Jumat, 10 Juni 2011

PROFESI KEWARTAWANAN 3

E. Persyaratan menjadi Wartawan yang Baik
Apakah syarat yang yang penting untuk menjadi seorang wartawan? Pertama sekali, kata Adolph S. Ochs, cinta pada pekerjaan wartawan, rajin, melaksanakannya, dan terutama sekali, punya hati nurani. Di dalam sebuah kantor surat kabar, pujian yang terbesar yang dapat diberikan kepada wartawan ialah jika ia disebutkan sebagai seorang pekerja yang berhati nurani (Coblentz, 1961:23). Dalam pandangan William Randolph Hearst (1961), seorang wartawan yang berhati nurani harus memenuhi pikiran-pikirannya sendiri mengenai kebenaran dan keadilan, dan harus menyesuaikan dirinya pada nilai-nilai tinggi yang telah dibina publik untuk dirinya.
Soal hati nurani ini memang merupakan sesuatu yang penting bagi kehidupan pers pada umumnya, dan profesi wartawan khususnya. Mengapa? Sebab dengan dalih "kebebasan pers", tidak sedikit wartawan yang "terjang sana terjang sini". Ada wartawan yang melakukan sepak terjang secara "membabi buta" itu demi kepentingan pribadinya dan demi kepentingan bisnis persnya; sementara ada pula yang sekadar untuk menunjukkan eksistensinya dan ingin disebut sebagai "pejuang". Ingin mendapat julukan sebagai "pers pemberani".
Masyarakat, di negara mana pun, tidak menginginkan pers yang bebas sebebas-bebasnya. Itu sebabnya bagi wartawan yang beragama, dan juga hakikatnya manusia, sebenarnya tidak ada "kebebasan" dalam arti bisa bertingkah-laku sebebas-bebasnya. Agama mengatur kehidupan ini supaya tertib. Tiada seorang pun atau pihak mana pun yang dirugikan atau ditindas.
Dalam konteks negara kita, memang pers Indonesia mempunyai kode etik dan memiliki aturan serta hukum lainnya. Namun itu pun sebenarnya belum cukup. Sebab, masih kerap terdengar adanya pelanggaran atas kode etik. Masih sering terdengar adanya sumber berita yang menjadi korban akibat ulah wartawan.
Yang terpenting, untuk menjunjung tinggi kode etik serta ketentuan lainnya, berpulang kembali kepada hati nurani insan pers masing-masing. Hati nurani yang bisa menyaring suatu berita yang layak muat, namun urung memuatnya karena pertimbangan kemanusiaan atau pertimbangan lainnya. Pertimbangan yang lebih bernilai ketimbang keuntungan bisnisnya atau predikat "pemberani" yang akan diterimanya.
Prof. Onong Uchjana Effendy, sebagaimana dikutip Pikiran Rakyat dalam tajuknya, mengungkapkan, "Seorang wartawan harus memiliki hati nurani jurnalistik (journalistic conscience). Mau mempertanyakan sebuah berita dengan ukuran dirinya sendiri atau keluarganya sendiri yang terlibat dalam berita tersebut. Bagaimana kalau tersangka itu anak kita? Ini contoh. Dengan demikian berita yang ditulis benar-benar sebuah berita yang sudah dipikirkan dalam berbagai aspek dengan cara yang bijaksana" (Pikiran Rakyat, 9 Februari 1994).
Hati nurani adalah pengertian naluri manusia tentang baik- buruk, benar-salah, adil-tidak adil. Sebuah motivasi hidup manusia yang perwujudannya dalam perbuatan-perbuatan merupakan usaha manusia mengembangkan pribadinya dalam berkomunikasi secara vertikal dengan Tuhannya dan secara horisontal dengan sesamanya (Oetama, 1971:67).
Hati nurani yang normatif dan dinamis, yakni aspirasi, pada dasarnya merupakan ekspresi dari hasrat manusia untuk mengembangkan kepribadiannya dalam hidup bersama, maka juga berarti mengembangkan hidup bermasyarakat dalam negara.
Oleh karenanya, hati nurani sekaligus juga merupakan aspirasi manusia yang inheren dan fundamental. Aspirasi untuk hidup layak, untuk memperoleh pekerjaan, untuk ikut serta dalam kehidupan masyarakat, untuk dilindungi oleh hukum, untuk berpartisipasi dalam proses kekuasaan, sebagai salah satu bentuk dari lembaga kemasyarakatan.
Selain punya hati nurani, menurut Arthur Brisbane, seorang wartawan yang baik ialah yang dapat melihat sesuatu dengan jelas dan melukiskannya dengan sederhana.
Wartawan yang paling baik, dan jarang ada, kata Brisbane, ialah yang dapat mempertahankan dari tahun ke tahun, kesanggupan untuk merasa dengan kuatnya, dan menyatakan perasaan-perasaan yang dalam dengan tulisan-tulisannya.
John Hohenberg dalam bukunya The Professional Journalist, seperti dikutip Rosihan Anwar (1977:1), mengemukakan empat buah syarat ideal untuk menjadi wartawan yang baik, yaitu:
Pertama, tidak pernah berhenti mencari kebenaran; kedua, maju terus menghadapi zaman yang berubah dan jangan menunggu sampai dikuasai olehnya; ketiga, melaksanakan jasa-jasa yang berarti dan ada konsekuensinya bagi umat manusia; keempat, dan inilah yang paling penting, memelihara suatu kebebasan yang tetap teguh.
"Jikalau tujuan-tujuan ini tampaknya di luar jangkauan wartawan dalam suatu dunia yang tidak sempurna," demikian kata Prof. Hohenberg dari Universitas Columbia itu, "namun adalah sesuai dengan watak wartawan untuk berjuang ke arah tujuan-tujuan tersebut." Menurutnya, kendati semua kesalahannya dan kesalahan itu banyak, toh wartawan itu ditakdirkan mencoba yang tidak mungkin, yakni menemukan, mengumpulkan, menyusun, menjelaskan dan menyebarkan berita, gagasan-gagasan dan pendapat-pendapat hari itu kepada khalayak ramai yang kian bertambah. "Berhasil-tidaknya dia dapat diukur dari sampai seberapa jauh khalayak ramai mengetahui tentang urusan-urusan yang secara vital mengenai kepentingan-kepentingannya."
Siapa John Hohenberg? Ia adalah salah seorang di antara para pemenang Hadiah Pulitzer yang setiap tahun diberikan di Amerika terhadap siapa saja yang dianggap penulis berita terbaik, penulis tajuk terbaik, pembuat karikatur terbaik, penulis tinjauan politik terbaik, dan sebagainya (Arpan, 1970:63).
Syarat-syarat untuk menjadi wartawan yang baik itu selanjutnya masih bisa diperpanjang dengan berbagai pendapat lain. Duanne Bradley (dalam Anwar, 1996:3), dalam buku The Newspaper - Its Place in a Democracy, mengatakan bahwa wartawan yang baik harus memiliki sejumlah aset dan modal, yaitu pengetahuan, rasa ingin tahu, daya tenaga hidup (vitalitas), nalar berdebat, bertukar pikiran, keberanian, kejujuran, dan keterampilan bahasa.
Adinegoro (1961), salah seorang perintis pers Indonesia, menambahkan bahwa wartawan yang baik memiliki sejumlah sifat yang harus ditanam dan dipupuk seorang wartawan, yaitu: (1) Minat yang mendalam terhadap masyarakat dan apa yang terjadi dengan manusianya; (2) sikap ramah tamah terhadap segala jenis manusia dan pandai membawa diri; (3) dapat menimbulkan kepercayaan orang yang dihadapi; (4) kesanggupan berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia--lebih baik lagi jika menguasai berbagai bahasa asing; (5) memiliki daya-peneliti yang kuat dan setia kepada kebenaran; (6) memiliki rasa tanggung jawab dan ketelitian; (7) kerelaan mengerjakan lebih dari apa yang ditugaskan; (8) kesanggupan bekerja cepat; (9) selalu bersikap objektif; (10) memiliki minat yang luas (11) memiliki daya analisis; (12) memiliki sifat reaktif; (13) teliti dalam mengobservasi; (14) suka membaca; dan (15) suka memperkaya bahasa.
Pendapat lainnya lagi ialah seperti yang dikemukakan James Reston, editor-eksekutif surat kabar New York Times. Ia berkesimpulan, vitalitas merupakan kunci bagi kewartawanan yang sukses. Sementara, Owalter Cronkite, editor-pengelola dari CBS News menekankan betapa pentingnya kewaspadaan sebagai sifat utama kewartawanan. Ada yang bilang yang membikin seorang wartawan itu ialah nilai-nilai moral. Ada yang berkata, bukan itu, melainkan pendidikan yang tinggi mutunya. Ada yang percaya semangat persaingan yang menyala-nyala merupakan sifat wartawan. Ada yang menyebutkan suatu perasaan akan gaya, suatu sikap yang terbuka terhadap hal yang dramatik, suatu minat yang tiada padam untuk menggali kebenaran (Anwar, 1977:1-2).
Seorang wartawan yang baik, kata Mochtar Lubis (1963:67-68), haruslah dapat membikin laporannya sedemikian rupa, hingga beritanya menjadi hidup, dan pembaca dapat melihat apa yang ditulisnya seakan dia ikut melihatnya sendiri.
Dia juga, lanjut Lubis, harus membangun gengsi bahwa dia adalah seorang wartawan yang objektif, yaitu memperlakukan sama semua orang, tanpa pilih kasih. "Janganlah seorang wartawan menutup kesalahan kawan-kawannya sendiri, akan tetapi menyiarkan keburukan orang-orang lain yang bukan kawannya."
Jika dia berhasil membangun gengsi serupa itu, maka, kata Mochtar Lubis, hal ini akan amat memudahkannya melakukan kewajibannya.
Dalam pandangan Douglas Cater, editor The Reporter, wartawan yang baik percaya bahwa kemajuan (progress) datang melalui perdebatan dan kontroversi; ia percaya pada kekuatan-kekuatan membasuh membersihkan dari publisitas; ia musuh sejati dari kerahasiaan.
Menurut J. Casey dari Chicago Daily News, sifat-sifat yang harus dipunyai wartawan itu pertama-tama ialah dia harus punya "mata" dan "telinga". "Lidah" yang licin ada juga gunanya, meski tidak begitu penting, sebab bukan perkataan wartawan itu yang terpakai, tetapi perkataan orang lain. Dia mesti bisa berbicara langsung ke pokok soal walau tidak menutup kemungkinan bahwa ada orang yang tidak setuju dengan cara ini. Wartawan harus mengerti bahwa bagi setiap orang nama dan alamatnya adalah sangat penting untuk ditulis tanpa kesalahan. Dia mesti bisa melihat dan memahami latar belakang dari apa yang dilihatnya, dan dia juga mesti bisa menulis sebuah cerita sebagai kenyataan yang saling berhubungan, dan bukan kejadian yang terpisah-pisah.
Masih dari Chicago Daily News. Bagi Everet Norlander -- seorang redaktur-berita pada koran tersebut, kecakapan pertama yang harus dipunyai seorang wartawan ialah ketelitian. Semua yang lain nomor dua.
Sebuah gengsi ketelitian, ujar Norlander, adalah amat penting bagi sebuah surat kabar, dan ini bisa dibangun oleh wartawan yang teliti pula.
Di mata John Craig, Seorang wartawan yang baik selamanya tidak melupakan dasar pekerjaan wartawan -- siapa, apa, di mana, bilamana, serta mengapa. Dan ditambahnya pula dengan sebuah lagi -- ketelitian. Menurut mantan redaktur-kota Chicago Daily News ini, seorang wartawan yang baik tidak pernah percaya begitu saja.
Kecakapan lain, tambah Craig, ialah kesanggupannya untuk menimbulkan kepercayaan laki-laki dan perempuan yang merupakan sumber berita, dan menjaga agar tidak merusakkan kepercayaan itu.
Dia, kata Craig lagi, bisa menganalisis arti sejarah yang dilaporkannya kepada umum, dan menangkap bagian-bagian yang penting; dia bersedia melakukan pemeriksaan terus-menerus; dia merasa bangga terhadap pekerjaannya; dan dia mesti sungguh-sungguh merasa bahwa tidak ada lagi yang lebih penting di dunia ini selain dari pers yang cakap, yang adil, dan yang bebas. Dan jika dia memiliki pula kecakapan pikiran yang kuat yang dinamakan "nose for news", maka dia telah menjadi seorang wartawan yang baik. Dan jika Tuhan memberikan pula kepadanya kecakapan untuk menulis yang menarik dan bersuasana, maka dia lalu menjadi wartawan besar (Lubis, 1963:71-73).
Wartawan senior Indonesia, H. Rosihan Anwar, menambahkan, "Wartawan yang baik memerlukan keberanian, kejujuran, dan integritas yang mendalam." Menurut Anwar (1996:3-4), bila kejujuran mengatakan kepadanya bahwa kesejahteraan dan keselamatan umum yang sedang menjadi pusat perhatian serta taruhan, maka keberaniannya harus cukup besar untuk membuat dia bersikap gigih dan bertekun terus. Wartawan yang baik harus menguasai bahasa. Karena menulis adalah keterampilan mendasar dari wartawan, maka ia harus mampu memilih dan memperlakukan kata-kata dengan tepat dan bagus. wartawan yang baik memiliki perbendaharaan kata yang luas dan menggunakan kata-kata yang jitu maknanya, bukan cuma perkiraan.
"Era jurnalistik bertele-tele dan menulis dengan kembang-kembang telah lewat. Jurnalistik modern mempersyaratkan tulisan pendek, padat, ringkas, dan menarik. Membuat tulisan berita pendek tetapi cemerlang memang lebih sulit ketimbang terlalu panjang bergelemak-peak," jelas Anwar.
Kutipan-kutipan pendapat para ahli sebagaimana dikemukakan di atas menunjukkan, betapa untuk menjadi seorang wartawan yang baik itu memerlukan sedemikian banyak syarat. Semakin banyak syarat-syarat itu terpenuhi, maka semakin terbuka kesempatan bagi seorang wartawan yang baik itu untuk menjadi wartawan yang lebih baik lagi.