengenai manusia dalam keseluruhannya, yang terdiri atas daging dan darah itu, dan tambahan pula mempunyai kehidupan jiwa yang sangat majemuk. Hanya beberapa unsur dari manusia, terutama tabiatnya, yang memegang peranan dalam pergaulan hidup manusia.

Karena itu, perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak bisa dipisahkan satu sama lain dengan tajam, karena kewajiban terhadap diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan.

Menurut Bouman (1980:15), salah satu kekhilafan yang sangat umum ialah anggapan, bahwa manusia "menurut kodratnya" adalah egois dan bahwa ia mempunyai kebebasan yang sangat luas. Tiap orang mengenal "aku"-nya sendiri, tetapi sedikit orang yang menginsafi, betapa erat "aku" ini tergantung kepada "kita". Manusia baru menjadi manusia, karena hidup bersama dengan manusia yang lain. Juga pada waktu ia menyangka, bahwa ia menentang sekelilingnya sampai pada dasar jiwanya.

Dalam bukunya Psichology of Adjustment and Humanrelation­ships, Calhoun dan Acocella (1990:312-313) menjelaskan secara rinci soal pengaruh-mempengaruhi ini. Dikatakan, "... Anda mem­pengaruhi diri sendiri dari dalam ketika anda sedang dipengaruhi dari luar. Anda memilih tekanan sosial diri anda sendiri. Konsek­uensinya, meskipun kekuatan pengaruh sosial besar sekali, anda dapat memperoleh kebebasan pada tingkat tertentu."

Pengaruh sosial pada dasarnya terjadi sewaktu kita berpikir atau bertindak sebagai tanggapan terhadap tindakan sebelumnya dari orang lain. Bagaimana penyesuaian diri kita dipengaruhi oleh proses pengaruh sosial langsung yang sangat kuat: peneladanan, pencocokan, dan pembujukan? Satu kemungkinan jawabannya ialah bahwa pengaruh ini merupakan ancaman terhadap penyesuaian yang baik tersebut; pengaruh itu menyusup ke dalam prinsip kita dan merusak kejujuran dan kemandirian kita (Ibid: 310).

Sikap ini sangat tunduk terhadap pengaruh sosial. Sikap merupakan sekumpulan keyakinan dan perasaan yang melihat mengenai objek tertentu, serta kecenderungan untuk bertindak terhadap objek tersebut dengan suatu cara tertentu. Sikap memungkinkan memiliki tiga fungsi penting dalam kehidupan sosial: mengorgani­sasikan pengalaman kita , menegaskan keinginan kita terhadap persetujuan orang lain, dan melindungi harga diri kita. Sikap datang dari pengalaman pribadi, pemindahan emosi yang menyakit­kan, serta pengaruh sosial, orang tua, teman sebaya, dan media massa merupakan sumber penting dari pengaruh dalam pembentukan sikap.

Ada tiga proses utama di mana orang bisa dipengaruhi. Perta­ma adalah pengambilan model, meliputi mempelajari perilaku baru melalui jalan meniru orang lain. Peneladanan adalah bentuk bela­jar yang agak khusus karena tidak bergantung kepada penguatan eksternal. Semakin kuat orang itu, dan semakin memberi penghar­gaan serta semakin mirip orang itu dengan si pengamat, maka semakin mungkin dia dipilih sebagai teladan bagi si pengamat. Seperti alasan beberapa ahli teori, jika perilaku dapat menimbul­kan sikap, maka kita bisa menganggap bahwa sewaktu kita mempela­jari perilaku baru termasuk peneladanan, sikap yang baru akan menyusul.

Proses kedua dari pengaruh sosial adalah pencocokan. Menco­cokkan berarti mengubah keyakinan atau perilaku sesorang supaya sama dengan keyakinan dan perilaku kelompok. Dalam istilah sosi­ologi, kelompok merupakan kumpulan individu yang mempunyai tujuan yang sama, bertindak sesuai dengan peran masing-masing satu sama lain, dan berinteraksi sesuai norma bersama. Penelitian Solomon Asch, seperti dikutip Calhoun dan Acocella, menunjukkan kekuatan kecenderungan kita untuk melakukan pencocokan. Teori perbandingan sosial dari Festinger menyatakan bahwa pencocokan tersebut mung­kin merupakan sebagian dari akibat kebutuhan orang untuk menegas­kan pendapat mereka dengan membandingkannya dengan pendapat orang lain. Pencocokan dapat pula dikatakan konsekuensi dari kebergan­tungan kita kepada orang lain. Ciri-ciri tertentu dari kelompok, masalah yang harus diputuskan, dan individu membantu kemungkinan terjadinya pencocokan.

Pembujukan, penggunaan pengaruh yang disengaja melalui penyampaian informasi, merupakan proses ketiga dari pengaruh sosial. Ciri-ciri tertentu komunikator, pesan, dan komunikan adalah penting dalam menentukan efektivitas pembujukan.

Bentuk khusus dari pembujukan disebut propaganda, yang meliputi penggunaan informasi yang tidak benar untuk maksud kepentingan diri sendiri. Perbedaan antara propaganda dan pembu­jukan biasa, tidak jelas batasnya. Propaganda bersifat manipula­tif, tetapi pembujukan, juga demikian dalam tingkat tertentu.

Penyesuaian kita dengan jelas dipengaruhi oleh kekuatan proses pengaruh langsung yang kuat. Kita tidak dapat dan tidak akan mencoba menghindari proses tersebut seluruhnya, namun kita tidak boleh membiarkan diri kita dikendalikan tanpa daya oleh proses itu. Reaksi balik psikologis, penarikan kita kembali dari pengaruh yang mengancam kebebasan kita, memilih, dapat berfungsi sebagai tanda bahwa pengaruh sedang mendesak kita. Kita akan memberikan tanggapan terhadap tanda ini dengan melakukan pendeka­tan aktif terhadap pengaruh -- yaitu, mempertimbangkan dan kemu­dian memilih atau menolak pengaruh itu.

Akhirnya, mengapa etika individual dan etika sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena kita harus selalu mengaitkan hal ini kepada konsep diri. Konsepsi Mead, misalnya, mengenai diri mengacu, dalam arti sepenuhnya, pada kesalingtergantungan antara individu dengan masyarakat. Ia menempatkan diri di dalam masyarakat. Diri muncul dari interaksi dengan orang lain di dalam masyarakat (Karp dan Yoels, dalam Sunarto, Kamanto, ed., 1985:113).


2. Etika Sosial

Pada dasarnya etika sosial membicarakan tentang kewajiban manusia sebagai anggota umat manusia. Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia, baik secara langsung maupun dalam bentuk kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadap pandangan-pandangan dunia dan ideologi-ideologi maupun tanggung jawab manusia terhadap lingkungan hidup (Magnis-Suseno, dkk, 1981:8).

Sedikitnya, ada dua masalah yang timbul dalam etika sosial (Zubair, 1990:105). Pertama, tujuan etika itu memberitahukan bagaimana kita dapat menolong manusia dalam kebutuhannya yang riil dengan cara yang susila dapat dipertanggungjawabkan. Guna mencapai tujuan ini, seorang etikus sosial tidak hanya harus tahu norma-norma susila yang berlaku, melainkan ia harus tahu pula kebutuhan tersebut tadi, dan sebab-sebab timbulnya kebutuhan itu.

Masalah kedua, dalam etika sosial lebih mudah timbul beragam pandangan dibandingkan etika individual. Norma-norma harus selalu diterapkan pada keadaan yang konkret, setiap norma menjelmakan kewajiban. Kewajiban yang paling umum itu melakukan kebaikan.

Dalam kenyataan terbukti bahwa tidak hanya ada satu kewaji­ban, melainkan pelbagai kewajiban. Sebabnya, di dunia ini tidak hanya satu, tetapi ada beragam norma. Wajib yang beragam itu tidak terlepas satu sama lain, tetapi bersatu dan berkaitan dan membentuk sistem hirarki norma. Inilah yang dicoba untuk memecah­kan persoalan apabila ada benturan norma atau benturan kewajiban. Pengetahuan dan kesadaran terhadap hirarki mana yang lebih tinggi sangat diperlukan dalam rangka ini.

Dalam kehidupannya, secara pribadi dan sosial, manusia memerlukan sejumlah tujuan yang nonmaterial. Setiap sistem kema­syarakatan memerlukan sejumlah tujuan yang jamak di antara para individunya, yang tanpa itu kehidupan sosial, dalam pengertian yang sebenarnya, tidak akan mungkin. Karena, kehidupan sosial berarti kerjasama dan usaha mencapai tujuan-tujuan bersama, baik material maupun spiritual.

Tujuan bersama dari sebagian manusia mungkin adalah materi­al, seperti perusahaan-perusahaan dagang dan industri, yang dibentuk oleh sejumlah orang yang menyediakan modal, dan yang lainnya menyediakan tenaga kerja.

Namun, menurut Mutahhari (1987:66), masyarakat manusia tidak dapat dikelola seperti sebuah perusahaan, karena basisnya sangat berbeda dengan perusahaan dagang. Sementara orang lain seperti Bertrand Russell, dalam pandangan Mutahhari, menganggap basis etika sosial hanyalah suatu kepentingan individual. Mereka meman­dang etika sosial sebagai semacam kontrak antarindividu, yang mereka junjung tinggi sebagai alat yang paling baik untuk melin­dungi kepentingan mereka.

Untuk menggambarkan maksudnya, lanjut Mutahhari, Russell memberikan contoh seperti berikut. Ia berkata: "Saya ingin memi­liki sapi milik tetangga saya, tetapi saya tahu bahwa bila saya melakukannya, ia akan merampas milik saya, dan tetangga lain pun mungkin akan berbuat demikian. Jadi, saya bukannya mendapat keuntungan, tetapi malahan menderita kerugian. Maka saya pikir, lebih baik saya menghormati hak miliknya, dan membiarkannya tetap memiliki sapinya, supaya saya pun dapat tetap memiliki kepunyaan saya."

Russell percaya bahwa basis etika sosial adalah penghormatan terhadap hak-hak individual. Kita, ujar Mutahhari, dapat mengata­kan bahwa perampok pun mempunyai hubungan semacam itu, ketika bersepakat untuk merampok dan memaksakan suatu jenis keadilan di antara sesama mereka, karena mereka tidak dapat bertindak sen­diri-sendiri. Itulah filsafatnya. Motonya humanitarian, cinta kasih kepada sesama makhluk. Tetapi filsafatnya berlawanan dengan itu. Dengan memandang kepentingan diri sendiri sebagai basis etika sosial, kita akan menganggap seorang individu terpaksa bekerja sama dengan orang-orang lain, karena ia takut akan reaksi orang lain itu, apabila mereka mempunyai kekuasaan dan kekuatan yang serupa. Tetapi, apabila seseorang mencapai suatu tahap di mana ia yakin bahwa orang-orang lain terlalu lemah untuk dapat menyakitinya, maka tidak akan ada perlunya memenuhi prinsip-prinsip moral itu. Demikian kata Murthada Mutahhari.
selanjutnya, pembahasan mengeni etika sosial ini dibatasi pada bidang-bidang yang, menurut Magnis-suseno, dkk (1991:8), sekarang ini paling aktual. Bidang-bidang yang dimaksud, melipu­ti: sikap terhadap sesama, etika keluarga, etika profesi, etika politik, etika lingkungan hidup, dan kritik ideologi-ideologi. Pembahasan keenam bidang tersebut berikut ini hanyalah sebagai pengenalan singkat, yang untuk selanjutnya diperlukan pembahasan tersendiri secara lebih komprehensif.